Halaman

Waktu menunjukkan

Pencarian

Selasa, 13 April 2010

Aku dan Parahyangan #3

Akhirnya terjawab sudah semua pertanyaan yang ada. Dan apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Melalui SK Direksi No Kep.U/LL.207IV/I/KA-2010, per tanggal 27 April 2010, SEMUA perjalanan KA Parahyangan dibatalkan.

Ya, perjalanan dengan KA 63 tanggal 10 April 2010 ternyata menjadi perjalanan terakhir dengan KA ini. Perasaan galau, sedih, kecewa, marah campur jadi satu. Pikiran waras saya cuma bisa bilang, opo kuwi sepure mbahmu? Kok ditutup njuk kowe nesu.

Mungkin terlalu emosional menyikapi hal ini. Tapi ini benar adanya. Lebih dari tiga puluh tahun KA ini melayani koridor Jakarta - Bandung, dan akhirnya ditutup. Tentu banyak kenangan manis yang terukir bersama kereta ini.

Buatku, memang punya arti tersendiri, terutama keberangkatan jam 0500 dari Bandung. Dengan tewasnya Parahyangan, berarti hilang 1 jam yang berharga, karena harus menggunakan Argo Gede jam 0600. Kemungkinan untuk bisa dapat tiket go show, semakin kecil pula.

Pastinya bukan diriku saja yang merasa kehilangan. Banyak suara-suara yang tidak terdengar yang ingin mempertahankan KA ini. Yah apa boleh buat ... semua telah terjadi.

Parahyangan boleh berhenti beroperasi, tapi kenangan bersama KA ini tetap ada di hati ....

Senin, 12 April 2010

Aku dan Parahyangan #2

Huff ... sebenernya nggak mau nulis dulu. Tapi kenapa sinyalemen dihapuskannya si legenda daop 2 ini semakin menguat. Dan nampaknya Parahyangan segera menemui ajalnya di akhir bulan ini.

Mungkin bukan cuma diriku yang punya kenangan indah dengan kereta ini. Gak tau harus ngomong apa lagi kalau kereta ini dihapus. Bisa jadi dianggap berlebihan kalau aku bilang kereta ini sangat berarti buatku. Memang bukan bolak balik dengan Parahyangan, tapi cuma Parahyangan jam 0500, karena baliknya pakai Argo Gede jam 1945.

Aku yakin, banyak yang merasa kecewa dengan rencana dihapusnya Parahyangan. Banyak yang punya kenangan indah dengan kereta ini, termasuk diriku. Banyak yang berkeluh kesah soal rumor ini, baik di twitter, facebook maupun media lainnya.

Yah, buatku Parahyangan bukan sekedar kereta biasa, tapi kereta penuh kenangan, meski baru belasan kali naik kereta ini .... Semoga Parahyangan dapat terus menjadi legenda hidup perkeretaapian Indonesia. Kalaupun nanti Parahyangan akan dimatikan, tetapi kenangannya tetap hidup di hati penumpang setianya .....

Sabtu, 10 April 2010

Aku dan Parahyangan

Bisa jadi ini untuk terakhir kalinya diriku menggunakan jasa KA Parahyangan. Ya, apabila rumor itu benar, tapi aku berharap itu tidak akan terjadi. Menurut kabar yang beredar, bersamaan dengan dioperasikannya kereta api relasi Bandung - Malang, rangkaian Parahyangan akan dihapuskan.

Memang isu yang beredar serba simpang siur. Ada yang bilang dihapus total, dikurangi jam perjalanannya, bahkan ada yang bilang kalau rangkaian Parahyangan akan jadi rangkaian eksekutif.

Secara pribadi, aku keberatan dengan dihapuskannya KA Parahyangan. Selain sudah rutin menggunakan jasa KA ini, paling tidak setahun belakangan, bagiku KA ini sudah menjadi legenda di Bandung.

Memang, dulu KA ini sempat merajai koridor Bandung - Jakarta. Pamornya sempat meredup setelah beroperasinya jalan tol Cipularang. Terlebih lagi adanya gangguan longsor di petak Sukatani - Ciganea - Purwakarta. Meski demikian, Parahyangan tetap memiliki pelanggan setia.

Andai Parahyangan dihapus total, pasti banyak yang merasa kehilangan. Terlalu sayang untuk dihapuskan. Terlalu banyak kenangan dengan kereta ini. Semoga para pengambil kebijakan tidak serta merta menghapuskan kereta ini. Biarlah kereta ini menjadi legenda hidup di Daop 2.

@KA 63, Cikadongdong - Cisomang, 100410, 0600

Minggu, 28 Maret 2010

Sepi dalam Keramaian

Menikmati pagi yang cerah dalam kesendirian, cuma ditemani Nokia 5730 XpressMusic di 6° 49’ 20” S, 107° 41’ 7” E. Sebenarnya banyak orang di sini,tapi entah kenapa lebih menikmati kesendirian. Daripada harus ikut meramaikan suasana tapi tidak berasa nyaman, lebih baik menikmati kesunyian yang ada.

Selalu sepi dalam keramaian. Mencoba menikmati keramaian dengan cara yang berbeda, berdiam di sudut rumah.

tulisan yang gak penting banget yah ...

Middle of nowhere

Jumat, 19 Maret 2010

Till Death Do Us Part

Siang-siang gini bertualang di jagad maya, mampir ke 4shared. Entah bisikan dari mana, kok tau-tau pengen cari lagunya White Lion yang Till Death Do Us Part.

Dengerin lagunya, jadi ingat pas datang ke sakramen pernikahan seorang teman. Janji akan sehidup semati, setia dalam susah maupun senang, sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan. Bukannya cuma janji di hadapan pendeta dan jemaat, ini janji di hadapan Tuhan. Merinding juga dengarnya ....

Kalau masih penasaran sama liriknya, cari aja di sini deh. 

Senin, 15 Maret 2010

Gowes AKAP

Nggak tau ini ide baik, buruk, apa malah ide gila. Pengen sekali waktu coba gowes dari YK ke Magelang. Udah beberapa kali survei rute, dan bisa dibilang agak gila. Gowes 42 km dengan elevasi awal +113, dan elevasi tujuan di +343. Nanjak habis sih, tapi masih bisa ditempuh entah beberapa jam. Empat sampai lima jam mungkin bukan catatan waktu yang buruk, setidaknya buat pemula.

Buat eksekusi ide yang lumayan gila ini, harus dengan persiapan yang mumpuni. Maklum, ini gowes AKAP, Antar Kota Antar Propinsi. Barang bawaan harus komplit tapi seringan mungkin, dan sepeda harus fit. Duh, kapan ya bisa eksekusinya.

Sabtu, 06 Maret 2010

Syarat Nikah

Menikmati Dagelan Mataraman Basiyo memang lucu, tapi harus mikir, biar ketemu lucunya. Isi salah satu potongannya, dalam bahasa Jawa tentunya.

A: Yen badhe rabi niku syarate mung kalih mas
B: Nopo?
A: Kalih sinten

Hehehe ... bener juga yah.

Buat yang nggak ngerti bahasa Jawa, ini ada terjemahannya, tentu saja tidak letterlijk, dengan sedikit modifikasi tentunya, dengan tidak mengaburkan tujuan akhir humornya

A: Dimana-mana, kalau mau menikah itu syaratnya sama
B: Apa?
A: Sama siapa

Obama Orang Jawa?

Menurut kabar yang beredar, Presiden AS saat ini, Obama adalah orang Jawa. Entah apakah sudah ada atau belum yang membuktikan akurasi berita ini. 

Alkisah begini ceritanya, sesaat setelah Obama dilahirkan, bapaknya kaget karena bayinya bergerak-gerak. Spontan sang bapak berteriak-teriak pada ibunya dalam bahasa Jawa, "Obah Mak! Obah Mak!" yang artinya "Bergerak Bu! Bergerak Bu!" Suster yang mendampingi persalinan mengira teriakan sang bapak itu adalah nama untuk bayi yang baru lahir, maka dicatatlah nama Obama di register kelahiran bayi di rumah sakit itu.

Begitulah di balik misteri nama Obama yang katanya fenomenal. Kalo ndak percaya, saya juga ndak maksa buat membuktikan kebenarannya. Bagi yang percaya, semoga dapat menjadi tambahan pengetahuan Anda. Dibilang lucu,ya monggo tertawa. Kalau dibilang ndak lucu, harap maklum, saya bukan badut, apalagi pelawak.

Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang - Warkop

Basiyo Tuku Pring (Basiyo Membeli Bambu)

Ing sawijing dina, Basiyo mlaku-mlaku menyang pasar ing Jogja arep tuku pring.
(Suatu hari, Basiyo berjalan-jalan ke sebuah pasar di Jogja hendak membeli bambu.)

Basiyo marani salah sijining bakul pring ning kono, arep tuku pringe.
(Basiyo menghampiri salah seorang pedagang disana, hendak membeli bambunya.)

Basiyo (B): Kang, iki pringe kok apik men, piro regane?
(Basiyo (B): Kang, ini bambunya bagus sekali, berapa harganya?)

Bakul Pring (BP): Niki sak grobak namung gangsal atus mawon Pak, kula dugekke dugi griya
(Penjual Bambu (BP): Satu grobak ini cuma lima ratus saja Pak, saya antar sampai rumah)

B: Tenan iki ora nambah? Aku ora ngenyang yo. Panjalukmu limang atus sak grobak, wis diterke tekan ngomah. Iki tak bayar limang atus.
(B: Benar ini tidak nambah? Aku tidak menawar ya. Permintaanmu lima ratus satu grobak, sudah diantar sampai rumah. Ini saya bayar lima ratus.)

BP: Saestu pak, gangsal atus mawon sak pas. Pun, kantun ditengga ting griya mawon, mangke kula dugekaken pringipun.
(BP: Sungguh Pak, pas lima ratus saja. Sudah, tinggal ditunggu di rumah saja, nanti saya antar bambunya.)

B: Yo wis nek ngono, tak entenni ning ngomah.
(B: Ya sudah kalau begitu, saya tunggu di rumah)

BP: Lha griyanipun ting pundi to pak?
(BP: Lha rumahnya di mana Pak?)

B: Omahku ning Madiun, wis gelis diterke mrono pringe
(B: Rumahku di Madiun, lekas bambunya diantar ke sana.)

BP: Lha kok tebih sanget to pak, nggih mboten saged mekaten ....
(BP: Lha kok jauh banget pak, ya nggak bisa begitu ....)

B: Lha kowe ki piye to, panjalukmu rak pring regane limang atus sak grobak, mbok terke tekan ngomah. Tak tuku limang atus sak grobak, ora ngenyang. Karang omahku ning Madiun, ya kowe kudu ngeterke tekan kono to, wong wis tak bayar sak panjalukmu.
(B: Kamu ini bagaimana sih, permintaanmu kan bambu seharga lima ratus segrobak, diantar sampai rumah. Saya beli lima ratus segrobak, tidak menawar. Lantaran rumahku di Madiun, ya harus kamu kirim sampai sana, saya kan sudah bayar sesuai permintaanmu.)

BP: @#%^##@%
(BP: @#%^##@%)

photo courtesy: http://www.antarajateng.com/publik/1543730093Bambu101209.jpg

Rabu, 03 Maret 2010

When Love and Hate Collide

Entah kapan, terakhir kali aku menikmati saat-saat seperti ini. Duduk sendirian di mejaku sampai malam, ingin mencoba melupakan semua masalah yang ada. Hanya Def Leppard yang menyanyikan When Love and Hate Collide, dan segelas kopi menemaniku di ruangan. Entah berapa kali lagu itu aku putar, yang jelas sampai kopiku habis, baru nyanyian itu berhenti. Ah ... betapa nikmatnya hidupku. Seolah aku tak punya masalah lagi. Kurasa cukup masalah hari ini sampai di sini. Hari esok ada kesusahannya sendiri

Ingin mengulang suasana seperti itu, tapi entah kapan ....

sent from my lovely cubicle

Minggu, 28 Februari 2010

Pelanggaran

Kalau ada pelanggaran ruang udara, biasanya tindakan pertama yang dilakukan dipaksa untuk berbalik atau diarahkan keluar ruang udara. Kalo masih ngeyel juga, dipaksa mendarat. Dan kalau masih tetep ngeyel, tembak jatuh bisa dilakukan. KAL 007 pernah merasakan hal ini, ditembak jatuh Su-17, yang katanya melakukan pelanggaran ruang udara.

Nah, kalo ada pelanggaran ruang pribadi, enaknya diapain yah? Apalagi gangguan ini udah berkali-kali. Dipaksa turn around, forced landing, atau shoot down. Kayaknya lebih seru kalo langsung shoot down.

np: Bob Marley - I Shot The Sheriff

Kamis, 18 Februari 2010

Membumi Bersama Si Kuning

Belum apa-apa, pagi ini sudah membumi bersama si kuning. Yah, membumi, down to earth alias nyusruk. TKPnya persis di depan SDN Kiara Condong 3. Luka sih nggak, cuma menghambat laju si kuning aja. Kalo soal malunya, udah kebal ....

Kronologinya begini, si Kuning melaju dengan speed 10 km/h dari arah utara. Eh, menjelang SDN Kiara Condong 3, ada ibu-ibu pake Mio merah memotong ke kiri, buat ngantar anaknya. Kagetlah diriku, terpaksa si kuning direm habis, sampai full service applied. Ndilalah (apa ini bahasa Indonesianya), rimnya basah, gara-gara ngajak si kuning berkubang. Walhasil, V-brake tidak dapat bekerja maksimal, ya terpaksa diusahakan berhenti sesegera mungkin.

Kaki depan si kuning sempat mencium mio si ibu ini. Yang aku takutkan saat itu, si ibu ikutan hard landing. Bisa makin panjang urusannya, mana udah siang pula. Terpaksalah diriku bergaya bak bintang film action, bail out dari si kuning, tanpa ejection seat dan parachute. Akhirnya aku mendarat dengan bantuan tangan kanan. Tidak ada luka, cuma tangan kiri yang kotor. Tidak ada korban lain yang jatuh, cuma si kuning yang terkapar, dan diriku ada beberapa meter di depan. Kelar bebersih pakai air di botol minum, perjalanan 500 m terakhir aku lanjutkan.

Duh ... gara gara disfungsi v brake, jadi pengen upgrade si kuning dengan full set discbrake ... tapi nunggu kelar nyetak duit dulu dah. Soal jatuh, nggak malu deh. Kalo malu, bisa-bisa takut sepedahan lagi. Sayangnya ndak ada yang rekam diriku pas eject, meskipun tanpa Martin Baker ejection seat. Padahal kalo ada rekamannya, bisa ditawarkan ke produsen pilem, buat pilem eksyen, adegan jatuh dari sepeda.

apa ini gara-gara pake sandal swallow hijau pembawa sial yah?

Senin, 15 Februari 2010

Bersepeda Lebih Cepat daripada Naik Mobil

Pagi ini si kuning kembali membuktikan kedahsyatannya menembus kemacetan. Perjalanan ke kantor yang sudah lumayan telat, dapat ditempuh dalam waktu 19 menit.

Awalnya nggak sengaja, berlomba dengan seorang teman kantor. Dia menggunakan Suzuki APV, diriku dengan Polygon Zero. Dengan sangat terpaksa (sebenernya nunggu pembuktian sih, siapa yang lebih cepet) mencoba mencari tahu siapa yang lebih cepat sampai di kantor.

Dengan rute Lengkong Kecil - Gatot Subroto - Kiara Condong sejauh 5,70 km, dan masih sempat berhenti buat beli koran di dekat BSM, eh masih lebih cepat sampai kantor daripada teman yang naik APV.

Memang, si kuning sempat diajak pencilakan pas melewati kemacetan, dan teman tersebut tertahan. Pas sampai kantor, terbukti si kuning sampai lebih dulu. Sebenernya kemacetan itu sih yang bikin si kuning melaju tak tertahankan dengan kecepatan rata-rata 18 km/jam, lumayan ngebut sih.

Kaya gini nih yang bikin aku lebih milih naik sepeda, daripada motor, lebih bisa diajak pencilakan, libas kubangan, sampe main lumpur. Dibilang aneh, gak masalah, yang penting aku merasa nyaman dengan si kuning.

Minggu, 14 Februari 2010

Air dan Api

Beberapa hari ini diriku berasa sumpek. Heran aja, kenapa sih semua orang mempermasalahkan hal yang sama terus. Aku mencoba mengingat-ingat, hal ini udah kurasakan sejak sepuluh tahun lalu. Paling lama semenjak eyang sepuh tidak bertahta lagi.

Setelah eyang sepuh turun tahta, semua orang bebas bicara. Sayangnya nggak semua orang bisa menggunakan hal ini dengan sebaik-baiknya, tetapi yang ada malah pada ribut sendiri-sendiri nggak jelas juntrungannya.

Bukannya menderita SARS (Sindrom Amat Rindu Soeharto) tapi cuma sebel aja liat keadaan yang kaya gini. Semua orang cuma muter-muter di situ aja, meributkan masalah yang itu-itu saja. Negara lain sudah memikirkan pergi ke Mars, kita masih ribut sesama saudara.

Seperti lagunya Naif berikut ini, Air dan Api, mengapa kita tidak memberikan waktu kepada logika daripada ribut melulu yang nggak jelas ujung pangkalnya.

Apa mauku apa maumu
Slalu saja menjadi
Satu masalah yang tak kunjung henti

Bukan maksudku bukan maksudmu
Untuk selalu
Meributkan hal yang itu-itu saja

Mengapa kita saling membenci
Awalnya kita slalu memberi
Apakah mungkin hati yang murni
Sudah cukup berarti

Ataukah kita belum mencoba
Memberi waktu pada logika
Jangan seperti selama ini
Hidup bagaikan air dan api

Perbedaan pendapat senantiasa ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah mau dihargai, atau dimusnahkan, terserah anda ....

Now Playing : Krakatau - Sekitar Kita

Jumat, 12 Februari 2010

Main Air Bersama si Kuning

Akhirnya, niatan main hujan kesampean juga. Bandung hujan deras, dan sore ini balik kantor dengan main basah-basahan. Cuma pake celana pendek+kaos, dilapis jas hujan, tas dibungkus cover anti air. Safety gears juga komplit, helm, lampu depan belakang, checked. Siap menembus hujan lebat bersama si kuning.

Sampai rumah, badan nggak gitu basah, tapi muka penuh lumpur. Biarin, yang penting hasrat main sepeda pas hujan tersalurkan. Dibilang aneh, ya inilah aku ....