Halaman

Waktu menunjukkan

Pencarian

Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juni 2011

Trans Studio ... Selamat Bersenang-senang ....

Akhirnya, semalam, 170611, Trans Studio yang berlokasi di kompleks Bandung Supermal (BSM) resmi dibuka. Arena hiburan indoor (yang katanya) terbesar di dunia, dipastikan akan menambah beban Jl. Gatot Subroto. Menurut kabar yang beredar, tiket masuk per pengunjung di hari Senin sampai Jumat sebesar Rp 150.000,00 dan Rp. 200.000,00 di hari libur. Mahalkah? Jawabnya relatif. Mahal bagi saya, belum tentu mahal bagi anda.

Rabu, 13 April 2011

Trans Studio dan Halte Cibangkong

Beberapa waktu lalu, di sepanjang jalan Gatot Subroto mulai dari perempatan Pelajar Pejuang hingga BSM dipasang beberapa banner tentang pembukaan Trans Studio, yang dijadwalkan sekitar Juni mendatang. Memang, Trans Studio yang berlokasi di kompleks BSM ini bakal menjadi salah satu tempat hiburan baru yang berada di dalam kota Bandung.

Minggu, 30 Januari 2011

Ruang Publik

Akhirnya, setelah alun-alun Bandung dipagari, seolah-olah warga Bandung kehilangan sebuah ruang publiknya kembali. Pagar yang tinggi dan gagah terkesan angkuh, seolah-olah menantang setiap warga yang hendak memanfaatkan ruang publik tersebut untuk beraktivitas. Memang, awalnya ditujukan untuk mencegah pedagang kaki lima berjualan di kawasan alun-alun, dan sejauh ini cukup berhasil. Kalau memang hanya untuk mencegah pedagang berjualan di sana, mengapa sebelum dipagari, para pedagang itu tidak ditertibkan, padahal selama ini, aparat ketertiban selalu mangkal di sana. Apakah dengan pemagaran ini akan mencegah adanya pedagang di sana untuk selamanya?

Rabu, 08 Desember 2010

Gunakan Lampu Depan

Pernahkah terpikir kalau lampu depan sepeda itu penting? Mungkin anda berpendapat tidak perlu memasang lampu depan sepeda, toh masih ada bantuan dari lampu penerangan jalan umum, atau cahaya dari kendaraan di belakang anda. Yakin dengan pendapat anda? Atau pengalaman saya ini dapat mengubah cara pikir anda?

Awalnya, 081210, hari yang biasa saja, tidak ada istimewanya. Pulang dengan sepeda di tengah guyuran hujan lebat yang melanda Bandung beberapa hari belakangan ini. Seperti biasa, ritual menembus hujan selalu diawali dengan memakai jas hujan atasan orange terang dan bawahan biru tua. Penutup tas berwarna kuning terang dan helm juga tidak ketinggalan. Lampu depan dan belakang dicek dan menyala dengan baik dan dipasang dengan modus berkedip konstan.

Rabu, 02 Juni 2010

Kiaracondong Sore Ini

Depan kantor, arah ke Soekarno-Hatta, lumayan macet. Sebenernya nggak sampe macet total dan nggak gerak. Masih bisa jalan sih, tapi yang pasti lama bener. Dan bikin stress tentunya.Udah yang lewat banyak, jalannya bisa dipakai urban cross country, ditambah di dekat perempatan Kiaracondong - Soekarno Hatta sedang ada perbaikan jalan. Macet deh tiap sore .....

Beruntunglah diriku pakai si kuning. Semacet apapun, masih bisa diajak pencilakan. Masih bisa lebih cepat lah daripada naik motor. Soalnya si kuning bisa dibawa pethakilan hajar gundukan dan lobang. Yang jelas bebas macet pakai si kuning, tergantung mau nakal apa nggak.

Kalau lagi nggak pengen nakal, paling ikutan pelan-pelan aja, kalau nggak ya dituntun. Lebihnya ya hajar tiap lubang dengan kecepatan lumayan tinggi (ndak pake kejlungup tentunya), naik-turun trotoar, nyelap-nyelip. Nah kalau pengen nakal banget ya angkat sepeda, trus contra flow di sisi luar/pinggir jalan deh (semoga ndak senakal ini). Yang jelas, puas bisa melaju sementara yang lain tertahan di kemacetan.

MTB Rocks!!!!

Sabtu, 10 April 2010

Aku dan Parahyangan

Bisa jadi ini untuk terakhir kalinya diriku menggunakan jasa KA Parahyangan. Ya, apabila rumor itu benar, tapi aku berharap itu tidak akan terjadi. Menurut kabar yang beredar, bersamaan dengan dioperasikannya kereta api relasi Bandung - Malang, rangkaian Parahyangan akan dihapuskan.

Memang isu yang beredar serba simpang siur. Ada yang bilang dihapus total, dikurangi jam perjalanannya, bahkan ada yang bilang kalau rangkaian Parahyangan akan jadi rangkaian eksekutif.

Secara pribadi, aku keberatan dengan dihapuskannya KA Parahyangan. Selain sudah rutin menggunakan jasa KA ini, paling tidak setahun belakangan, bagiku KA ini sudah menjadi legenda di Bandung.

Memang, dulu KA ini sempat merajai koridor Bandung - Jakarta. Pamornya sempat meredup setelah beroperasinya jalan tol Cipularang. Terlebih lagi adanya gangguan longsor di petak Sukatani - Ciganea - Purwakarta. Meski demikian, Parahyangan tetap memiliki pelanggan setia.

Andai Parahyangan dihapus total, pasti banyak yang merasa kehilangan. Terlalu sayang untuk dihapuskan. Terlalu banyak kenangan dengan kereta ini. Semoga para pengambil kebijakan tidak serta merta menghapuskan kereta ini. Biarlah kereta ini menjadi legenda hidup di Daop 2.

@KA 63, Cikadongdong - Cisomang, 100410, 0600

Kamis, 18 Februari 2010

Membumi Bersama Si Kuning

Belum apa-apa, pagi ini sudah membumi bersama si kuning. Yah, membumi, down to earth alias nyusruk. TKPnya persis di depan SDN Kiara Condong 3. Luka sih nggak, cuma menghambat laju si kuning aja. Kalo soal malunya, udah kebal ....

Kronologinya begini, si Kuning melaju dengan speed 10 km/h dari arah utara. Eh, menjelang SDN Kiara Condong 3, ada ibu-ibu pake Mio merah memotong ke kiri, buat ngantar anaknya. Kagetlah diriku, terpaksa si kuning direm habis, sampai full service applied. Ndilalah (apa ini bahasa Indonesianya), rimnya basah, gara-gara ngajak si kuning berkubang. Walhasil, V-brake tidak dapat bekerja maksimal, ya terpaksa diusahakan berhenti sesegera mungkin.

Kaki depan si kuning sempat mencium mio si ibu ini. Yang aku takutkan saat itu, si ibu ikutan hard landing. Bisa makin panjang urusannya, mana udah siang pula. Terpaksalah diriku bergaya bak bintang film action, bail out dari si kuning, tanpa ejection seat dan parachute. Akhirnya aku mendarat dengan bantuan tangan kanan. Tidak ada luka, cuma tangan kiri yang kotor. Tidak ada korban lain yang jatuh, cuma si kuning yang terkapar, dan diriku ada beberapa meter di depan. Kelar bebersih pakai air di botol minum, perjalanan 500 m terakhir aku lanjutkan.

Duh ... gara gara disfungsi v brake, jadi pengen upgrade si kuning dengan full set discbrake ... tapi nunggu kelar nyetak duit dulu dah. Soal jatuh, nggak malu deh. Kalo malu, bisa-bisa takut sepedahan lagi. Sayangnya ndak ada yang rekam diriku pas eject, meskipun tanpa Martin Baker ejection seat. Padahal kalo ada rekamannya, bisa ditawarkan ke produsen pilem, buat pilem eksyen, adegan jatuh dari sepeda.

apa ini gara-gara pake sandal swallow hijau pembawa sial yah?

Senin, 15 Februari 2010

Bersepeda Lebih Cepat daripada Naik Mobil

Pagi ini si kuning kembali membuktikan kedahsyatannya menembus kemacetan. Perjalanan ke kantor yang sudah lumayan telat, dapat ditempuh dalam waktu 19 menit.

Awalnya nggak sengaja, berlomba dengan seorang teman kantor. Dia menggunakan Suzuki APV, diriku dengan Polygon Zero. Dengan sangat terpaksa (sebenernya nunggu pembuktian sih, siapa yang lebih cepet) mencoba mencari tahu siapa yang lebih cepat sampai di kantor.

Dengan rute Lengkong Kecil - Gatot Subroto - Kiara Condong sejauh 5,70 km, dan masih sempat berhenti buat beli koran di dekat BSM, eh masih lebih cepat sampai kantor daripada teman yang naik APV.

Memang, si kuning sempat diajak pencilakan pas melewati kemacetan, dan teman tersebut tertahan. Pas sampai kantor, terbukti si kuning sampai lebih dulu. Sebenernya kemacetan itu sih yang bikin si kuning melaju tak tertahankan dengan kecepatan rata-rata 18 km/jam, lumayan ngebut sih.

Kaya gini nih yang bikin aku lebih milih naik sepeda, daripada motor, lebih bisa diajak pencilakan, libas kubangan, sampe main lumpur. Dibilang aneh, gak masalah, yang penting aku merasa nyaman dengan si kuning.

Jumat, 12 Februari 2010

Main Air Bersama si Kuning

Akhirnya, niatan main hujan kesampean juga. Bandung hujan deras, dan sore ini balik kantor dengan main basah-basahan. Cuma pake celana pendek+kaos, dilapis jas hujan, tas dibungkus cover anti air. Safety gears juga komplit, helm, lampu depan belakang, checked. Siap menembus hujan lebat bersama si kuning.

Sampai rumah, badan nggak gitu basah, tapi muka penuh lumpur. Biarin, yang penting hasrat main sepeda pas hujan tersalurkan. Dibilang aneh, ya inilah aku ....

Minggu, 24 Januari 2010

Sulitnya Memarkir Sepeda di Mal

Malang benar nasib pesepeda di Kota Bandung. Di jalanan, mereka harus bertarung dengan sepeda motor, mobil, truk, bahkan bus. Upaya mereka menjaga kesehatan sekaligus mengurangi polusi justru harus dibayar dengan asap kendaraan yang terhirup selama di perjalanan. Begitu sampai tujuan, pesepeda masih dibuat pusing mencari tempat parkir.

Kalau pusat perbelanjaan (mal) menjadi tujuan wisata favorit bagi warga Kota Bandung pada umumnya, tidak demikian bagi pesepeda. Ke mal berarti harus menyiapkan diri ditolak oleh petugas parkir.


Seperti yang dialami oleh Dewi Gilang Kurnia (36), salah seorang pesepeda asal Bandung. Suatu sore akhir pekan lalu, ia bersama teman-teman sesama pencinta sepeda berkunjung ke mal di Jln. Sukajadi Kota Bandung. Setelah melewati kemacetan di depan mal, sampailah iring-iringan sepeda yang terdiri atas tujuh orang itu di pintu masuk pelataran parkir mal itu.

Melihat iring-iringan sepeda hendak masuk ke pelataran parkir, seorang petugas dari arah dalam mendatangi mereka. ”Sepeda tidak boleh masuk,” katanya. Alasannya, pelataran parkir itu hanya untuk mobil.

”Kalau mau di tempat parkir sepeda motor,” ucap petugas itu.

Itu bukan pilihan yang lebih baik. Tempat parkir sepeda motor di sana bentuknya seperti kotak yang ditumpuk-tumpuk. Akses masuknya tidak dibuat melingkar, tetapi berupa tanjakan-tanjakan berbentuk zig-zag. Bukan jalur yang ramah untuk sepeda.

Gagal tawar-menawar dengan petugas, Dewi dan teman-temannya mengalah. Mereka kemudian menuju ke tempat parkir di pelataran salah satu toko yang terletak di seberang mal itu.

”Maaf Teh, tidak bisa buat sepeda. Enggak ada tempatnya,” kata si juru parkir.

Melihat ada tempat yang masih kosong dan cukup untuk sepeda, salah seorang mengatakan, ”Di situ kan bisa. Kita bayar kok, sama seperti sepeda motor.”

”Bukan soal bayarnya Teh, kalau ada motor nanti ditaruh mana,” kata si juru parkir lagi.

”Heran ya tidak dianggap sekali sepeda,” kata yang lain dengan nada jengkel.

Akhirnya iring-iringan menuju ke tempat parkir di sebelahnya. Setelah mengatakan bersedia membayar tarif parkir seperti sepeda motor, juru parkir mengiyakan rombongan tersebut memarkir sepeda mereka.

Mencari tempat parkir bukan urusan mudah bagi pesepeda, apalagi di mal. ”Aku sudah lumayan pernah nyobain semua mal kecuali yang di daerah selatan. Hanya di BEC (Bandung Electronic Centre) yang ada parkir sepedanya. Di Istana Plaza lumayan enak juga, boleh didorong sampai ke dalam,” katanya.

Ada mal yang memperbolehkan pesepeda merantai sepedanya di pagar mal, seperti di Bandung Trade Centre (BTC) Kota Bandung. Bagi pemilik sepeda lipat, beberapa mal ada yang memperbolehkan membawa sepeda yang sudah terlipat masuk ke dalam, tetapi ada juga yang melarang. Yang paling sering, menitipkan sepeda kepada satpam dengan imbalan sukarela.

”Kita sering dikira tidak mau membayar. Padahal kita tidak masalah, asalkan sepeda kita terparkir dengan baik, aman dan terlindungi,” katanya.

**

Ketua Bike to Work (B2W) Bandung Satiya Adi Wasana mengakui, sejauh ini belum banyak mal yang bersahabat dengan sepeda. Bahkan, ada anggota yang kehilangan sepedanya saat diparkir di sebuah mal.

”Kita pernah mengadakan kegiatan yang finisnya di mal. Itu harus berdebat panjang dulu untuk mengizinkan sepeda bisa masuk ke areanya, awalnya tidak boleh karena khawatir lantainya rusak,” katanya.

Soal keberpihakan kepada pesepeda, mal-mal di Kota Bandung tergolong tertinggal dengan yang ada di Jakarta. Mal-mal mewah di sana sudah menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda.

”Sekarang kan komunitas sepeda jumlahnya semakin banyak, seharusnya mal juga mulai berwawasan lingkungan,” katanya berharap. Idealnya, tempat parkir sepeda memberikan ruang yang cukup sehingga sepeda bisa tegak berdiri, mempunyai penjepit untuk mengunci sepeda, terlindungi dari hujan dan panas.

Di luar negeri, sepeda justru mendapat tempat parkir yang paling dekat dengan bangunan mal. Justru mobil yang lebih sulit mencari parkir.

Di Bandung, hanya Bandung Electronic Centre (BEC) yang menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda. Pesepeda bisa meletakkan sepedanya di penjepit yang sudah disediakan. Saat ini sudah ada dua lokasi yang masing-masing cukup untuk delapan sepeda. Dalam waktu dekat akan ditambah satu lokasi lagi.

Tempatnya berdekatan dengan tempat parkir mobil untuk wanita. Letaknya tidak menyulitkan karena berada di lantai yang sama dengan pintu masuk. Tidak perlu khawatir dengan tanjakan. Gratis pula!

”Kami tidak rugi sama sekali. Kebijakan ini memang bukan untuk cari untung. Tinggal memanfaatkan titik-titik yang bisa dipakai. Mereka yang datang ke sini dengan sepeda berarti sudah ikut peduli lingkungan,” kata Zemary, salah seorang staf manajemen BEC.

Rupanya projek sosial itu malah mendatangkan keuntungan. Banyak kegiatan berwawasan lingkungan yang dilaksanakan di sana. Tidak hanya pesepeda, komunitas pegiat lingkungan seperti menemukan ”rumah”. Jadi, kenapa harus takut rugi? (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***

sumber: Pikiran Rakyat, 24 Januari 2010

Selasa, 05 Januari 2010

Aquarius Dago Tutup?

Kaget juga sih pas baca kalau Aquarius Dago ditutup. Emang sih, tahunya udah agak lama, pas baca Pikiran Rakyat tanggal 03 Januari 2010. Di web Pikiran Rakyat tertulis, Aquarius Dago tutup per tanggal 26 Desember 2009. Ada yang kasih kabar pindah ke Sheraton, tapi nggak tahu deh. Kalo bener, bakalan jauh bener deh kalo mau kesana.

Aku sendiri baru beberapa kali kesana. Tiap kali kesana, selalu lebih banyak yang jaga daripada pengunjungnya alias sepi selalu. Pas pertama kali kesana, nemuin beberapa CD yang dicari, langsung deh diborong.

Tetapi yang paling berkesan, pas nemuin CD Dave Koz: At The Movies di tempat ini. Entah udah cari di berbagai toko di Bandung, nggak dapat juga. Eh, malah ketemu di tempat ini, mana stoknya masih ada lebih pula.

Tapi masih ada yang belum kesampaian, pengen beli CD David Foster. Pernah liat ada di sini, tapi pas gak ada duit. Rencananya pas awal tahun ini mau kesana, malah Aquarius tutup duluan.

Semoga aja kabar pindahnya beneran. Meski jadi makin jauh, tapi tetep ada. Kalo tutup beneran, bakal makin susah deh cari CD yang keren ....

photo courtesy:
Aquarius Dago: http://shw.emilya7282.fotopages.com/14533037/Ni-toko-aquarius-CD-tempat-aku-borong-CD-pesanan-App.html
Dave Koz - At The Movies: http://www.pitchperfectreviews.net/wp-content/uploads/2007/02/davekoz.JPG

Rabu, 18 November 2009

Menembus Hujan

Hehehe ... begitu melihat di luar hujan nggak berhenti, malah di kepala muncul ide buat gowes sambil ujan-ujanan. Paling nggak, seru aja buat melaju di jalur kiri di kemacetan sepanjang Maranatha, dan sambil hujan tentunya. Repotnya sih di perempatan pintu tol Pasteur, adanya sedimen pasir, yang bikin ribet di jalur kiri. Salah-salah kaki bisa sejajar kepala. Koprol maksudnya.

Jadi inget jaman jaya-jayanya dulu dengan federal ijo. Menembus curah hujan Magelang dengan beraninya. Begitu sampai rumah, langsung deh mandi. Tapi beneran, dulu sepedahan di tengah hujan dengan perangkat keamanan yang bisa dibilang minim. Jangankan helm, lha lampu depan belakang nggak ada, yang ada cuma reflektor aja. Cuma harus hati-hati aja, soalnya rem pasti nggak sepakem kalau kering. Belum lagi gejala aquaplanning. Biar gejala aquaplanning nggak gitu kerasa, paling kurangi dikit aja tekanan ban.

Kalau sekarang disuruh kaya gitu lagi, nembus hujan, wah harus mikir berkali-kali dulu. Inget umur, udah nambah tua. Mana properti buat nembus hujan belum ada. Yang ada baru jas hujan aja. Cover bag belum punya. Kalau nggak ada cover bag, bisa-bisa seisi ransel dora basah semua deh. Belum lagi kemarin habis TSO, jadi belum berani pethakilan dulu. Si kuning juga belum siap diajak hujan-hujanan kayaknya. Tapi kalau semua properti dah siap, kayaknya seru juga tuh ... hehehehe.

Jadi kapan main hujan-hujanan lagi ..........

Selasa, 17 November 2009

Funbike Telkom

Setelah kemaren nyesel, gara-gara nggak bisa ikutan funbikenya speedy gara-gara nggak ngerti, eh sekarang malah ada yang kasih tau soal info Funbike dari Telkom. Berikut ini kutipan infonya

Dalam rangka menyambut dan memeriahkan kegiatan Speedy Tour d’Indonesia 2009, Telkom Divre III dan Telkom Cycling Community (TCC) akan mengadakan kegiatan FUN BIKE, yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Ahad, 22 Nopember 2009
Pukul : 07.00 WIB
Start/Finish : Telkom Divre III, Jl Supratman 66, Bandung
Pendaftaran : Gratis, di lokasi start, Ahad 22 Nopember 2009, Pukul06.30 WIB
Acara: Fun Bike, Games, Entertainment, Door Prizes


Hmm ... godaan jiwa raga nih .... Soal nanti masuk ke daftar pesertanya, itu urusan nomer sekian. Tapi buat gowes rame-rame, kapan lagi.

Pikir-pikir buat ikutan, sayangnya masih ada tapinya. Si kuning sampai sekarang masih terparkir di kantor, padahal syarat wajibnya harus menunggangi si kuning. Mau dibawa pulang Jumat malam, eh si kuda Jepang harus dinasan di Sabtunya, sampai malam pula. Kalau mau tukar tunggangan Minggu pagi, takut nggak keburu ....

Hmm ... perlu dipikirkan lagi nih. Bukan buat ikutan, tapi gimana caranya bawa si kuning pulang .... Pokoknya harus ikutan gowes minggu besok, biar nggak nyesel lagi ....

info terusan dari B2W_Bandung

Jumat, 23 Oktober 2009

Sepedahan = Vivere Pericoloso?

Pagi ini berangkat ngantor ndak pake sepeda (lagi) ... karena malam sebelumnya harus ngambil senjata buat acara Pesparawi besok. Seperti biasa, rute yang dijalani ndak jauh berbeda dengan rute nyepeda. Bedanya, kalau sepedahan nggak lewat Cipaganti, tapi lewat Djundjunan.

Pas di Wastukencana, sempat ketemu pengendara sepeda lipat. Dia pake seli warna silver, ndak tau mereknya apa, datang dari arah Merdeka. Di perempatan Cipaganti - Pasteur, ketemu seseorang pake road bike. Ketemu lagi sama biker di lampu merah Cipaganti - Sampurna - Bapak Husen.

Saat ketemu pengendara terakhir itu, nyaris terjadi PLH antara pengendara sepeda dengan oknum pengendara motor. Saya ndak mau nuduh siapa yang ndak punya, atau minimal ndak bawa otak di jalan. Yang jelas kalau boleh dibilang, pengendara sepeda itu posisinya sangat lemah. Kalau kata Bung Karno, "vivere pericoloso" alias living dangerously.

Gimana ndak vivere pericoloso, lha sampai sekarang aja kalau mau sepedahan harus berbagi jalur dengan kendaraan lain. Iya kalau pengendara lain ngerti seberapa lemahnya sepeda, kalo ndak, ya harus jaga diri baik-baik deh. Belum lagi semburan gas beracun dari knalpot kendaraan bermotor yang nggak terawat. Pengendara sepeda jadi paling rentan terpapar polusi. Soal parkir khusus sepeda, belum banyak gedung di Bandung yang menyediakan space khusus. Setahuku sih baru di BEC ada yang ada. Si kuning juga terpaksa disandarin gitu aja di parkiran mobil.

Yah ... orang boleh bilang sepedahan tu cuma living dangerously. Tapi buatku nggak ... ada kesenangan tersendiri kalau sepedahan. Soal urusan gaya hidup hijau atau cuma ikutan trend b2w, gak ada urusannya. Nyepeda cuma buat seneng-seneng aja, sekaligus olah raga. Kalau ikut mengurangi polusi, itu bonusnya ....

Kalau gak ada urusan, nanti pasti nyepeda lagi baliknya .....

Senin, 19 Oktober 2009

Nyesel ... Nyesel ... Nyesel

Beneran deh ... sampe sekarang, nyeselnya nggak ilang.

Gara-garanya Sabtu kemaren, 171009, PB si kuda jepang. Pas lewat Asia Afrika, ketemu serombongan besar pesepeda. Nggak taunya, kemaren ada acara Funbike yang diselenggarakan Telkom dalam rangka Speedy Fair.

Aaargh ... yang bikin nyesel tuh, kenapa harus tau kalo ada acara itu pas hari H. Mending kalo ga tau sama sekali, itu malah nggak nyesel sekalian. Kalo ini, liat massa bersepeda, bikin pengen aja .... Padahal dah pengen meluncur sama si kuning ....

Pokoknya besok harus B2W lagi .....

Jumat, 18 September 2009

Lebaran: Kumpul Bersama Keluarga atau Pelayanan

Ga kerasa, lebaran ini udah lebaran ketiga di Bandung. Kalau dibilang, udah mirip sama Bang Toyib, yang tiga kali lebaran nggak pulang. Tau deh Bang Toyib kemana, katanya sih kabur sama Sri, yang katanya pamit tuku terasi, nganti saiki ora bali-bali ....

Yah ... berasa beda sih, melihat yang lain bisa kumpul di hari raya, sedang diriku menjalankan tugas negara di UPFLN di BDO/WICC. Memang sih, secara pribadi nggak ikut merayakan lebaran, tapi di keluarga besar memang ada yang merayakan, jadi mau nggak mau, ikut larut dalam kemeriahan suasana lebaran.

Jadi ngerti gimana rasanya mereka-mereka yang merayakan lebaran jauh dari keluarga karena tugas mereka. Masinis, asisten masinis, PLKA, KP, PUK, PPKA, JPJ, penjaga perlintasan yang tetap bertugas di hari raya. Meskipun keluarga mereka menanti saat-saat berkumpul dengan orang yang terkasih, mereka harus bertugas melayani dengan sepenuh hati saudara-saudara yang ingin berkumpul dengan keluarga mereka. Ironis memang ... tapi itulah pelayanan. Hanya ada kepuasan tersendiri, ketika melihat orang yang mereka layani dapat berkumpul bersama keluarga dengan selamat.

Buat rekan-rekan yang mudik di hari raya, saya ucapkan selamat jalan, semoga selamat sampai di tujuan.
Bagi rekan-rekan yang tetap bertugas di hari raya, saya ucapkan selamat bertugas.
Bagi rekan-rekan yang merayakan Idul Fitri, saya ucapkan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

#selamat idul fitri be ... mohon maaf lahir dan batin ... maaf, ga isa pulang lagi karena tugas negara ... ga bisa ikutan kumpul di PWT ...

Rabu, 12 Agustus 2009

Si Kuning Emang Lebih Enak ....

Awalnya sih gara-gara ninggalin si kuning semaleman di kantor kemaren. Harap maklum, karena kemarin sore ada janji sama teman, terpaksa deh selingkuh sama kuda Jepang.

Karena paginya berangkat bareng kuda Jepang, berani jalan agak siangan. Seperti sudah diduga, di perempatan tol Pasteur udah macet. Dan kemacetan itu baru beres setelah lewat Maranatha. Gak tau kenapa kok macetnya lebih gila dari biasanya. Bisa jadi karena udah siang. Mungkin juga Maranatha udah mulai kuliah .... Nggak heran, kalo kemacetan kaya gini lama-lama bikin orang jadi gila.

Kalo udah macet gini, jadi pengen bawa si kuning. Kalo naik dia, bisa nyelap-nyelip di sela sela kemacetan. Malah bisa lebih cepet sampai. Apalagi si kuning habis ganti ban ke Scott 26x2.00 yang lebih nyaman. Yang jelas, sekarang si kuning jadi pilihan utama menyusuri jalanan Bandung. Lebih sehat dan ramah lingkungan. Kalau dirasa nggak memungkinkan pake si kuning, baru deh kuda Jepang yang dikaryakan.

Pulang nanti mancal si kuning lagi ah .........

Senin, 15 Desember 2008

Tempat Belanja dan Makan yang Enak di Bandung

Beberapa hari lalu, seorang teman kirim pesan singkat. Sebenernya sih pertanyaannya biasa aja. Cuma tanya di mana tempat belanja yang murah dan tempat makanan yang enak. Tapi buatku, ini pertanyaan yang kelewat susah dijawab. Atau, malah mungkin gak bisa jawab sama sekali.

Memang sih udah sejak Juni 2006 tinggal di Bandung. Tapi soal belanja baju or apparel lainnya di FO di Bandung, yang kata orang jadi tempat surga belanja, bisa dibilang hampir gak pernah. Pernah sekali ke FO, tapi cuma nganter adiknya si Tyas ke FO di seputaran Maulana Yusuf dan di dekat Trunojoyo.

Gak tau kenapa, bener-bener gak minat soal belanja kaya gitu. Apalagi ditanya barang yang murah di FO sebelah mana. Jawabnya gak tau. Tapi kalo ditanya tempat jual pakaian ada di mana, paling cuma bisa jawab di Martadinata a.k.a Riouw Straat; Juanda alias Dago Straat, sama di Setiabudi - Cihampelas. Selebihnya, soal barang bagus dan murah adanya di mana, gak tau.

Begitu juga soal tempat makan yang murah dan enak. Jawabnya tetap sama, gak tau. Paling-paling kalo tau, cuma ada di beberapa tempat. Itu juga karena diajak maen sama temen-temen PPGKJ. Kalo gak pernah diajak, ya mana tahu. Soal murah apa enak buat orang lain, relatif.

Emang sih, beberapa waktu lalu sempat beli buku "Jendela Bandung; Pengalaman Bersama Kompas" yang mengupas seluk-beluk Parijs van Java, tapi tetep aja nggak membantu buatku. Soalnya bener-bener gak selera buat belanja dan berburu makanan yang unik. Paling-paling cuma buat tahu tempatnya aja, kali aja ada yang tanya. Kalo cuma jadi guide ke sana boleh lah, tapi nggak bisa kasih referensi harus ke mana yang dituju.

Banyak yang bilang aneh, parah, dan 1001 sumpah serapah lainnya, tapi sebodo amat. Emang udah setelan dari sana, gak selera sama yang gituan. Pokoknya yang tanya soal tempat makan sama belanja di Bandung, siap-siap kecewa aja. Habis, jawabnya pasti gak tau. Mendingan tentuin dulu mau kemana, baru bisa diantar. Itu juga kudu liat primbon dulu. Kalo gak ada primbon, dijamin jawaban tidak memuaskan.

Jadi, mau belanja dan makan di mana?

Rabu, 13 Agustus 2008

Mau Bener Kok Susah

Sebenernya sih nggak pengen nulis apa-apa, cuma kepikiran aja, di Bandung, pengen bener kok susah banget. Cari tempat sampah susahnya minta ampun ....

Beberapa waktu lalu, John Pantau mengulas tentang perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Untuk kawasan Bandung, Bro John, beroperasi di kawasan Alun-alun dan aliran Cikapundung (sori Bro, kalo ada yang kurang disebut, ingetnya cuma itu). Bro John berhasil menangkap oknum satpol PP yang membuang puntung rokok sembarangan, oknum petugas dinas kebersihan yang membuang sampah ke sungai, dan perilaku ngawur lainnya. Pokoknya, yang tertangkap tangan sama Bro John, dijamin jadi tenar, tapi malunya ... mana tahaaan.

Sayangnya, Bro John nggak membahas langkanya tempat sampah yang ada di Bandung. Memang sih beberapa waktu yang lalu dipasang tempat sampah berwarna biru dan orange di berbagai titik, tapi sekarang, nyaris tak bersisa. Tempat sampah yang katanya seharga ratusan ribu per bijinya cuma berumur beberapa bulan aja. Nggak tau apa alasannya kok jadi hilang sama sekali. Entah nggak pernah diangkut sampahnya, vandalisme, atau tidak ada dana buat merawat.

Sepanjang Braga, (dulu) ada beberapa tempat sampah yang terpasang. Mulai dari di Canary, seberang London Bakery, PGN, Duta Nada, Braga Permai, Amsterdam, sampai persimpangan Braga - Lembong. Sebelum benar-benar hilang, ada beberapa tempat sampah yang "disegel", karena sampah yang ada tidak pernah diangkut oleh petugas. Sekarang, sama sekali tak bersisa. Entah siapa yang mengambilnya ....

Duh ... ternyata pengen bener aja susah. Cari tempat sampah aja susahnya setengah mati. Pokoknya biasakan yang benar ... buanglah sampah pada tempatnya, atau tertangkap kamera Bro John ....

Salam Damai ....

Sabtu, 02 Agustus 2008

Bersepeda: Peduli Lingkungan Apa Cari Sensasi?

Setelah beberapa saat lalu keisenganku menanggapi soal kampanye pilgub Jawa Tengah, kali ini aku iseng lagi. Tetep masih soal kampanye lagi. Kali ini kampanye pilwalkot Bandung.

Ketika melihat Kompas Lembar Jawa Barat tanggal 02 Agustus 2008, ada foto yang agak aneh. Kalau dari captionnya, seorang kandidat melakukan kampanye dengan sepeda sebagai simbol ajakan mengurangi pencemaran udara.

Idenya sih bagus, tapi bukan itu yang mau aku komentari. Yang bikin aku ketawa, perilaku pendukungnya. Ketika si kumendan mengangkat isu peduli lingkungan dengan ngonthel, tapi malah pendukung yang setia dengan penuh percaya diri mengawal dengan sepeda motor, yang notabene menghasilkan emisi gas buang pencemar udara. Sesuatu yang bertolak belakang dengan misi yang diusungnya.

Bagiku ini hanyalah sebuah upaya cari sensasi melalui isu peduli lingkungan. Namanya juga lagi jualan. Trik promosi paling jitu yang dipakai, dan semoga saja laris manis tanjung kimpul dagangannya. Kalo emang peduli sama lingkungan, pasti wadyabalanya juga naik velocipede, kagak ada yang naik brompit. Lain kali kalo mau ngangkat isu kaya gini, tolong diperhatikan dong pak, biar kagak kelihatan konyol ....

Bagi yang suka maupun tidak suka dengan tulisan saya, silakan kasih pendapat. Ini cuma yang ada di kepalaku.

Salam damai ....