Halaman

Waktu menunjukkan

Pencarian

Jumat, 26 Juni 2009

Belajar Dewasa

Sebenarnya, udah agak lama dapat pencerahan ini. Tapi karena masih ada hubungannya dengan entri sebelumnya, nggak ada salahnya sih untuk menuliskannya di sini. Makasih buat Yeremia a.k.a. Ceri yang udah memberikan pencerahan. Di bawah ini adalah kutipan selengkapnya:

-----

Dasar dari sebuah relationship adalah KEDEWASAAN.

Tanpa kedewasaan, hubungan akan mudah diganggu oleh angin kecemburuan, badai kesibukan pribadi, topan keluarga, dan juga puting beliung yang bernama PERBEDAAN

Orang yang sudah dewasa adalah orang yang sudah mampu mengatur dirinya sendiri, bertanggung jawab atas perbuatannya, tahu yang benar dan yang salah, dan sudah punya visi ke depan mau mengerjakan apa.

Untuk yang belum dewasa, berarti belum waktunya untuk menjalin hubungan spesial. Inilah saatnya untuk mencari teman sebanyak-banyaknya, untuk mengenal luasnya dunia, sebelum dirimu ditaklukkan oleh bagian terlemah dari dunia ini.

Buat apa sih mati-matian mengejar status "jadian", kalau cuma mengisinya dengan pertengkaran.

Disarikan dari sini.

-----

Semoga aja yang seseorang disana bisa menemukan pencerahan setelah membaca tulisan ini. Meski kamu nggak pernah cerita soal ini, tapi kita sudah tahu kok ceritanya. Kamu bisa berkata nggak jujur sama kita, tapi kelakuan dan tingkahmu nggak bisa bohong. Kita lakuin semua ini karena kita sayang sama kamu. Kita pengen lihat kamu menjadi seorang yang dewasa, bukan yang kekanak-kanakan seperti sekarang ini ....

God Bless Us ....

Makasih Cer buat pencerahannya ... Two Thumbs Up, God Bless You Bro ....

Kamis, 25 Juni 2009

Find Someone

Iseng-iseng beredar di Facebook, eh nemuin tulisan Saras yang keren .... Setelah minta ijin sama yang punya untuk copy paste, akhirnya boleh deh buat disalin di sini. Ini kutipan selengkapnya

-----

Find Someone


Have you ever know, that finding a right person can be very difficult?
When you set standards and define a right person for you,
you will always end up disappointed.
Enjoy your life, keep giving love and care, be cautious,
but don't you ever rush a thing,
Just keep relax,
because somewhere, somehow,
God is preparing the right one for you.

Don't be in a hurry to get into a relationship,
because you can never find love if you insist that you are already into it.
Try to find some time to really understand your real feelings,
to know who you really are,
and what you really want in a relationship.

If you knew and felt that the relationship will not last, don't go deeper into it.
You'll just suffer the consequences and live like hell for the rest of your life.
It's really hard to say goodbye though,
but you can't make it any better by just pretending you still have the same feelings.
Right person is everywhere.
Just be cautious and smart.

Try to let go and give yourself a chance to live life to the fullest in a God's peace.
Give yourself a chance to grow and give your heart a much-needed attention.
Then you will find that you have made the right decision and you made it all by yourself.

Tulisan aslinya ada di sini.

-----

Nggak tahu kenapa, kok pas nemuin tulisan ini, kok hal semacam ini terjadi di sekelilingku. Ada seseorang di sana yang sedang bingung akan pencarian belahan jiwanya. Dan belum menemukan pencerahan, setidaknya sampai saat tulisan ini diterbitkan.

Aku yakin ini bukan kebetulan semata. Pasti ada suatu rencana yang indah untuk seseorang. Saras memberikan pencerahan, aku hanya ikut menyebarkan saja. Mungkin saja seseorang di sana akan mendapat pencerahan setelah membaca tulisan ini. Semoga saja ....

God bless Us ....

Makasih buat Saras atas tulisannya, God Bless You, Sistah .....

Selasa, 09 Juni 2009

Bukan Karcis Biasa ....

Buat kebanyakan orang, ini tiket nggak jauh beda dengan tiket kereta api lainnya. Kalau boleh dibilang, nggak ada istimewanya. Masih lebih bagus karcis edmondson, daripada karcis cetakan komputer ini.

Pas baca tulisan Pak Martin di sini yang punya karcis bersejarah, ternyata aku nyelengi tiket kenangan juga. Tiket ini yang nganter buat ketemu dia, untuk pertama kali, di Jogja.

Memang sih, kita nggak satu kereta. Aku pake KA 78, Lodaya Malam, dia bersama kakaknya dan rombongan, pakai KA 118 (kalau nggak salah) Senja Utama Yogyakarta. Hanya janjian ketemu di YK, terus kita punya rencana sendiri-sendiri. Aku pulang ke Magelang, dia pelesiran di Jogja dan sekitarnya

Pertama kali ketemu dia, berasa lempeng-lempeng aja, lha ngobrol aja belum pernah. Kenalnya cuma sama kakaknya, itupun baru pertama kali ketemu muka, biasanya cuma ngobrol lewat YM. Lagian kayaknya juga udah nggak bakal ketemu lagi, cukup sekali itu aja. Kalo sama kakaknya sih sempat ketemu lagi pas Trekking ke Tanjung Priuk.

Setelah sekian lama nggak ada kontak, eh tau tau ada kontak lagi sama dia. Mulai dari facebook, YM, sampai kopi darat. Jadi bertanya-tanya, apakah pertemuan yang YK itu suatu kebetulan? Atau bagian dari suatu rencana besar? Entahlah ... jalanin aja semuanya ....

np: The Beatles - Ticket to Ride

Rabu, 03 Juni 2009

Dagelan di tengah Kasus Ibu Prita

Belakangan ini, tema yang cukup menarik di jagad maya ini adalah sengketa antara Ibu Prita dengan RS Omni. Soal ceritanya gimana kok isa timbul sengketa, nggak usah dijelaskan panjang lebar di sini. Berbagai forum dan situs berita sudah mengulasnya.

Singkat cerita, Ibu Prita ditahan karena tuduhan pencemaran nama baik, hanya karena email atas keluhan pelayanan RS Omni. Yang bikin miris, Ibu Prita ini meninggalkan dua orang anak yang masih balita. Nggak heran, kalau banyak yang menaruh simpati buat beliau. Mulai dari masyarakat awan, kaum blogger, hingga capres.

Yang bikin ketawa, asli dagelan mataraman punya Basiyo maupun srimulat kalah lucu, isu ini sampai dipolitisir. Kalau mau baca, ada di sini. Lha kok tega-teganya memanfaatkan isu ini buat kampanye. Mbok kalau kampanye, jangan bawa-bawa masalah ini. Ndak mikir apa, gimana rasanya udah sakit, keluar duit banyak, masuk tahanan, jauh dengan anak, eh masih ditunggangi kepentingan politik sesaat.

Ah, sudahlah ... sing waras ngalah. Daripada ntar nulis panjang-panjang, eh ada yang nggak terima dengan apa yang saya tulis di sini. Buat yang ngerasa kesindir, jangan marah dulu, tulis tanggapan di bawah entri ini yah ........

Salam damai .......

Senin, 01 Juni 2009

Nyepeda ke Kantor

Nggak tahu kesambet setan dari mana, tiba-tiba aja kepengen nyepeda ke kantor. Maklum aja, setelah kantor pindah ke Terusan Sutami, boleh dibilang, sehari-hari mengandalkan si kuda jepang. Kalo gini terus, bisa-bisa kurang gerak deh. Yang ada penyakit pada antre mau masuk ke badan ini.

Terserah orang pada ngomong apa, mulai dari ikutan trend go green, cari sensasi, atau apapun, yang jelas ini cuma pengen olahraga aja. Lagian dari dulu emang udah demen sama yang namanya sepeda. Dulu yang jadi andalan Federal ijo. Mulai dari SD hingga lulus kuliah, si ijo selalu digenjot tiap liburan.

Kali ini yang jadi jagoan, si Polygon Zero. Rute berangkat pun lumayan menantang, penuh tanjakan. Apalagi sepanjang Surya Sumantri, tanjakannya nggak habis-habis. Lumayan lah buat perjalanan pertama, jarak 9.89 km dalam 33 menit.

Rute baliknya, lumayan ringan, dan jalurnya nggak banyak muter. Kalau diitung, hampir 7 km, dapat dilibas dalam 18 menit. Maklum, banyak turunan.

Yah, semoga aja bisa nyepeda tiap hari ke kantor. Meski belum ada temennya, kali aja dua tiga bulan lagi ada temennya ....

np: Queen - Bicycle Race

Kamis, 21 Mei 2009

Seandainya Ini Terjadi 20 Tahun Lalu ....

Beberapa waktu yang lalu, pas main ke stasiun Bandung, nggak sengaja bertemu seorang teman lama, Jim. Nggak jelas kenapa dia bisa nongol di Bandung, padahal setahuku saat ini udah kerja di Jakarta. Usut punya usut, ternyata si Jim punya tender yang dipo induknya di Bandung. Kalau pake bahasa negeri seberang, Long Distance Relationship.

Ngobrol soal tender, ternyata si Jim ini mengeluarkan keluh kesahnya, soal hubungan Jakarta - Bandung. Maklum, karena beda jarak 3 jam dengan kereta, dan gak mungkin bisa ketemu langsung tiap hari. Solusinya, mau nggak mau harus dijembatani dengan teknologi komunikasi modern semacam instant messenger, separah-parahnya pake SMS.

Jadi kebayang, gimana kalau hubungan jarak jauh macam ini terjadi 20 tahun lalu. Maklum aja, jaman segitu teknologi komunikasi belum secanggih jaman sekarang. Dekade 80-an, instant messenger dan hp belum ada di negeri ini. Telepon, belum banyak yang punya. Kalopun ada dan dipakai tiap hari, ongkosnya nggak nahan. Cara yang paling ngirit, ya pake surat lewat pos, atau kalau pengen mahal dikit, pake telegram.

Kalo, pakai telegram, lebih cepat sampai, tapi gak isa cerita banyak. Maklum, tarif dihitung per karakter. Makin panjang berita yang dikirim, makin mahal pula ongkosnya. Lagian jaman dulu kan berita telegram disampaikan lewat operator, jadi tingkat kerahasiaan turun dah.

Akhirnya, mau nggak mau lewat pos deh. Kerahasiaan lebih terjamin, tapi sayang, waktunya lumayan lama. Belum lagi kalau alamat yang dituju kurang jelas, bisa-bisa itu surat kembali ke si pengirim deh. Kalau pengen ngerti gimana rasanya LDR jaman dulu pake surat, coba aja dengerin lagunya Carpenters yang judulnya Please Mr. Postman.

Balik lagi ke cerita si Jim, kalau dia mengalami hal ini 20 tahun lalu, isa dibayangkan penantian kabar dari tendernya, yang dikirim lewat pos. Aku malah jadi mikir, mungkin nggak kalau suratnya dititipkan melalui masinis yang dinas Jakarta - Bandung. Bisa jadi ya, atas kebaikan pak masinis yang melayani relasi Gambir - Bandung, kabar dari tender bisa sampai ke tangan Jim, begitu juga sebaliknya, sesegera mungkin.

Kalo bener, kali aja si Jim menitipkan surat ke pak masinis yang melayani kereta ke Bandung paling pagi setiap hari Senin. Terus tendernya menanti kabar dari Jim yang dititipkan masinis kereta di ujung peron stasiun Bandung. Sang tender membalas kabar dari Jim setiap Jumat, dan dititipkan pada masinis yang melayani kereta paling akhir ke Gambir. Dan Jim menjemput surat itu di ujung peron Gambir. Uh ... pasti so sweet ngeliatnya ....

Huhuhu ... kalo emang bener ini kejadian dengan si Jim, menambah panjang lagi kisah romantis bersama kereta api. Kereta api yang menyimpan sejuta cerita ....

now playing: Maliq & d'Essentials - Dia

Minggu, 03 Mei 2009

Romantisme Kereta Api

Seorang teman, Wulan, pernah ngomong kalo stasiun kereta api merupakan tempat paling romantis di dunia. Entah apa yang pernah terjadi dengan dirinya sampai-sampai dia ngomong kaya gitu, tapi suasana romantis bak di adegan film sering ditemui di stasiun kereta api, terutama menjelang keberangkatan kereta api.

Seorang gadis yang melepas pria pujaan hatinya dengan penuh haru, yang meninggalkannya dengan menumpang si ular besi, seakan akan tidak berjumpa kembali di waktu yang akan datang. Atau seorang pria berlari di sisi kereta, seolah berlomba dengan kereta yang membawa kekasihnya, tapi sayang, larinya hanya sampai ujung peron.

Bukan hanya kisah romantis macam itu saja yang ditemui. Ada yang menemukan jodohnya karena sering berjumpa di kereta. Kata orang, witing tresno jalaran saka gerbong lima. Ada pula yang bertemu belahan jiwanya karena sama-sama menggemari kereta api. Yang tidak kalah uniknya, ada yang sengaja merancang acara pernikahan dengan nuansa kereta api.

Ketika melihat proses merangkai lokomotif dengan kereta, yang ada di kepalaku terbayang sepasang kekasih. Kereta yang telah tersambung dengan lokomotif, coupler terkunci, selang rem tersambung, dan rantai pengaman terikat mirip dengan sepasang insan yang telah mengucap janji suci berikrar sehidup semati, setia dalam suka maupun duka, susah maupun senang, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin.

Nggak tau kenapa kok bisa nulis kaya gini ... mungkin kelamaan bengong di stasiun, liatin kereta yang datang dan pergi, penumpang yang naik turun. Atau ada sesuatu yang salah denganku. Tak tahu lah ....

---------
Peron 4-5 Stasiun BD +709
030509 - 1210
now playing: Dave Koz feat India Arie - It Might Be You

Wish I Could Fly ....

Beberapa waktu lalu, bersama seorang teman iseng-iseng hunting foto di ujung runway 29 bandar udara Husein Sastranegara Bandung (BDO/WICC). Harapannya sih bisa dapet pesawat yang lagi final approach atau taxi di runway 29, kalau apes, ya cuma dapat yang lagi take off di runway 11.

Pas nunggu flight Indonesia AirAsia QZ 7597 BDO - KUL take off di runway 29, nggak tahu kesambet setan mana, tau-tau ngomong, "Cuy, kalo kita bisa terbang, enak ya ...?"

"Maksudnya?" jawabku dengan sangat bingung. Maklum, baru kali ini denger dia ngomong agak ngaco.

"Yah, tau sendiri kan cuy .... Aku kan sekarang lagi menjalin LDR. Kalo isa terbang, kan aku isa temui dia di mana aja, kapanpun aku mau, nggak peduli seberapa jauhnya."

Hmm ... bener juga kalo isa terbang, isa main ke mana aja .... Cuma yang jadi masalah, gimana buat take off clearancenya? Emang bisa gitu terbang seenaknya gitu? Terserah deh ....

Tau deh ... lha wong yang pengen orang lain, kok aku yang pusing. Yah, kalo orang sebelah KISS, Keep It Simple, Stupid!!! Tapi beneran, kayaknya asik deh kalo bisa terbang, wish I could fly ....

------
@ Railcafe Stasiun Bandung
030509 - 1015
now playing: MYMP - Especially for You

Selasa, 28 April 2009

Wisata Tour PPMKI 25-26 April 2009: Leg 1, Magelang - Wonosobo

Dalam rangka HUT Kota Magelang yang ke 1103, PPMKI mengadakan Wisata Tour selama 2 hari. Karena event ini cuma sekali dalam setahun, nggak rugi deh dibela-belain cuti buat ikutan. Jadi bagi yang kemaren nyangka cuti karena mau lamaran or alasan lain yang sejenis, salah besar. Yang bener ya cuma ikutan rally ini.

Event kali ini sama seperti tahun kemaren, armada yang diturunkan si Combi 1979 B 7049 TP. Bedanya cuma kelas yang diikuti. Kalau tahun kemaren terjun di kelas mobil baru, tahun ini turun di kelas replika dengan lucky number 48.

250409, leg 1 Magelang - Wonosobo, seluruh kontestan berkumpul di alun-alun Magelang di mana garis start berada di depan Polresta Magelang. Karena zero car dilepas jam 0720 dengan interval 1 menit, maka start si combi jam 0808. Pas soal baca soal, sub trayek 1 mengarah ke selatan, ke arah jalan beringin, berakhir di pal kilometer MGL 1/76 1/PWR 43. Di sub trayek ini sempat terkecoh dengan pos palsu dan lewat satu pos waktu, karena nggak teliti baca soal. Sub trayek berikut, peta tulip yang berakhir di lampu rambu Pakelan. Nggak gitu sulit sih untuk peta tulip. Semua berjalan lancar untuk sub trayek 2.

Sub trayek 3 dimulai dari lampu rambu Pakelan mengarah ke selatan, arahPurworejo dengan tujuan akhir sub trayek di Armada Glass Tempuran. Sub trayek 4 dan 5 dengan tujuan akhir Salaman dengan rute lintas desa dengan 1 pos waktu di akhir sub trayek 4. Kayaknya di pos waktu ini ketepatan waktu nggak diperhatikan, jadinya kena hukuman yang lumayan besar. Menjelang akhir sub trayek 5, sempat agak terlewat 1 pos waktu, karena kurang teliti baca soal, tepatnya di bundaran Salaman. Harusnya BKR di T (Belok kiri di pertigaan) dulu, tapi malah nggak dibaca. Akhirnya balik lagi demi satu pos waktu.

Rute berikutnya, Salaman - Wonosobo lewat Kaliabu, dengan 3 sub trayek. Sub trayek ini cukup menantang, karena jalurnya berkelok-kelok, sempit serta penuh tanjakan dan turunan. Di rute ini ada yang pos yang lumayan unik. Sebuah pos rute ditempatkan di dekat pedagang durian. Kali aja, panitia setelah menutup pos rute dilanjutkan pesta durian.

Menjelang finish leg 1 di pendopo kabupaten Wonosobo, berhenti sebentar di alun-alun Wonosobo untuk menghabiskan waktu yang tersisa. Ketika waktu dirasa pas, baru deh masuk finish leg 1. Di akhir leg 1 ini, peserta dijamu oleh Pemkab Wonosobo dengan kesenian tradisional, sambil beristirahat dan menunggu leg berikutnya yang akan dimulai jam 1300 untuk zero car.

Senin, 27 April 2009

Untitled

Sebenernya sih nggak pengen nulis yang kaya ginian, tapi kok lama-lama jadi terganggu juga dengan semua hal yang aneh-aneh ini.

Apa alasannya kok sampai-sampai coba menghentikan hobi nyepur saya, wong saya dah kenal sepur sebelum kenal sama sampeyan.
Kenapa sampeyan melarang saya liat sepur di tasiyun, lha saya liat sepurnya dari peron kok, tidak mengganggu maupun membahayakan perka dan orang lain.
Kalau situ ndak suka sama kegiatan saya yang nyepur mondar-mandir tanpa tujuan, itu bukan urusan saya, lha wong saya selalu beli tiket kok, dan duitnya bukan duit situ, tapi duit saya sendiri.

Kalau saya suka nonton Warkop, Cast Away, Forrest Gump, The Terminal dan film-filmnya Tom Hanks lainnya, trus situ ndak suka ... ndak ada urusannya sama saya ... lha saya ndak pernah maksa situ buat suka sama pilem yang saya sukai kok ....

Saya suka sama d'Cinnamons, Écoutez!, The Beatles, Maliq & d'Essentials, Ten 2 Five, Level 42, Queen dan yang lainnya, juga bukan karena pengaruh situ dan saya suka bukan karena situ suka juga.

Udah deh ... daripada situ ngrecokin saya dan kesenangan saya, mendingan situ nikmatin hidup situ dengan situ punya kesenangan juga. Toh saya juga ndak mau ngerecokin kesenangan situ.

#lega juga setelah ngomel di sini

np: Earth, Wind, and Fire - After The Love Has Gone

Senin, 13 April 2009

Hitung-hitungan Setelah Pemilu

Setelah kemaren iseng-iseng bikin hitungan menjelang pemilu, kali ini giliran berhitung setelah pemilu.

Sebenernya sih bahannya didapat dari hasil obrolan ibu-ibu pas sarapan di soto Pak Trimo. Soal tingkat akurasi informasinya mungkin bukan kelas A1, tapi bisa jadi perenungan.

Ceritanya, Joko mencalonkan diri menjadi anggota legislatif dari suatu partai tertentu. Untuk mencapai tujuannya, Joko telah menghabiskan dana sekitar 200 juta rupiah. Dengan tidak bermaksud merendahkan, menurut info yang ada, boleh dibilang si caleg tersebut bermodal cekak, lha (katanya) rumah aja masih ngontrak. Dan menurut aturan main pemilu, sekarang tidak ada caleg jaminan jadi. Yang ada, banyak kemungkinan gagalnya dibanding jadi.

Semoga cerita ibu-ibu tadi cuma omong kosong aja. Tapi kalau cerita ibu-ibu itu beneran, betapa kacaunya. Coba dihitung, untuk mengeluarkan modal sebanyak ratusan juta, caleg dapat menggunakan berbagai sumber. Entah itu mengambil dari tabungan, atau mencari dari sumber lain. Kalau menguras tabungannya sendiri sih sebodo amat, lha duit punya dia sendiri. Tapi kalau mengandalkan dana dari pihak ketiga, katakanlah pinjaman, apa yang bisa dijaminkan? Lha rumah aja masih ngontrak. Kalau sumbangan, pasti si penyumbang mengharap balas jasa. Mana ada jaman sekarang yang mau kasih gratisan. Kalau si caleg terpilih kelak, mungkin bisa memberikan balas jasa, kalau nggak, entah apa yang bakal terjadi.

Kelar urusan sumber dana, begitu si caleg terpilih, dan duduk menjadi anggota dewan, tentunya bakal terima penghasilan yang lumayan. Nggak heran kalau anggota dewan berusaha mengembalikan modal yang telah dikucurkan, sukur-sukur bisa mendapat lebih. Yah, kalaupun meleset, semoga nggak jauh jauh amat, itung-itung pengabdian. Lagian selama 5 tahun menjadi anggota dewan, sudah menikmati berbagai fasilitas yang ada. Belum lagi masa purna tugas, kali aja dapat pensiun, dan bisa jadi kontestan pemilu buat periode berikutnya.

Tadi kabar baiknya kalau terpilih. Kalau yang terjadi sebaliknya, ya bisa diperkirakan si mantan caleg bakal jatuh miskin. Lha caleg yang bermodal kuat aja bisa habis, apalagi sebelumnya sudah minim. Apalagi menurut kabar yang beredar, si Joko kondisi keuangannya tipis. Bisa jadi bangkrut dan dikejar-kejar debt collector. Kalau nggak kuat mental, bisa gila, atau malah bunuh diri.

Bener juga apa kata orang-orang pinter, jadi caleg adalah cara instan untuk mobilitas sosial vertikal. Kalau jadi, bisa naik strata. Tapi kalau gagal, dijamin terjun bebas. Dari yang semula orang terpandang, langsung jadi bahan cibiran tetangga.

Yah ... semoga aja cerita ibu-ibu tadi cuma gosip murahan aja. Semoga caleg yang kemaren rebutan kursi udah siap lahir batin sebelum bertarung. Selamat bagi yang (nantinya) duduk jadi wakil rakyat, semoga bener-bener jadi wakil rakyat, bukan wakil partai atau golongan. Bagi yang gagal, jangan berkecil hati. Berjuang bagi rakyat tidak hanya melalui parlemen aja, tapi melalui tindakan nyata buat lingkungannya.

salam damai ....

Rabu, 25 Maret 2009

Pabrik Es

Menjelang pemilihan legislatif, seorang caleg berkampanye ke daerah pemilihannya. Seperti biasanya, caleg yang satu ini menjual 1001 macam janji-janji.

"Kalau saya terpilih nanti, jalan raya menuju kota kabupaten akan saya perbaiki menjadi jalan beton," janjinya. Hanya ada sedikit peserta kampanye yang bereaksi dengan bertepuk tangan.

Merasa sedikit gagal di langkah pertama, sang caleg menebar janji berikutnya, "Kalau partai saya menang pemilu mendatang, jembatan menuju kecamatan seberang akan diperlebar!!!" Tepuk tangan peserta kampanye lebih meriah dari yang pertama.

Sang caleg makin semangat, melanjutkan dengan jurus berikutnya, "Pasar yang ada di desa ini akan dibangun lebih megah lagi!!!" Janji manis caleg disambut dengan sorak riuh rendah peserta kampanye.

"Jaringan irigasi teknis akan diperhatikan, sehingga sawah tidak akan kekeringan di musim kemarau!!!" Sambutan peserta kampanye semakin meriah.

Merasa kampanyenya berhasil, selanjutnya caleg kita ini menjanjikan lapangan pekerjaan, "Bagi para pemuda di desa ini yang masih menganggur, saya akan membuka lapangan pekerjaan bagi kalian. Saya akan mengundang investor untuk menanamkan modalnya di desa ini, dengan membangun pabrik tektil!!!"

Merasa ada kata-kata sang caleg yang salah, asistennya berbisik pada sang caleg, "Pak, yang tadi kurang S."

Mendengar bisikan dari sang asisten, dengan percaya diri, sang caleg menambahkan janjinya, "Oh iya, pabrik es juga!!!"

Jumat, 20 Maret 2009

Tipu - Tipu Part 3

Sebenernya sih lagi nggak pengen nulis sesuatu. Tapi barusan dapat kabar kalau temen kantor babe barusan diplekotho sama bandit, sampe rugi sepuluh juta ripis, makanya aku nulis ini. Semoga aja nggak ada korban berikutnya.

Ceritanya begini, Pak Junaedi dikabari kalau anaknya, Retno, mengalami kecelakaan lalu lintas, dan dirawat di RS Sardjito. Agar nyawa Retno dapat diselamatkan, Pak Junaedi harus mentransfer uang sejumlah sembilan belas juta rupiah untuk operasi anaknya. Saking paniknya, Pak Junaedi mentransfer sepuluh juta. Beruntung, ketika Pak Junaedi akan mentransfer kekurangan sembilan juta ripis, beliau sadar, dan membatalkan perintah transfer. Tetep aja sepuluh juta rupiah sudah disikat sama bandit.

Hmm, kayaknya ini dulu pernah ditulis di sini, tapi belum lengkap ceritanya. Dari data dan fakta yang berhasil dikumpulkan, dapat dirangkai suatu cerita, kira-kira bagaimana si bandit bekerja.

Pertama, si bandit memencet nomor secara random untuk mencari calon mangsa. Begitu calon mangsa didapat, si bandit mengaku sebagai polisi dan menakut-nakuti calon mangsa (Retno) kalau nomornya digandakan oleh sindikat kejahatan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bandit meminta nama dan nomor telepon keluarga Retno yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat. Dan untuk keperluan pengungkapan kejahatan, Retno diminta untuk mematikan ponselnya. Si Retno menuruti aja semua perintah yang disampaikan oleh bandit, lha yang di seberang telepon ngaku polisi je .....

Langkah berikutnya, setelah mendapatkan nomor dan nama kontak darurat Retno, si bandit menghubungi orang tua Retno, Pak Junaedi. Bandit memberitahu Retno mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Untuk keperluan operasi, Pak Junaedi harus mentransfer sembilan belas juta. Dengan memanfaatkan kepanikan Pak Junaedi, si bandit berharap Pak Junaedi tidak dapat berpikir jernih dan menuruti semua kemauan si bandit.

Sebelum menelepon Pak Junaedi, si bandit memastikan ponsel Retno dalam keadaan tidak aktif, sehingga Retno dan Pak Junaedi tidak dapat saling menghubungi. Kalau Retno dan Pak Junaedi dapat berkomunikasi sebelum si bandit menerima seluruh uangnya, dipastikan aksinya gagal total.

Sebenernya nggak gitu susah buat menangkal kejahatan model ginian. Pertama, jangan pernah memberikan nomor dan nama keluarga dekat yang bisa dihubungi kepada orang yang tidak kita kenal, termasuk data pribadi kita. Nggak ada jaminan kalau data yang kita berikan tidak akan disalahgunakan. Waspadai juga ulah nakal oknum marketer kartu kredit yang dengan mudahnya menawarkan produknya di keramaian dengan syarat yang mudah. Tidak tertutup kemungkinan, oknum marketer nakal menjadi bagian dari komplotan ini hanya dengan modal data pribadi kita.

Langkah berikutnya, sebelum mematikan ponsel karena (katanya) disuruh pihak yang berwenang, ada baiknya menghubungi keluarga terdekat kalau ponsel sementara tidak aktif dikarenakan ada dugaan penggandaan nomor. Sekalian juga, keluarga diberi tahu ke mana harus menghubungi kalau kalau ada sesuatu yang harus disampaikan segera. Kontak sementara dalam hal ini boleh teman kantor, teman kos, ibu kos sampai tetangga sebelah juga boleh, asalkan dapat kita percayai. Bukannya apa apa, ini cuma untuk menanggulangi gangguan komunikasi yang akan dimanfaatkan oleh si bandit, sehingga kita tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga.

Apabila kita memiliki lebih dari satu nomor ponsel, dan seseorang yang mengaku dari pihak keamanan meminta kita mematikan satu nomor dengan dalih telah digandakan penjahat, jangan sekali-sekali menonaktifkan semua nomor. Dengan berpikir positif bahwa dugaan penggandaan nomor itu benar, logikanya, sangat kecil kemungkinan lebih dari satu yang nomor kita pakai digandakan seluruhnya. Dan jangan sekali-sekali mengatakan ada berapa nomor yang kita pakai sekarang, dijamin mereka akan meminta kita menonaktifkan semuanya.

Nggak kalah pentingnya, ada baiknya juga keluarga tahu kemana harus menghubungi kita dalam keadaan darurat, terlebih apabila ponsel kita dalam keadaan tidak aktif, sehingga komunikasi tidak terputus. Dan kunci terakhir, jangan panik kalau ada yang menyampaikan kabar buruk tentang keluarga kita. Memang susah sih, tapi usahakan jangan panik, berusahalah berpikir jernih.

Mungkin tulisan ini dapat menghilhami seseorang untuk melakukan kejahatan serupa, tapi dapat juga digunakan untuk mengetahui bagaimana cara bandit bekerja, sehingga bisa terhindar dari kejahatan semacam ini. Semoga anda bukan korban berikutnya ....

Rabu, 04 Maret 2009

Mission Impossible di DPR?

Kutipan berikut mungkin nggak asing bagi penggemar serial TV Mission: Impossible. "As always, should you or any of your IM force be caught or killed, the Secretary will disavow any knowledge of your actions." Artinya sih kurang lebih, "seperti biasa, jika kau dan anggota misimu tertangkap atau tewas, Perdana Menteri akan menyangkal semua aksimu."

Belakangan ini kok kejadian hal yang mirip di parlemen negeri ini. Bisa jadi ini cuma pikiranku aja yang kebanyakan nonton film laga, atau memang kejadian beneran.

Ketika ada anggota DPR yang tertangkap tangan oleh KPK sedang melakukan perbuatan bodoh, kok di hari berikutnya, anggota yang lain pada rame-rame membantah adanya perbuatan konyol tersebut. Seolah-olah mereka tidak tahu kalo ada teman sejawat mereka yang berbuat macam-macam. Termasuk petinggi partai di mana yang bersangkutan menyangkal adanya aksi yang dilakukan anggotanya. Padahal tetangga sebelah pernah ngomong, it takes two to tango, nggak mungkin dilakukan sendirian.

Hehehe ... DPR ternyata as seen on movie. Ketika kegulung, semua menyangkal, tapi kalau nggak kegulung, nggak tahu deh. Kelewat tinggi pertanyaannya. Yah semoga saja mission impossible force di DPR ini nggak ada, dan yang tertangkap tangan sih cuma oknum ... tapi bandit tetep saja bandit.

Pertanyaanya, masihkah kita akan memilih bandit? Atau tidak memilih sama sekali? Semua terserah anda. Yang jelas, waspadai partai dan para caleg bandit.

kutipan: http://www.imdb.com/title/tt0060009/quotes

Minggu, 01 Maret 2009

Itu Baru Solo ....

Suatu sore, Dalijo dan Dullah sedang nonton TV berdua. Mereka sedang nonton siaran berita yang mengabarkan banjir Bengawan Solo yang mengamuk hingga merendam puluhan ribu rumah dan mencapai ketinggian semeter.

Dalijo : Dul, kasihan bener mereka. Bengawan Solo meluap sampai separah itu.
Dullah: Iya Jo, kasihan. Tapi itu belum seberapa Jo.
Dalijo: Belum seberapa bagaimana Dul? Lha wong sampai merendam ribuan rumah kok belum seberapa. Aneh kamu Dul.
Dullah: Iya Jo, ini belum seberapa. Itu baru Bengawan Solo
Dalijo: Maksudnya?
Dullah: Coba Jo, kalo yang banjir bukan bengawan solo, tapi trio, apalagi kuartet, kaya apa jadinya ....
Dalijo: $#^&%^*^*%$#