Halaman

Waktu menunjukkan

Pencarian

Rabu, 17 September 2008

Semboyan No. 5

Setelah semboyan tangan (semboyan 1, 2A, 2B, 2C dan 3) dikupas, kini giliran Semboyan 5 yang dikupas. Bersama dengan Semboyan 6, 7 dan 8, semboyan 5 termasuk semboyan jalan yang bersifat tetap.

Semboyan 5 memiliki arti aman, kereta api boleh masuk. Semboyan ini biasanya digunakan untuk sinyal masuk dan keluar setasiun.

Pada siang hari, semboyan 5 diperlihatkan dalam bentuk papan merah pada semboyan tidak terlihat (a), lengan pada papan sinyal terlihat menyerong (b).

Untuk sinyal mekanik berlengan satu (c), lengan terlihat terangkat ke atas. Sinyal berlengan satu biasa digunakan untuk sinyal keluar. Sedangkan sinyal mekanik berlengan dua (d), semboyan 5 ditunjukkan dengan terangkatnya lengan atas. Sinyal berlengan dua jamak dipakai untuk sinyal masuk stasiun. Dengan memberikan semboyan 5 dengan sinyal berlengan dua, kereta api diperbolehkan masuk setasiun melalui sepur lurus, dan kemungkinan besar akan berjalan langsung.

Pada malam hari, semboyan 5 diberikan dengan cahaya lentera berwarna putih ke arah kereta api, dan berwarna hijau ke arah belakang sinyal (a, b, dan c). Untuk sinyal mekanik berlengan dua (d), ditunjukkan dengan cahaya lentera berwarna putih ke arah kereta api, sedangkan di sisi sebaliknya, lentera berwarna hijau di atas putih.

gambar Semboyan 5: pics.livejournal.com/trainsignal

Senin, 15 September 2008

Semboyan No. 3

Semboyan berikut adalah Semboyan 3. Semboyan 3 berarti berbahaya, tidak aman, kereta api harus berhenti. Semboyan ini digunakan untuk menutup bagian jalan agar tidak dilalui karena rusak atau membahayakan.

Pada siang hari, semboyan 3 diberikan dalam bentuk bendera merah, papan bundar merah, atau pegawai berdiri tegak menghadap arah datangnya kereta sambil mengangkat kedua lengannya ke atas.

Untuk malam hari, semboyan 3 berupa lentera merah, baik ditancapkan pada sebuah tiang atau dibawa oleh pegawai. Dapat juga dengan menggerakan lentera berwarna selain merah dengan cepat ke kanan dan ke kiri.

KETENTUAN PEMASANGAN SEMBOYAN 3
Semboyan 3 harus dipasang pada jarak sekurang-kurangnya 500 m (B-C) dari bagian jalan yang tidak boleh dilalui, dan semboyan harus dapat dilihat oleh masinis dari tempat sekurang-kurangnya sejauh 600 meter (A-B). Apabila bagian jalan yang ditutup telah diketahui oleh masinis bersangkutan, maka jarak 500 meter dapai diperpendek menjadi 200 meter (B-C).

Apabila jarak terlihat 600 meter tidak tercapai karena lengkung jalan, maka pemasangan semboyan 3 digeser ke muka, sehingga semboyan 3 dapat terlihat oleh masinis dari tempat sejauh paling sedikit 1100 meter dari bagian jalan yang tidak boleh dilalui (B-C). Jarak 1100 meter dapat diperpendek menjadi 800 meter apabila masinis telah mengetahui bagian jalan yang ditutup sebelumnya.

Sedapat mungkin, semboyan 3 dilengkapi dengan semboyan muka berupa semboyan 2A dan 2B. Semboyan 2B dipasang sejauh 100 meter (C-D) dari Semboyan 3, dan Semboyan 2A dipasang 300 meter (B-D) dari semboyan 3, dengan syarat semboyan 2A dapat dilihat oleh masinis dari jarak paling sedikit 300 meter (A-B).

Apabila jarak terlihat 300 meter tidak terpenuhi karena lengkung jalan, maka semboyan 2A digeser ke depan hingga dapat terlihat oleh masinis pada jarak paling sedikit 600 meter (B-D) dari tempat semboyan 3 dipasang.

Pada malam hari, susunan semboyan 3 yang memakai semboyan muka berupa semboyan 2A dan 2B, adalah sama dengan siang hari. Pada lokasi di mana semboyan muka semboyan 2A dan 2B dipasang, dipasang lentera berwarna hijau.

gambar semboyan 3: pics.livejournal.com/trainsignal

Minggu, 14 September 2008

Semboyan No. 2C

Melanjutkan tulisan tentang semboyan, kali ini giliran semboyan 2C yang diulas. Seperti semboyan 2A dan 2B yang memberikan pembatasan kecepatan, semboyan 2C memberikan pembatasan kecepatan, kereta api harus berjalan dengan kecepatan orang berjalan kaki, atau 5 km per jam.

Pada siang hari, semboyan 2C oleh pegawai diberikan dengan lambaian bendera hijau atau papan bundar hijau ke arah kanan dan kiri.

Pada malam hari, semboyan 2C diberikan dengan cara menghentikan kereta api terlebih dahulu dengan semboyan 3. Setelah kereta api berhenti, pegawai memerintahkan kereta api berjalan kembali dengan kecepatan 5 km per jam.

KETENTUAN PEMASANGAN SEMBOYAN 2C
Semboyan 2C diperlihatkan pada jarak 100 meter (D-E) dari bagian jalan yang hanya boleh dilalui dengan kecepatan 5 km/jam (E-F). Sebagai semboyan muka, semboyan 2B harus dipasang pada jarak 200 meter (C-E) dari bagian jalan yang dilindungi semboyan 2C, dan semboyan 2A dipasang pada jarak 400 meter (B-E) dari bagian jalan yang hanya boleh dilalui dengan kecepatan 5 km/jam. Semboyan 2A harus dapat terlihat oleh masinis dari jarak 300 meter (A-B).

Apabila jarak terlihat 300 meter tidak tercapai karena lengkung jalan, maka pemasangan semboyan muka (Semboyan 2A) digeser ke depan, sehingga dapat dilihat oleh masinis sekurang-kurangnya 700 meter (B-E) dari bagian jalan yang dilindungi semboyan 2C.

Pegawai yang bertugas memperlihatkan semboyan 2C harus menunjukkan tanda semboyan 2C pada tempat yang telah ditentukan, mulai pada saat kereta api terlihat hingga keseluruhan rangkaian melewati bagian jalan yang dilindungi semboyan 2C (E-F). Ketika akhir rangkaian telah melewati bagian jalan yang dilindungi, pegawai memberikan tanda semboyan 1 kepada masinis, sebagai tanda bahwa kereta api telah melewati bagian jalan tersebut dan boleh berjalan dengan kecepatan yang semestinya.

Apabila bagian jalan yang dibatasi kecepatannya (E-F) lebih dari 25 meter, pegawai yang bertugas memberikan semboyan 2C diharuskan berjalan di sisi kanan lokomotif hingga penghabisan jalan tersebut. Ketika ujung rangkaian melewati akhir bagian jalan yang dilindungi (F), pegawai tersebut memberikan tanda kepada masinis bahwa rangkaian telah melewati bagian jalan yang dilindungi.

Apabila keadaan tidak mengijinkan pegawai untuk berjalan di sisi kanan lokomotif, maka pada penghabisan bagian jalan yang dilindungi (F) ditempatkan pegawai kedua. Pegawai kedua inilah yang memberikan tanda kepada masinis bahwa rangkaian telah melewati bagian jalan yang dibatasi kecepatannya.

Pada malam hari, di tempat semboyan 2C diberikan (D) dipasang semboyan 3 untuk menghentikan kereta api. Setelah kereta api berhenti, pegawai yang memberikan semboyan 2C akan naik ke tangga lokomotif sebagai pandu dan memerintahkan masinis untuk menjalankan kembali kereta api secepat orang berjalan (5 km/jam). Di penghabisan bagian jalan yang dilindungi (F), kereta api berhenti sebentar untuk menurunkan pegawai yang menjadi pandu, untuk turun dari lokomotif. Kemudian kereta api berjalan perlahan-lahan, hingga masinis melihat semboyan 1 yang ditunjukkan pegawai yang berada di penghabisan bagian jalan yang dilindungi (F), sebagai tanda bahwa kereta api boleh berjalan pada kecepatan yang semestinya.

Semua jarak harus ditambah dengan 50% apabila semboyan dipasang di jalan turun dengan kemiringan 1% (10 permil) atau lebih.

Gambar Semboyan 2C: pics.livejournal.com/trainsignal

Jumat, 12 September 2008

Semboyan No. 2B

Kali ini pelajaran ilmu persepuran membahas semboyan No. 2B. Semboyan No. 2B memiliki arti pembatasan kecepatan, kereta api tidak boleh berjalan dengan kecepatan lebih dari 20 km/jam.

Di siang hari, semboyan 2B diberikan dalam bentuk
  1. bendera hijau dua buah, dipasang bersusun
  2. dua buah papan bulat hijau bersusun
  3. pegawai berdiri tegak menghadap ke arah kedatangan kereta api sambil mengangkat salah satu lengannya mendatar ke arah kanan atau kiri
Di malam hari, pemberian semboyan 2B berupa lentera berwarna hijau, baik dipasang pada sebuah tiang atau ditunjukkan oleh pegawai

KETENTUAN PEMASANGAN SEMBOYAN 2B
Semboyan 2B harus dipasang pada jarak minimal 100 meter (C-D) dari bagian jalan yang hanya boleh dilalui dengan kecepatan setinggi-tingginya 20 km sejam (D-E), dan harus didahului dengan semboyan 2A yang dipasang sejauh 200 meter (B-C) dari semboyan 2B. Semboyan 2A harus terlihat oleh masinis minimal dari jarak 300 meter (A-B).

Apabila jarak terlihat 300 meter tidak terpenuhi karena lengkung jalan, semboyan 2A digeser ke muka hingga dapat dilihat oleh masinis sejauh paling sedikit 600 meter (B-D) dari bagian jalan yang dilindungi oleh semboyan 2B.

Jarak tersebut harus ditambah dengan 50% apabila semboyan dipasang di jalan yang memiliki gradien 10 permil (1%) atau lebih.

Di malam hari, tempat semboyan 2A dan 2B dipasang lentera berwarna hijau.

sumber gambar: pics.livejournal.com/trainsignal

CC 204 13 Datang .....

Baru aja kemaren posting soal CC 204 12 yang datang, eh ... nggak tahunya malam ini CC 204 13 datang ke Bandung (BD). Nggak ada hujan, nggak ada angin, eh ... dia datang.

Sebenernya sih nggak sengaja pergokin ini lok masuk BD. Soalnya di milis kaum edan sepur, nggak ada kabar soal pengiriman batch 13, makanya pada nggak waspada, dan nggak ada yang nyegat ini lok.

Jumat malam, 120908, pas mau balik dari Setrasari, di PJL 163 Braga ketahan sama sepur yang mau lewat. Heran juga, jam 2030, kereta apa yang mau liwat. Kalo ke arah timur, KA 78 pasti udah lewat. Tapi, ini kok si sepur nggak lewat juga. Lama banget.

Tiba-tiba ada sorotan semboyan 20 dari arah timur. Nggak dinyana, itu dobel traksi CC 204 13 dengan CC 203 dan menarik 2 kereta kelas bisnis (K2) eks PLH Mutiara Selatan kemarin. Pertama sih nggak percaya kalo dia datang. Apa mataku udah nggak awas. Tapi kok depannya gak ada logo Dephubnya, dan masih bersih. Setelah si 13 lewat, dari arah barat, berjalan lok dinas ke arah Gedebage, untuk angkutan kurs kontainer.

Begitu lok dinas lewat dan palang naik, berhenti sejenak selepas PJL. Tanya sama temen2, ada nggak yang menyambut adik baru yang satu ini. Ternyata nggak ada yang tahu!!! Balik arah dikit, ngobrol bentar sama petugas PJL, dan dikonfirmasi yang lewat barusan CC 204 13. Ternyata mataku masih awas. Info lain yang diperoleh, crane Kirow dan gerbong penolong NR 16 sudah balik lagi ke dipo. Semoga aja duet Kirow dan NR 16 gak keluar lagi.

Rencana balik diubah, tujuan berikut ke dipo lokomotif BD. Setelah parkir tunggangan, langsung lari-lari kecil ke Dipo. Nggak lupa juga beli karcis peron. Dari ujung sepur 6, tampak duet 204 11 dan 203 xx (01 kayaknya) dilangsir masuk dipo. Gila ... sampe gemetaran lihat ini lok masuk BD, soalnya belum ada saksi mata yang konfirmasi akan penampakan makhluk yang satu ini. Setidaknya sampai saat ini.

Setelah ijin sama pengawas buat to foto, langsung ambil beberapa gambar. Nggak banyak sih, tapi cuma dua aja yang layak muat. Mau ambil banyak, nggak enak sama kru Dipo. Soalnya si adik harus check up dulu.

Yah lumayan puas bisa pergoki si adik baru. Kayaknya ini gantinya pas nyambut si kakaknya, 204 12. pas dia datang, cuma aku yang nggak liat kedatangannya. Kali ini, pas si adik masuk, nggak ada yang tahu, dan cuma daku seorang. Wuahahahaha ... puasnya.

Selamat bertugas adik CC 204 13, jangan bikin banyak masalah ya ....

-----semboyan21-----

Senin, 08 September 2008

Duh ... PL lagi ....

Gak tau kenapa, menjelang hajatan akbar PT KA, angkutan lebaran 2008, kok terjadi Peristiwa Luarbiasa (PL) di Daop II BD. Yang bikin miris, itu hanya berselang hitungan jam saja, di hari yang sama, 060908.

Pertama, PL KA 6 Argo Wilis di antara Cipeundeuy dan Bumiwaluya. Akibat anjloknya kereta nomor 4, sejumlah perjalanan kereta api menjadi terganggu. Akhirnya crane Kirow dan gerbong penolong NR 16 milik dipo lokomotif Bandung (BD) harus terjun ke lokasi PL.

Eh ... si kirow belum berangkat ke TKP, tiba-tiba ada kabar KRD Bandung Raya anjlok menjelang stasiun Ciroyom. Lok CC 201 98 dan 1 kereta K3 anjlok. Dua PL ini sempat membuat bingung kru kirow. Mana yang akan ditolong lebih dahulu.

Dengan serangkaian pertimbangan, akhirnya KA 6 ditolong lebih dahulu, karena lokasi berada di jalur utama BD - YK (Yogyakarta). Apabila tidak segera ditangani, dapat mengganggu perjalanan lintas selatan. Setelah itu, baru KRD yang ditolong.

Kalo kasusnya kaya gini, jadi ingat PL tanggal 280608 yang melibatkan KA 20 Argo Gede dan gerbong penolong NR 17 Purwakarta (PWK). Kejadiannya juga di Daop II BD. Yang jelas, sangat menyedihkan.

Entah apa yang salah di jagad persepuran negeri ini. Yang jelas, pada hajatan akbar Angkutan Lebaran 2008 yang suudah sangat dekat ini, semoga tidak terjadi PL maupun PLH (Peristiwa Luarbiasa Hebat). Semoga saja ......

-----semboyan21-----

masih sedih karena banyak PL dan PLH

Semboyan No. 2A

Setelah tertunda agak lama, kali ini tulisan tentang Semboyan Kereta Api (Reglemen 3) dilanjutkan lagi. Setelah semboyan No. 1 diulas, kini berlanjut ke Semboyan No. 2A.

Semboyan No. 2A memiliki arti Pembatasan kecepatan. Kereta api tidak boleh berjalan dengan kecepatan lebih dari 40 km/jam.

Pemberian semboyan No. 2A pada siang hari dilakukan dengan:
a. Bendera hijau
b. Papan bundar berwarna hijau, baik bertepi putih atau tidak

Pada malam hari, dipasang lentera hijau setinggi lebih kurang 2 meter dari rel. Untuk jelasnya, lihat Semboyan No. 2B

KETENTUAN PEMASANGAN SEMBOYAN 2A
Semboyan 2A dipasang pada jarak 100 meter (jarak B-C) dari bagian jalan yang hanya boleh dilalui dengan kecepatan paling tinggi 40 km/jam (bagian C-D). Semboyan 2A harus terlihat oleh masinis pada jarak sekurang-kurangnya 300 meter (jarak A-B).

Apabila karena lengkung jalan (A-B) jarak terlihat 300 meter tidak tercapai, maka pemasangan semboyan digeser ke muka, hingga masinis dapat melihat semboyan dari tempat sejauh paling sedikit 400 meter (B-C) dari bagian jalan yang dilindungi oleh semboyan tersebut (C-D)

Jarak tersebut harus ditambah dengan 50% apabila semboyan 2A dipasang pada jalan turun dengan kemiringan 10 permil atau lebih.

Semboyan harus dipasang di kanan jalan. Perkecualian dapat dipasang di kiri jalan apabila dapat terlihat lebih terang dari tempat masinis.

gambar semboyan 2A: pics.livejournal.com/trainsignal

Kamis, 04 September 2008

Selamat Datang CC 204 12

Hari ini, 040908, Dipo Lokomotif Bandung (BD) kedatangan anggota baru. Lok terbaru milik PT Kereta Api (Persero) yang dirakit di PT INKA telah sampai di BD dengan diikutkan rangkaian KA 173 Kutojaya Selatan, dengan relasi Kutoarjo (KTA) - Kiaracondong (KAC).

Sebenernya sih info kedatangan anggota keluarga baru sudah lama. Sejak kunjungan IRPS ke PT INKA, sudah ada bocorannya, kalau CC 204 12 sedang dalam pengerjaan. Tinggal pengiriman kapan, yang belum ada kabar. Diharapkan lok sudah dapat berdinas untuk angkutan lebaran. Selain itu, ada juga pengiriman kereta kelas 3 (K3) untuk melayani angkutan lebaran.

Beberapa waktu yang lalu, milis keretapi diramaikan dengan kabar dikirimnya lok ini menuju BD. Ternyata si 4 12 dikirim ke BD tanggal 040908, setelah menginap semalam di KTA. Sebelumnya, 4 12 dobel traksi dengan KA 151 Kahuripan dari Madiun (MN), markasnya PT INKA

Mengapa BD yang dipilih? Kata begawan jagad persepuran, medan di Daop II BD memang yang paling berat. Ke arah timur dan barat, sama-sama berkontur pegunungan. Jadi boleh dibilang, Daop II BD jadi Kawah Candradimuka para lok yang melayani di pulau Jawa. Alasan lain, Kantor Pusat PT KA (Persero) ada di BD. Kalau ada apa-apa dengan anggota keluarga yang baru, mudah dipantau.

Sebelumnya, ada niat buat menyambut di sepur 3, jalur kedatangan KRD dari arah timur. Ternyata aku telat. Limabelas menit sebelum aku datang, dia sudah masuk dipo, berbaris dengan kakak-kakaknya. Di kiri ada BB 301 31, dan di kanannya CC 203 41. Uniknya lagi, si kakak, CC 203 41, juga batch terakhir di kelasnya, seperti sang adik (hingga saat ini). Ternyata, di ketiga lok tersebut liverynya beda. Si BB 301 ada marking PT KA di penutup semboyan. Logo Dephub tergambar di hidung CC 203. Sedangkan adik baru ini polos tanpa lambang

Iseng-iseng lihat plakat lok ini, ternyata belum ditentukan lok ini menjadi milik dipo mana. Masih polos. Bisa jadi, si 4 12 milik BD, dan lok CC 201 milik Dipo Lokomotf BD ada yang dimutasi ke Dipo lain, seperti Jember (JR) yang sama sekali nggak punya lok jenis CC. Paling-paling tinggal dicat aja, "DIPO INDUK BD". Dan ini bisa dikerjakan di Dipo BD, setelah ada keputusan dari kantor pusat

Pas melongok ke kabin masinis, ternyata masih sama dengan kakaknya. Tuas rem lokomotif, throttle, rem dinamik, reverser, suling lokomotif, masih sama. Begitu juga dengan indikator perabaran, speedometer dan amperemeter. Tampak di belakang, komputer manajemen sistem, The BrightStar™ Control System keluaran GE Transportation.

Yah, cuma bisa ngucapin selamat bertugas aja buat si 4 12. Semoga gak ada masalah dengan dirimu. Pokoknya berikan yang terbaik buat jagad persepuran Indonesia. Selamat bekerja .......

-----semboyan21-----

Soal data teknis CC 204, nunggu primbon dulu, biar nggak ada salah kutip ... Kalo udah dapat, tar ditulis

Senin, 25 Agustus 2008

Trekking JAKK - TPK: 240808

Akhirnya jadi juga ikutan trekking JAKK - TPK. Acara yang digagas oleh PT KA (Persero) dan bekerja sama dengan berbagai komunitas pecinta/pengguna kereta api seperti IRPS, KRL Mania, Kompak (Komunitas Pecinta Kereta Api) dll, bertujuan menghidupkan kembali jalur JAKK - TPK yang terputus setelah sekian lama mati. Lagian trekking yang ini gak mahal-mahal amat biayanya. Cukup 20 ribu aja, dapat kaos, topi, makan siang, snack dan naik KLB TPK - JAKK lewat PSE.

Acara dimulai 240808 pagi jam 0800 dengan daftar ulang peserta. Setelah daftar ulang beres, dilanjutkan dengan pembukaan di pelataran dalam JAKK, sebelum dilepas secara resmi. Nggak tahu kenapa, kok peserta dilepas pakai semboyan 40 (40 apa 2c ya?). Detil acara pembukaannya gimana nggak gitu paham sih, soalnya lagi disibukkan angkut air ke luar, buat dibagiin ke peserta.

Kelar angkut air, ikut gabung di tim advance buat buka jalan. Katanya sih tim advance berangkat bareng PKD, tapi kok PKD malah beberapa detik di depan peserta ya? Malah bareng sama peserta.

Sepanjang rute JAKK - KPB lumayan rame, maksudnya kiri kanan rel udah jadi pemukiman liar. Tapi nggak berapa lama lagi akan digusur .... Lagian peserta juga membagikan selebaran tentang pemberitahuan kalau akan ada penertiban sisi rel, dua bulan ke depan. Jadi nggak ada cerita penggusurannya mendadak, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Di beberapa tempat tampak rel yang mleyot, sebagai sisa kebakaran beberapa waktu lalu.

Tiba di KPB, peserta dibelokkan untuk turun ke sisi bawah, bukan menyeberang jembatan KPB ke arah TPK, dengan pertimbangan keselamatan. Gak lucu kalo ada yang terjun bebas, langsung "diselamatkan" kawat LAA. Tapi ada juga yang berani nyeberang jembatan ini, at their own risk.

Lepas KPB, peserta tiba di belakang mangga dua, pas di rel yang dipotong oleh Mangga Dua. Menurut panitia yang bersama Dirjen Perkeretaapian, beliau terlihat mengurut dada melihat kenyataan yang ada di depannya, rel yang dipotong hanya untuk kepentingan bisnis semata.

Menuju Halte Ancol, peserta menyeberangi kali (sori gak tahu namanya) lewat jembatan kecil, lewat parkir mangga dua. Beberapa memilih menyeberang lewat eks jembatan KA, dengan risiko terjun, kali ini ke air dan jalan raya. Dalam perjalanan ke halte Ancol, tampak 2 eks PJL yang mangkrak. Yang di dekat halte Ancol lebih baik keadaannya. Genta masih ada (entah deh kondisinya) dan beralih fungsi menjadi pos keamanan.

Di Ancol, peserta rehat sejenak dan dipersilakan mengambil air minum yang telah disediakan. Maklum perjalanan masih lumayan panjang. Perjalanan halte Ancol - PJL 11C biasa aja, boleh dibilang monoton. Di beberapa tempat, banyak yang kasih tahu, jangan lewat sepur aktif, siapa tahu ada kereta lewat. Makasih banyak buat peringatannya, tapi kalo yang punya kereta lagi jalan-jalan di track, kan keretanya gak mungkin boleh lewat ... hehehe.

Lewat PJL 11C cukup menegangkan. Sisi kanan rel baru saja ditertibkan (halah, bahasanya) Pemda DKI, dan paginya terjadi bentrokan. Wah, bisa mati konyol nih kalo nekat melintas dalam keadaan kacau. Sempat terpikir untuk mengalihkan rute ke tepi jalan raya, tapi setelah ada jaminan keamanan dan pengawalan, rute tetap berada di jalur Ancol - Priok.

Menjelang Priok, masih ada bekas sinyal muka dan sinyal masuk Priok. Masih bagus kelihatannya, cuma kawat penggerak sinyal raib entah kemana. Menjelang masuk TPK, peserta dibelokkan ke kiri, batal melewati rumah sinyal. Maklum aja, di sekitar rumah sinyal banyak "batu muda" alias sisa metabolisme manusia. Beberapa peserta sempat melewati ladang ranjau tersebut. Entahlah, semua selamat atau ada yang menginjak ranjau secara sah dan meyakinkan.

Sampai TPK, terlihat ada gerobak TTW, PPCW, GGW, GR dan GL berdiam di sepur 5 dan 6. Entah sudah berapa lama berdiam di sana. Semoga saja tidak dijarah, mengingat di atas PPCW ada batangan rel yang menggiurkan bagi kolektor besi. Lumayan, kalo dijual buat beli banyu londo. Bayangin aja kalo R42 sebatang aja, dah dapet berapa duit tuh ....

Setiba di TPK, peserta diberikan snack dan makan siang. Sambil makan siang, peserta menonton klip seputar jalur JAKK - TPK dan ada pembacaan puisi oleh mas Setiyo Bardono. Sebelum kembali ke JAKK, dilakukan pengundian door prize berupa abonemen KRL, tiket Parahyangan, dan Argo Gede.

Sekitar jam 1200, peserta kembali ke JAKK dengan KLB yang ditarik CC 201 dengan 3 kereta K3. Lumayan juga sih pake K3 baru, buatan 2007. KLB menempuh rute TPK - Ancol - Rajawali - Kemayoran - PSE. KLB sempat BLB di Rajawali, entah siapa yang naik/turun. Maklum aja lagi backriding.

Di PSE, lok pindah posisi, soalnya KLB berjalan kembali ke arah Kemayoran - Rajawali - KPB dan akhirnya tiba di JAKK. Dengan tibanya KLB di JAKK, berakhirlah trekking JAKK - TPK.

Sori gak banyak poto yang diupload. Udah banyak yang di upload. Soal poto, bisa ditengok di MP mas Setiyo. Sori juga kalo ada data yang nggak akurat, soalnya cuma bermodal ingatan aja, nggak pake catet mencatet.

---semboyan21---

Kamis, 21 Agustus 2008

Semboyan No. 1

Semboyan No. 1 termasuk jenis semboyan jalan, dan bagian dari semboyan tangan, bersama dengan Semboyan No. 2A, 2B, 2C dan 3.

Semboyan No. 1 memiliki arti Aman, Kereta Api boleh berjalan sebagai biasa dengan kecepatan yang ditetapkan dalam peraturan perjalanan.

Untuk siang hari, semboyan No. 1 diberikan dengan cara:
a. Tiada Semboyan
b. Bendera Putih
c. Papan Putih Bundar
Dalam posisi a, Pegawai berdiri mengawaskan kereta api yang sedang lewat sambil memperhatikan semua semboyan kereta api yang terlihat. Selain itu, ia harus berdiri di tempat yang mudah terlihat oleh pegawai dalam kereta api.

Pada malam hari, posisi a sama pegawai berdiri sama seperti siang hari, dan memperlihatkan lentera berwarna putih atau obor ke arah kereta api, di tempat yang mudah terlihat oleh pegawai dalam kereta api. Lentera atau obor tersebut tidak digerak-gerakkan (diam). Untuk keadaan b dan c, semboyan No. 1 diberikan dalam bentuk lentera berwarna putih.

sumber gambar: pics.livejournal.com/trainsignal

Rabu, 20 Agustus 2008

Lagi-lagi PLH ....

Duh sedihnya .... Menjelang HUT RI ke-63, kok jagad persepuran Indonesia diwarnai PLH. Baru aja sampai dari YK, naik KA 78 dari BD, tiba-tiba ada email masuk, yang mengabarkan kalau ada PLH di Divre III SS. KA BBR 12 adu kepala dengan KA 6001 Limex di petak jalan TNK - LAR. Dari kabar yang beredar, 9 nyawa melayang dan puluhan lainnya luka-luka.

Belakangan, hasil investigasi sementara menyebutkan kalau PLH terjadi akibat kelalaian PPKA LAR, memasukkan KA 6001 ke sepur isi. Akibatnya, PPKA LAR yang juga merangkap KS LAR dicopot dari jabatannya dan bersiap menjadi pesakitan.

Nggak lama kemudian, ada berita PLH lagi. Argo Bromo Anggrek menghantam Suzuki APV di PJL tak berpintu di TG. Kalau untuk yang ini no comment dah. Korban mengemudi sambil menggunakan ponselnya, sehingga tidak waspada ketika mas argo melintas. Akibatnya APV nyaris tak berbentuk, meski sopirnya lolos dari maut.

Malam ini, baca dari JawaPos, KA 164 alias Jeng Sri makan korban. Lagi-lagi terjadi di PJL tak berpintu. Kali ini terjadi di Sidoarjo. Tiga nyawa melayang sia-sia karena dihantam CC 201. Entah mengapa, 2 PLH tadi terjadi di tanggal 170808.

Semoga rangkaian PLH tadi mengakhiri catatan buruk jagad persepuran Indonesia. Sudah cukup banyak orang yang mati konyol gara-gara PLH.

---semboyan 21---

Rabu, 13 Agustus 2008

Mau Bener Kok Susah

Sebenernya sih nggak pengen nulis apa-apa, cuma kepikiran aja, di Bandung, pengen bener kok susah banget. Cari tempat sampah susahnya minta ampun ....

Beberapa waktu lalu, John Pantau mengulas tentang perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Untuk kawasan Bandung, Bro John, beroperasi di kawasan Alun-alun dan aliran Cikapundung (sori Bro, kalo ada yang kurang disebut, ingetnya cuma itu). Bro John berhasil menangkap oknum satpol PP yang membuang puntung rokok sembarangan, oknum petugas dinas kebersihan yang membuang sampah ke sungai, dan perilaku ngawur lainnya. Pokoknya, yang tertangkap tangan sama Bro John, dijamin jadi tenar, tapi malunya ... mana tahaaan.

Sayangnya, Bro John nggak membahas langkanya tempat sampah yang ada di Bandung. Memang sih beberapa waktu yang lalu dipasang tempat sampah berwarna biru dan orange di berbagai titik, tapi sekarang, nyaris tak bersisa. Tempat sampah yang katanya seharga ratusan ribu per bijinya cuma berumur beberapa bulan aja. Nggak tau apa alasannya kok jadi hilang sama sekali. Entah nggak pernah diangkut sampahnya, vandalisme, atau tidak ada dana buat merawat.

Sepanjang Braga, (dulu) ada beberapa tempat sampah yang terpasang. Mulai dari di Canary, seberang London Bakery, PGN, Duta Nada, Braga Permai, Amsterdam, sampai persimpangan Braga - Lembong. Sebelum benar-benar hilang, ada beberapa tempat sampah yang "disegel", karena sampah yang ada tidak pernah diangkut oleh petugas. Sekarang, sama sekali tak bersisa. Entah siapa yang mengambilnya ....

Duh ... ternyata pengen bener aja susah. Cari tempat sampah aja susahnya setengah mati. Pokoknya biasakan yang benar ... buanglah sampah pada tempatnya, atau tertangkap kamera Bro John ....

Salam Damai ....

Selasa, 12 Agustus 2008

Ruwetnya Pemilihan Adipati

Nggak tahu kenapa, kok tiba-tiba kepikiran sebuah cerita dari negeri antah berantah tentang ribetnya pemilihan adipati di suatu negeri.

Di suatu negeri yang masih dirundung kegelapan, mangsa depan akan mengadakan pemilihan adipati yang baru. Para calon adipati saling berlomba mengajukan pemikirannya dan angan-angannya tentang suatu negeri yang gemah dipah loh jinawi tata tentrem kerta raharja, apabila calon adipati tersebut diberikan kesempatan memimpin negeri antah berantah tersebut.

Seolah tak mau kalah, para punggawa calon adipati tersebut yang kini tergabung dalam pengageng negeri berlomba-lomba mendukung calon adipati masing-masing dan mengajukan 1001 syarat untuk menjadi adipati. Syarat itu bukan tanpa tujuan, ini sengaja dibuat untuk meloloskan calon adipati yang didukungnya dan (diharapkan) akan mengganjal calon adipati lainnya.

Pertama, calon adipati harus lulusan pawiyatan luhur, kalau perlu pawiyatan luhur kasta ketiga. Kalau sekedar padhepokan biasa saja nggak boleh jadi adipati. Rasa-rasanya aneh juga, masa harus lulusan pawiyatan luhur. Kemampuan jadi adipati nggak bisa diukur dari hal ini. Banyak lulusan pawiyatan luhur yang menggunakan ilmunya untuk memplekotho rakyatnya. Lulusan pawiyatan luhur juga bukan jaminan bahwa calon adipati bersangkutan sanggup membawa pencerahan negeri ini. Mereka selama ini hanya bisa berangan-angan menjadi adipati, karena belum diberi kesempatan.

Wacana berikut, adipati berikut setidaknya berasal dari desa dimana kedhaton berada. Dengan syarat ini, diharapkan adipati yang baru mendapatkan dukungan dari warga sekitar kedhaton. Apabila adipati yang baru bukan warga sekitar kedhaton, dikhawatirkan akan timbul kecemburuan dari warga sekitar kedhaton. Hmm ... ketakutan yang berlebihan.

Syarat yang masuk akal, adipati tidak pernah bermasalah dengan bhayangkarapraja, baik urusan maling, madat, minum, madon, maupun main. Gimana mau jadi adipati kalau hobinya malima.

Nggak kalah pentingnya, adipati kudu ngerti ilmu tatapraja. Dengan bekal ilmu ini, adipati diharapkan mampu membawa negeri ini ke dalam pencerahan, bukan malah tambah mblusukke.

Dan masih banyak syarat yang diajukan para pendukung calon adipati masing-masing. Dari syarat yang bisa diterima akal sehat, setengah sehat, seperempat sehat, sampai yang nggak sehat dan sama sekali absurd.

Merasa sanggup menjadi adipati kembali, adipati lama mengagung-agungkan pengalamannya memimpin negeri. Jangan serahkan negeri pada calon adipati yang belum berpengalaman. Mau dibawa kemana negeri ini kalau dipimpin adipati yang tidak berpengalaman. Jangankan memimpin negeri, lha membina biduk rumah tangga saja gagal ....

Calon adipati yang masih muda juga nggak mau kalah. Lha selama adipati lama memimpin, sampeyan sengsara terus. Kalau negeri ini dipimpin adipati ini lagi, makin berpengalaman sengsara. Itu namanya goblok, sengsara kok mau terus diulang ....

Pemain ludruk juga nggak mau ketinggalan, pengen juga jadi adipati. Pemain ludruk ini sangat terkenal seantero negeri, nggak ada di negeri ini yang nggak kenal. Soal ilmu tatapraja, tau deh, ngerti apa nggak. Yang jelas, pemain ludruk pernah jadi adipati, di atas panggung ludruk. Turun dari panggung ludruk, jadi balungan kere lagi. Pokoknya si pemain ludruk ini merasa dirinya sudah memenuhi 1001 syarat untuk menjadi adipati.

Edan, rame banget yang mau jadi adipati. Siapapun yang nantinya jadi adipati diharapkan aja lamis, aja mblenjani janjine serta sanggup membawa negeri ini kepada pencerahan, negeri sing gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Dan, yang gagal jadi adipati jangan sampai ilang warase. Di negeri seberang sudah kejadian, gagal jadi adipati, utange akeh, ditinggal bojo, dadi gendheng. Wis cupet pikirane, milih mati wae ... nanging iso digagalke karo para bhayangkarapraja.

Yo wis ... sing kepingin lan arep dadi adipati, monggo maju, tapi jangan sampai lupa aturan main. Sing arep milih adipati, padha pilihana sak senengmu. Sing wegah milih adipati, ya ora usah milih, tapi jangan mempengaruhi mereka yang mau milih, untuk tidak memilih adipati.

Salam damai ....

Apabila ada kesamaan waktu, tempat dan pelaku dalam cerita ini dengan kejadian nyata, cerita ini hanya dimirip-miripkan saja dengan kejadian nyata di negeri seberang.

Senin, 04 Agustus 2008

Semboyan

Nggak kenapa, kok tiba-tiba pengen nulis kaya gini. Mungkin gara-gara kemaren nggak ikutan ke INKA di MN, jadinya penyakitku kambuh. Ya udah nulis soal semboyan aja. Semboyan jangan dicari di sini, meski udah dialihkan, tetep bukan yang itu.

Semboyan yang dimaksud adalah semboyan menurut Reglemen 3, suatu benda atau suara yang mempunyai arti atau maksud menurut bunyi, wujud, dan warnanya, tetapi tidak menurut tulisan atau angka yang dapat terbaca pada benda itu.

Semboyan dibagi menjadi:
  1. Semboyan Jalan: Semboyan Tangan, Semboyan Tetap dan Semboyan Wesel;
  2. Semboyan Kereta Api: Semboyan Terlihat dan Semboyan Suara;
  3. Semboyan Langsir;
  4. Semboyan Genta
Pokoknya Semboyan akan dibahas satu-satu, tinggal tunggu aja gilirannya

Makasih banyak buat Pak Santo, yang gambar koleksinya di album pribadinya boleh dipakai di sini, untuk menularkan penyakit edan sepur.

---semboyan21---

Sabtu, 02 Agustus 2008

Bersepeda: Peduli Lingkungan Apa Cari Sensasi?

Setelah beberapa saat lalu keisenganku menanggapi soal kampanye pilgub Jawa Tengah, kali ini aku iseng lagi. Tetep masih soal kampanye lagi. Kali ini kampanye pilwalkot Bandung.

Ketika melihat Kompas Lembar Jawa Barat tanggal 02 Agustus 2008, ada foto yang agak aneh. Kalau dari captionnya, seorang kandidat melakukan kampanye dengan sepeda sebagai simbol ajakan mengurangi pencemaran udara.

Idenya sih bagus, tapi bukan itu yang mau aku komentari. Yang bikin aku ketawa, perilaku pendukungnya. Ketika si kumendan mengangkat isu peduli lingkungan dengan ngonthel, tapi malah pendukung yang setia dengan penuh percaya diri mengawal dengan sepeda motor, yang notabene menghasilkan emisi gas buang pencemar udara. Sesuatu yang bertolak belakang dengan misi yang diusungnya.

Bagiku ini hanyalah sebuah upaya cari sensasi melalui isu peduli lingkungan. Namanya juga lagi jualan. Trik promosi paling jitu yang dipakai, dan semoga saja laris manis tanjung kimpul dagangannya. Kalo emang peduli sama lingkungan, pasti wadyabalanya juga naik velocipede, kagak ada yang naik brompit. Lain kali kalo mau ngangkat isu kaya gini, tolong diperhatikan dong pak, biar kagak kelihatan konyol ....

Bagi yang suka maupun tidak suka dengan tulisan saya, silakan kasih pendapat. Ini cuma yang ada di kepalaku.

Salam damai ....