Halaman

Waktu menunjukkan

Pencarian

Minggu, 28 Februari 2010

Pelanggaran

Kalau ada pelanggaran ruang udara, biasanya tindakan pertama yang dilakukan dipaksa untuk berbalik atau diarahkan keluar ruang udara. Kalo masih ngeyel juga, dipaksa mendarat. Dan kalau masih tetep ngeyel, tembak jatuh bisa dilakukan. KAL 007 pernah merasakan hal ini, ditembak jatuh Su-17, yang katanya melakukan pelanggaran ruang udara.

Nah, kalo ada pelanggaran ruang pribadi, enaknya diapain yah? Apalagi gangguan ini udah berkali-kali. Dipaksa turn around, forced landing, atau shoot down. Kayaknya lebih seru kalo langsung shoot down.

np: Bob Marley - I Shot The Sheriff

Kamis, 18 Februari 2010

Membumi Bersama Si Kuning

Belum apa-apa, pagi ini sudah membumi bersama si kuning. Yah, membumi, down to earth alias nyusruk. TKPnya persis di depan SDN Kiara Condong 3. Luka sih nggak, cuma menghambat laju si kuning aja. Kalo soal malunya, udah kebal ....

Kronologinya begini, si Kuning melaju dengan speed 10 km/h dari arah utara. Eh, menjelang SDN Kiara Condong 3, ada ibu-ibu pake Mio merah memotong ke kiri, buat ngantar anaknya. Kagetlah diriku, terpaksa si kuning direm habis, sampai full service applied. Ndilalah (apa ini bahasa Indonesianya), rimnya basah, gara-gara ngajak si kuning berkubang. Walhasil, V-brake tidak dapat bekerja maksimal, ya terpaksa diusahakan berhenti sesegera mungkin.

Kaki depan si kuning sempat mencium mio si ibu ini. Yang aku takutkan saat itu, si ibu ikutan hard landing. Bisa makin panjang urusannya, mana udah siang pula. Terpaksalah diriku bergaya bak bintang film action, bail out dari si kuning, tanpa ejection seat dan parachute. Akhirnya aku mendarat dengan bantuan tangan kanan. Tidak ada luka, cuma tangan kiri yang kotor. Tidak ada korban lain yang jatuh, cuma si kuning yang terkapar, dan diriku ada beberapa meter di depan. Kelar bebersih pakai air di botol minum, perjalanan 500 m terakhir aku lanjutkan.

Duh ... gara gara disfungsi v brake, jadi pengen upgrade si kuning dengan full set discbrake ... tapi nunggu kelar nyetak duit dulu dah. Soal jatuh, nggak malu deh. Kalo malu, bisa-bisa takut sepedahan lagi. Sayangnya ndak ada yang rekam diriku pas eject, meskipun tanpa Martin Baker ejection seat. Padahal kalo ada rekamannya, bisa ditawarkan ke produsen pilem, buat pilem eksyen, adegan jatuh dari sepeda.

apa ini gara-gara pake sandal swallow hijau pembawa sial yah?

Senin, 15 Februari 2010

Bersepeda Lebih Cepat daripada Naik Mobil

Pagi ini si kuning kembali membuktikan kedahsyatannya menembus kemacetan. Perjalanan ke kantor yang sudah lumayan telat, dapat ditempuh dalam waktu 19 menit.

Awalnya nggak sengaja, berlomba dengan seorang teman kantor. Dia menggunakan Suzuki APV, diriku dengan Polygon Zero. Dengan sangat terpaksa (sebenernya nunggu pembuktian sih, siapa yang lebih cepet) mencoba mencari tahu siapa yang lebih cepat sampai di kantor.

Dengan rute Lengkong Kecil - Gatot Subroto - Kiara Condong sejauh 5,70 km, dan masih sempat berhenti buat beli koran di dekat BSM, eh masih lebih cepat sampai kantor daripada teman yang naik APV.

Memang, si kuning sempat diajak pencilakan pas melewati kemacetan, dan teman tersebut tertahan. Pas sampai kantor, terbukti si kuning sampai lebih dulu. Sebenernya kemacetan itu sih yang bikin si kuning melaju tak tertahankan dengan kecepatan rata-rata 18 km/jam, lumayan ngebut sih.

Kaya gini nih yang bikin aku lebih milih naik sepeda, daripada motor, lebih bisa diajak pencilakan, libas kubangan, sampe main lumpur. Dibilang aneh, gak masalah, yang penting aku merasa nyaman dengan si kuning.

Minggu, 14 Februari 2010

Air dan Api

Beberapa hari ini diriku berasa sumpek. Heran aja, kenapa sih semua orang mempermasalahkan hal yang sama terus. Aku mencoba mengingat-ingat, hal ini udah kurasakan sejak sepuluh tahun lalu. Paling lama semenjak eyang sepuh tidak bertahta lagi.

Setelah eyang sepuh turun tahta, semua orang bebas bicara. Sayangnya nggak semua orang bisa menggunakan hal ini dengan sebaik-baiknya, tetapi yang ada malah pada ribut sendiri-sendiri nggak jelas juntrungannya.

Bukannya menderita SARS (Sindrom Amat Rindu Soeharto) tapi cuma sebel aja liat keadaan yang kaya gini. Semua orang cuma muter-muter di situ aja, meributkan masalah yang itu-itu saja. Negara lain sudah memikirkan pergi ke Mars, kita masih ribut sesama saudara.

Seperti lagunya Naif berikut ini, Air dan Api, mengapa kita tidak memberikan waktu kepada logika daripada ribut melulu yang nggak jelas ujung pangkalnya.

Apa mauku apa maumu
Slalu saja menjadi
Satu masalah yang tak kunjung henti

Bukan maksudku bukan maksudmu
Untuk selalu
Meributkan hal yang itu-itu saja

Mengapa kita saling membenci
Awalnya kita slalu memberi
Apakah mungkin hati yang murni
Sudah cukup berarti

Ataukah kita belum mencoba
Memberi waktu pada logika
Jangan seperti selama ini
Hidup bagaikan air dan api

Perbedaan pendapat senantiasa ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah mau dihargai, atau dimusnahkan, terserah anda ....

Now Playing : Krakatau - Sekitar Kita

Jumat, 12 Februari 2010

Main Air Bersama si Kuning

Akhirnya, niatan main hujan kesampean juga. Bandung hujan deras, dan sore ini balik kantor dengan main basah-basahan. Cuma pake celana pendek+kaos, dilapis jas hujan, tas dibungkus cover anti air. Safety gears juga komplit, helm, lampu depan belakang, checked. Siap menembus hujan lebat bersama si kuning.

Sampai rumah, badan nggak gitu basah, tapi muka penuh lumpur. Biarin, yang penting hasrat main sepeda pas hujan tersalurkan. Dibilang aneh, ya inilah aku ....

Minggu, 24 Januari 2010

Sulitnya Memarkir Sepeda di Mal

Malang benar nasib pesepeda di Kota Bandung. Di jalanan, mereka harus bertarung dengan sepeda motor, mobil, truk, bahkan bus. Upaya mereka menjaga kesehatan sekaligus mengurangi polusi justru harus dibayar dengan asap kendaraan yang terhirup selama di perjalanan. Begitu sampai tujuan, pesepeda masih dibuat pusing mencari tempat parkir.

Kalau pusat perbelanjaan (mal) menjadi tujuan wisata favorit bagi warga Kota Bandung pada umumnya, tidak demikian bagi pesepeda. Ke mal berarti harus menyiapkan diri ditolak oleh petugas parkir.


Seperti yang dialami oleh Dewi Gilang Kurnia (36), salah seorang pesepeda asal Bandung. Suatu sore akhir pekan lalu, ia bersama teman-teman sesama pencinta sepeda berkunjung ke mal di Jln. Sukajadi Kota Bandung. Setelah melewati kemacetan di depan mal, sampailah iring-iringan sepeda yang terdiri atas tujuh orang itu di pintu masuk pelataran parkir mal itu.

Melihat iring-iringan sepeda hendak masuk ke pelataran parkir, seorang petugas dari arah dalam mendatangi mereka. ”Sepeda tidak boleh masuk,” katanya. Alasannya, pelataran parkir itu hanya untuk mobil.

”Kalau mau di tempat parkir sepeda motor,” ucap petugas itu.

Itu bukan pilihan yang lebih baik. Tempat parkir sepeda motor di sana bentuknya seperti kotak yang ditumpuk-tumpuk. Akses masuknya tidak dibuat melingkar, tetapi berupa tanjakan-tanjakan berbentuk zig-zag. Bukan jalur yang ramah untuk sepeda.

Gagal tawar-menawar dengan petugas, Dewi dan teman-temannya mengalah. Mereka kemudian menuju ke tempat parkir di pelataran salah satu toko yang terletak di seberang mal itu.

”Maaf Teh, tidak bisa buat sepeda. Enggak ada tempatnya,” kata si juru parkir.

Melihat ada tempat yang masih kosong dan cukup untuk sepeda, salah seorang mengatakan, ”Di situ kan bisa. Kita bayar kok, sama seperti sepeda motor.”

”Bukan soal bayarnya Teh, kalau ada motor nanti ditaruh mana,” kata si juru parkir lagi.

”Heran ya tidak dianggap sekali sepeda,” kata yang lain dengan nada jengkel.

Akhirnya iring-iringan menuju ke tempat parkir di sebelahnya. Setelah mengatakan bersedia membayar tarif parkir seperti sepeda motor, juru parkir mengiyakan rombongan tersebut memarkir sepeda mereka.

Mencari tempat parkir bukan urusan mudah bagi pesepeda, apalagi di mal. ”Aku sudah lumayan pernah nyobain semua mal kecuali yang di daerah selatan. Hanya di BEC (Bandung Electronic Centre) yang ada parkir sepedanya. Di Istana Plaza lumayan enak juga, boleh didorong sampai ke dalam,” katanya.

Ada mal yang memperbolehkan pesepeda merantai sepedanya di pagar mal, seperti di Bandung Trade Centre (BTC) Kota Bandung. Bagi pemilik sepeda lipat, beberapa mal ada yang memperbolehkan membawa sepeda yang sudah terlipat masuk ke dalam, tetapi ada juga yang melarang. Yang paling sering, menitipkan sepeda kepada satpam dengan imbalan sukarela.

”Kita sering dikira tidak mau membayar. Padahal kita tidak masalah, asalkan sepeda kita terparkir dengan baik, aman dan terlindungi,” katanya.

**

Ketua Bike to Work (B2W) Bandung Satiya Adi Wasana mengakui, sejauh ini belum banyak mal yang bersahabat dengan sepeda. Bahkan, ada anggota yang kehilangan sepedanya saat diparkir di sebuah mal.

”Kita pernah mengadakan kegiatan yang finisnya di mal. Itu harus berdebat panjang dulu untuk mengizinkan sepeda bisa masuk ke areanya, awalnya tidak boleh karena khawatir lantainya rusak,” katanya.

Soal keberpihakan kepada pesepeda, mal-mal di Kota Bandung tergolong tertinggal dengan yang ada di Jakarta. Mal-mal mewah di sana sudah menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda.

”Sekarang kan komunitas sepeda jumlahnya semakin banyak, seharusnya mal juga mulai berwawasan lingkungan,” katanya berharap. Idealnya, tempat parkir sepeda memberikan ruang yang cukup sehingga sepeda bisa tegak berdiri, mempunyai penjepit untuk mengunci sepeda, terlindungi dari hujan dan panas.

Di luar negeri, sepeda justru mendapat tempat parkir yang paling dekat dengan bangunan mal. Justru mobil yang lebih sulit mencari parkir.

Di Bandung, hanya Bandung Electronic Centre (BEC) yang menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda. Pesepeda bisa meletakkan sepedanya di penjepit yang sudah disediakan. Saat ini sudah ada dua lokasi yang masing-masing cukup untuk delapan sepeda. Dalam waktu dekat akan ditambah satu lokasi lagi.

Tempatnya berdekatan dengan tempat parkir mobil untuk wanita. Letaknya tidak menyulitkan karena berada di lantai yang sama dengan pintu masuk. Tidak perlu khawatir dengan tanjakan. Gratis pula!

”Kami tidak rugi sama sekali. Kebijakan ini memang bukan untuk cari untung. Tinggal memanfaatkan titik-titik yang bisa dipakai. Mereka yang datang ke sini dengan sepeda berarti sudah ikut peduli lingkungan,” kata Zemary, salah seorang staf manajemen BEC.

Rupanya projek sosial itu malah mendatangkan keuntungan. Banyak kegiatan berwawasan lingkungan yang dilaksanakan di sana. Tidak hanya pesepeda, komunitas pegiat lingkungan seperti menemukan ”rumah”. Jadi, kenapa harus takut rugi? (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***

sumber: Pikiran Rakyat, 24 Januari 2010

Sabtu, 16 Januari 2010

Evil Strikes Back?

Aaargh .... kenapa sih itu orang harus muncul lagi? Apa belum puas dengan segala yang sudah dilakukan selama ini? Kenapa nggak biarin kita hidup apa adanya? Kita hidup di dunia masing-masing, tak elok lah kita saling ganggu.

Memang, dulu kita pernah hidup dalam satu lingkaran, cuma sebatas berteman saja, tidak lebih. Tapi dunia kita sudah berbeda sekarang. Aku menikmati duniaku sendiri, dan engkau ada di dunia lain. Aku sudah nggak ambil pusing lagi dengan duniamu. Biarlah kau menikmati duniamu, tapi jangan ganggu kami lagi dengan segala perbuatan anehmu.

Maaf, untuk sementara aku terpaksa membekukan hubungan diplomatik, sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mungkin ini yang bisa aku lakukan saat ini, sampai segala sesuatunya normal kembali. Entah kapan itu akan terjadi ....


np: Queen - Love of my Life
#buat yang ngerasa aja

Senin, 11 Januari 2010

Sepedahan ke Kantor: Parkir dan Kamar Mandi

Mungkin ini yang menjadi masalah kalau ingin bersepeda ke kantor. Masalah parkir dan kamar mandi. Terkadang gara-gara kedua masalah ini, orang jadi batal bersepeda ke kantor. Malah jadi ribet katanya. Padahal buat saya, kedua hal itu nggak begitu jadi masalah, setidaknya sampai saat ini.

Masalah pertama pasti soal parkir. Kalo gak pengen diribetin sama parkir, mendingan bawa sepeda lipat, bisa disimpan di kolong meja. Solusi yang tidak sesederhana pengucapannya, karena sekarang sudah ada si kuning. Kalau beli sepeda lipat, mau nggak mau cuma satu aja yang dipakai, sedang yang satunya bakal lebih sering nganggur. Akhirnya diambil keputusan, parkirnya ikut berdesakan di parkir motor, dengan merantai top tube ke sebuah tiang. Masalah pertama beres.

Beralih ke masalah kedua, mandi setelah gowes ke kantor. Memang sih ada beberapa gedung yang tidak menyediakan kamar mandi, tapi tetap aja banyak solusinya. Mulai dari numpang mandi di kamar mandi satpam sampai mandi pakai tisu basah aja, yang penting badan nggak bau. Bisa juga sih mandi dulu sebelum gowes, tapi sampai kantor, badan udah kucel, apalagi di perjalanan pakai main bebek-bebekan segala. Yang ada malah badan tambah kotor. Untunglah, sampai sekarang masih bisa mandi di kantor ... nggak tau deh kalo ada suara miring segala soal acara mandi di kantor .... Kalo emang udah nggak boleh, ya dengan mandi tisu basah deh ....

Semoga aja masih bisa kaya gini seterusnya ... biar sepedahan ke kantor makin seru.

Rabu, 06 Januari 2010

Elektrifikasi Magelang

Mungkin bagi sebagian warga Magelang tidak mengetahui di mana lokasi prasasti bertuliskan "MAART 1924 ELECTRIFICATIE MAGELANG". Tetapi ketika melihat gambar monumen seluruhnya, pasti semua mengenali letak dari monumen ini. Ya, monumen ini terletak di ujung Jl. Jenderal A. Yani dan Jl. Alun-Alun Selatan.

Secara literal, prasasti tersebut seolah-olah mengatakan, listrik pertama kali dialirkan masuk Kota Magelang, (mungkin masa itu masih bernama Gementee Magelang) pada bulan Maret 1924. Saya katakan seolah-olah, karena memang saya tidak menemukan sumber yang akurat, setidaknya sampai saat ini.

Kalau melihat perubahan terhadap monumen ini melalui beberapa foto yang ada di monumen ini, ternyata monumen ini telah mengalami perubahan bentuk. Pada dua foto berwarna yang diambil pada tahun 2009, hanya selang waktu beberapa bulan saja, tampak jam di puncak menara telah dilepas. Dan ketika melihat foto yang lebih tua, terlihat sangat jelas, monumen ini lebih tinggi dan lebih runcing puncaknya.

Sampai sekarang, saya tidak tahu, apakah ada keterangan yang lebih rinci tentang monumen ini. Saya ragu, kalau di lingkungan Pemerintah Kota Magelang, ada yang tahu persis tentang monumen ini. Tahu persis dalam artian tidak dilengkapi dengan bumbu "katanya" yang malah mengaburkan cerita aslinya.

Semoga saja Pemerintah Kota Magelang melalui dinas terkait lebih peduli dengan monumen ini, karena saya yakin, Gementee Magelang dulu membangun monumen ini pasti ada tujuannya. Dengan terpeliharanya monumen ini, semoga saja salah satu saksi bisu perkembangan Magelang tidak dikorbankan dengan berbagai macam alasan.

Selasa, 05 Januari 2010

Aquarius Dago Tutup?

Kaget juga sih pas baca kalau Aquarius Dago ditutup. Emang sih, tahunya udah agak lama, pas baca Pikiran Rakyat tanggal 03 Januari 2010. Di web Pikiran Rakyat tertulis, Aquarius Dago tutup per tanggal 26 Desember 2009. Ada yang kasih kabar pindah ke Sheraton, tapi nggak tahu deh. Kalo bener, bakalan jauh bener deh kalo mau kesana.

Aku sendiri baru beberapa kali kesana. Tiap kali kesana, selalu lebih banyak yang jaga daripada pengunjungnya alias sepi selalu. Pas pertama kali kesana, nemuin beberapa CD yang dicari, langsung deh diborong.

Tetapi yang paling berkesan, pas nemuin CD Dave Koz: At The Movies di tempat ini. Entah udah cari di berbagai toko di Bandung, nggak dapat juga. Eh, malah ketemu di tempat ini, mana stoknya masih ada lebih pula.

Tapi masih ada yang belum kesampaian, pengen beli CD David Foster. Pernah liat ada di sini, tapi pas gak ada duit. Rencananya pas awal tahun ini mau kesana, malah Aquarius tutup duluan.

Semoga aja kabar pindahnya beneran. Meski jadi makin jauh, tapi tetep ada. Kalo tutup beneran, bakal makin susah deh cari CD yang keren ....

photo courtesy:
Aquarius Dago: http://shw.emilya7282.fotopages.com/14533037/Ni-toko-aquarius-CD-tempat-aku-borong-CD-pesanan-App.html
Dave Koz - At The Movies: http://www.pitchperfectreviews.net/wp-content/uploads/2007/02/davekoz.JPG

Minggu, 03 Januari 2010

Tahu dan Tempe

Mengapa Tuhan menciptakan tahu dan tempe? Ternyata Dia ingin memberikan pilihan bagiku, memilih makanan yang aku sukai. Aku lebih memilih tahu daripada tempe. Kalau ada yang bilang, tempe lebih enak dari tahu, itu soal selera. Dan aku tidak pernah tidak mau memaksa dia untuk makan tahu.

Sayangnya, untuk soal tahu dan tempe, saat ini menjadi urusan yang benar-benar ribet. Ketika tahu dan tempe akan diseragamkan menjadi tempe, tanpa mau mengakui keberadaan tahu. Bagi yang suka tahu, dipaksa makan tempe, atau tidak makan sama sekali. Bahkan kalau perlu, tahu disebut sebagai tempe.

Ooh ... alangkah indahnya kalau masih bisa memilih tahu atau tempe. Masa soal selera masih harus diseragamkan. Bagi yang suka tahu, ndak usah maksa yang suka tempe buat makan tahu. Yang suka makan tempe, jangan gangguin yang suka makan tahu.

Gitu aja kok repot ....

Sabtu, 02 Januari 2010

Tuhan Itu Bodoh?

"Kalau Tuhan menginginkan kita sama, mengapa Dia menciptakan kita berbeda?"

Ini pertanyaan yang belum aku temukan jawabnya. Memang, ada yang bilang, ada beberapa pertanyaan yang memang tidak dapat terjawab oleh akal manusia. Tetatpi bagiku ini jadi satu pertanyaan yang harus terjawab.

Ketika ada sekelompok orang bebal - paling tidak bebal menurut ukuranku - mencoba menyeragamkan semua perbedaan yang ada, dengan alasan keseragaman itu dikehendaki oleh tuhan - entah tuhan yang mana - , pertanyaan ini semakin terngiang di telingaku. Ya, mengapa Tuhan mengijinkan ada perbedaan, kalau Dia menginginkan persamaan.

Ketika aku berusaha mengerti apa isi otak orang-orang bebal itu, aku mendapati tuhan orang bebal itu tuhan yang bodoh. Ya, tuhan yang bodoh. Kalau tuhan menghendaki keseragaman, mengapa dia mengijinkan perbedaan ada? Bukankah tuhan itu maha pencipta? Menjadi semacam paradoks, apabila tuhan menciptakan perbedaan tapi menghendaki keseragaman. Kalau memang tuhan menginginkan keseragaman, apa susahnya bagi dia menciptakan semuannya sama persis, identik, toh dia maha pencipta.

Ya, aku telah belajar cukup banyak. Bagiku Tuhan itu Maha Pandai. Aku tahu, Dia menciptakan perbedaan untuk saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Mengapa Tuhan menciptakan siang dan malam? Mengapa laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda? Dan beribu-ribu mengapa yang satu berbeda dengan yang lain. Semua perbedaan yang ada itu untuk saling melengkapi, bukan saling menghilangkan.

Seperti lirik lagu "Sekitar Kita", selama dunia masih berputar, perbedaan tak pernah pudar. Ketika kita meniadakan perbedaan, sama saja kita menghentikan putaran dunia ini. Tuhan telah kita kerdilkan dengan menolak semua perbedaan yang ada. Sekarang tinggal bagaimana sikap kita, apakah mengakui dan menerima perbedaan yang ada, atau menolak dan meniadakan perbedaan? Terserah anda ....

Trio Plaza

Bukannya saya iri apa bagaimana, cuma bertanya-tanya saja, apa ada yang salah dengan kota ini. Mungkin bagi yang lebih tahu bisa memberikan pencerahan.

Saya pengen tahu, sebenarnya apa sih syarat penerbitan HO (hinder ordonantie) alias ijin gangguan bagi pertokoan. Apakah lahan parkir juga menjadi salah satu syarat?

Heran aja sih sama Trio Plaza, yang sejak mulai operasionalnya hingga sekarang, belum memiliki areal parkir. Lahan parkir pengunjung hanyalah parkir on street, alias pinggir jalan. Memang sih, jalan di depannya bukan kelas jalan protokol, tapi tetap saja jalan umum.

Sekarang tinggal menanti saja penjelasan dari pihak yang berwenang, apakah parkir on street semacam itu dianggap tidak mengganggu kepentingan masyarakat yang lebih luas. Semoga celotehan saya ini bisa menjadikan Magelang yang lebih baik.

Jumat, 01 Januari 2010

Sampah

Seperti biasa, setelah ada acara yang melibatkan massa dalam jumlah besar, sampah berserakan di mana-mana. Kalau sudah begitu, saatnya petugas kebersihan memberesi sisa-sisa hajatan akbar.

Entah apa yang salah, kok selalu sampah bertebaran seperti itu. Apakah kita terbiasa membuang sampah sembarangan? Atau memang tempat sampah yang disediakan jumlahnya kurang? Atau keduanya? Entahlah ....

Rabu, 30 Desember 2009

Pacaran dan Telepon

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya, ada gak sih korelasinya antara pacaran sama kenaikan biaya telpon? Hmm ... pertanyaan yang lumayan menarik untuk dibahas ... hehehe.

Kalau ditarik ke belakang, kira-kira lima sampai enam tahun ke belakang, mungkin pernyataan tersebut ada benarnya. Terlebih lagi, harus menjalani hubungan jarak jauh. Mau nggak mau, harus memerlukan usaha ekstra untuk menjalin hubungan.

Di masa itu, memang tarif GSM belum semurah sekarang. Jaringan CDMA belum seluas seperti saat ini, dan pemilik handsetnya juga tidak sebanyak sekarang. Mau menggunakan layanan pesan instan, kualitas dan biaya koneksi belum begitu memuaskan. Pakai PSTN, makin nggak nahan biayanya. Kalau kata orang, cintaku berat di ongkos.

Peribahasa "jer basuki mawa bea" tetep berlaku juga buat urusan yang satu ini. Gimana bisa terjalin hubungan yang baik bila nggak pernah ada komunikasi, dan untuk berkomunikasi pun ada harga yang harus dibayar.

Kembali ke inti masalahnya, bener gak sih ada pengaruhnya dengan kenaikan biaya telpon, semua tergantung yang jalanin. Yang jelas, ada kenaikan biaya atau tidak, komunikasi harus dijalin dengan baik.

Makasih buat Joel atas curcolnya ... hehehe ... God bless you bro ....