Halaman

Waktu menunjukkan

Pencarian

Minggu, 01 Maret 2009

Itu Baru Solo ....

Suatu sore, Dalijo dan Dullah sedang nonton TV berdua. Mereka sedang nonton siaran berita yang mengabarkan banjir Bengawan Solo yang mengamuk hingga merendam puluhan ribu rumah dan mencapai ketinggian semeter.

Dalijo : Dul, kasihan bener mereka. Bengawan Solo meluap sampai separah itu.
Dullah: Iya Jo, kasihan. Tapi itu belum seberapa Jo.
Dalijo: Belum seberapa bagaimana Dul? Lha wong sampai merendam ribuan rumah kok belum seberapa. Aneh kamu Dul.
Dullah: Iya Jo, ini belum seberapa. Itu baru Bengawan Solo
Dalijo: Maksudnya?
Dullah: Coba Jo, kalo yang banjir bukan bengawan solo, tapi trio, apalagi kuartet, kaya apa jadinya ....
Dalijo: $#^&%^*^*%$#

Sabtu, 28 Februari 2009

Hitung-hitungan Menjelang Pemilu 2009

emilu tinggal sekitar 40 hari lagi. Para kontestan sudah mulai hitung-hitungan, apakah target tercapai atau nggak, secara udah nggak ada kesempatan lagi buat mundur. Lagipula semenjak MK memutuskan caleg terpilih sesuai perolehan suara, bukan nomer urut. Artinya, nomer urut sama sekali gak ngaruh, yang penting beken, biar banyak yang milih.

Bagi yang suplai duitnya masih ada, bisa jualan makin gencar. Bagi yang udah kehabisan napas, ada dua pilihan. Mau ngirit jualan, atau nyari tambahan duit buat jualan. Gak heran banyak caleg jadi bandit, demi mengumpulkan dana buat jualan. Malangnya, polisi berhasil membekuk para bandit amatiran ini. Entah apa yang terjadi kalau mereka berhasil menduduki kursi DPR. Bakal menjadi Dewan Penjahat dan Rampok kali ....

Gak kalah sama caleg, buat pemilu 2009 ini aku punya hitungan sendiri. Pemilu yang jatuh di hari Kamis, 09 April 2009, tepat sehari sebelum Good Friday. Seandainya tanggal 090409 tidak diliburkan, 100% nggak akan datang ke TPS. Maklum TPS dan panggonan golek duit berjarak sekitar 450km. Rugi rasanya kalau harus kehilangan tunjangan dan uang makan, belum termasuk transpor dan akomodasi, hanya untuk memilih orang-orang yang nggak jelas juntrungannya.

Seandainya 090409 diliburkan dengan status cuti bersama, kalau kata Dono, very very diamput. Libur kok dipaksa. Terpaksa deh cari sampingan, biar nggak kena potong cuti, mumpung masih ada kesempatan. Tapi kalau nggak bisa, ya nggak apa apa. Yang penting bisa pulang plus hunting foto pemilu.

Kalau itu hari diliburkan menjadi hari libur resmi, yang jelas pulang. Lumayan, long weekend. Jarang-jarang ada liburan panjang kaya begini. Soal hadir di TPS, apalagi milih seorang calon, itu urusan nomer sekian. Yang jelas, keep hunting.

Karena jaman sekarang semua urusan harus dengan duit. Kepikiran juga buat menduitkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kampanye. Lumayan juga kayaknya buat menjual hak suara ke caleg tertentu. Pokoknya buat satu hari pemilu dipatok seharga tertentu. Kalo terasa terlalu berat, bisa dibagi beberapa kontestan, baik DPR, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Kalo dibagi berempat kan nggak berat-berat amat. Lagian jumlah yang ditawarkan nggak besar-besar amat. Cukuplah buat kantong mereka.

Buat media kampanye, tembok rumah pun bisa disewakan buat masang foto mereka. Tembok yang seukuran 5x10 meter bisa disewa dengan tarif per meter persegi per hari. Pokoknya pemilik tembok tahu beres dan terima duitnya. Soal materi dan urusan legal, menjadi tanggungan caleg.

Pohon yang ada di halaman juga bisa jadi dudukan memasang bendera parpol yang saling adu tinggi. Dengan berbagai syarat, antara lain tidak merusah pohon (ini yang terpenting) tarif bisa ditetapkan sesuai tinggi dan ukuran bendera yang dipasang. Pokonya semua bisa diselesaikan dengan "pengertian" dari caleg bersangkutan.

Mengingat semua itungan tadi melibatkan uang panas, perlu diatur perjanjian yang mengikat kedua belah pihak, agar tidak terjadi sengketa. Maklum, mereka biasa bohong, jadi harus diikat dengan perjanjian. Selain itu, semua arus uang sebisa mungkin jangan menggunakan uang tunai. Waspada aja sama uang palsu yang disebar caleg. Jangan konyol, uang harus diterima lebih dulu, sebelum ikuti tuntutan mereka. Kalau nggak, bakalan rugi besar

Banyak yang bilang, semua hitungan tadi hanya dipikirkan orang gila. Bisnis yang absurd. Tapi lebih absurd lagi kalau ada caleg yang berani membayar untuk itu. Lagian siapa yang mau dimanfaatkan jadi komoditi, meski lima tahun sekali. Makanya sebelum diakali, akali dulu para caleg yang gak jelas asal usul maupun programnya.

PS. Kalau ada orang bodoh yang berminat dengan tawaran di atas, tinggalkan pesan aja di tulisan ini. Nanti dihubungi balik. KHUSUS PEMINAT, dan bodoh tentunya ....

Selasa, 24 Februari 2009

A Birthday Bash

240209, balik kantor rencananya mo beberes kamar yang udah kaya kandang babi, tiba-tiba ada SMS dari Anggi yang mau balikin CD Ecoutez sama Flash Disk. Hmm ... curiga ada yang gak beres nih. Kenapa Anggi ngotot balikin CD malem-malem, padahal aku gak butuh-butuh amat itu CD. Ternyata instingku nggak salah. A birthday bash udah menunggu. Akhirnya beberes kamar ditunda dah. Makasih banyak buat Anggi, Debbie, Andi, Daton & Sam yang udah nyiapin acara ini ... gak tau kudu ngomong apa lagi.

Sekalian ngucapin makasih buat semuanya yang udah ingat ultahku, baik yang ngucapin selamat lewat YM, SMS, facebook or telpon. Biar kagak lupa, diabsen di sini aja ... sekalian jawab pertanyaan dan request yang ada.

Ume (yo, lagi digolekke nggon noka sapari), Debbie (makasih cakenya), Nyak, Babe, Agung (jadi bakar kampusnya?), Kustan (iyo bleh, sak cepete), Anggi (makasih telpon, sms, YM, n CDnya), Nugroho (cak, rotine nyusul, ditanggung beres), Winda, Yonda (kalo masih bingung, hubungi waskon 3), Wuri (thanks my luply sistah), Sari (kapan makan pisang ijonya), Ryan (gila lu Ndro), Mbak Helfie, Wulan (sukses yah sekdilunya & semoga dapat Eric), Saras (nyampe kok SMSnya), Bagus (Ndut, aja ngajuke tanggal sak penake dhewe), Dee (masih kecepetan sehari tuh), Badia (Ni anak kalo maen gak ada matinya), Dona.

Makasih juga buat Bu Dosen Okta (soal sepur, tanya aja sama bos pura), Chris Jo (sori kang, ndak ikutan ke LBJ, ngurus bentuk T62), Ncis & Mas Khris (kapan kapan nonton bareng bioskop punya om Paje), Irfan (met berjuang bro di D3 khusus), Nona Lee (masih miss pinky?), Rina (Bu, SInya masih banyak yang error), Dimas (kapan mau ke curve PDL?), Aschu (edan, mantap ucapanne, di FB, MP sama email dinas), Yulifar (PLHnya kemaren, tapi tetep sedih juga), Ican (kita sama tanggalnya, cuma batchnya beda), Vita (semoga betah di Cikarang), Kris, Bang Erik, Ario, Bowo (bos, kapan2 ngoplos, ojo lali Wajik diajak), Dea (kalo gak mau babi, ada ayamnya kok), Echy (makasih, salam buat partner in crimenya di Cimareme), Jona, Sekar

Nggak ketinggalan juga Nansy (masih ingat saya?), Dave, Mamat, Farida (sori Par, kurirnya mabok, bacapnya gak sampe), Pak Andreas Adiana, Erick, Yerry (udah, selingkuh aja sama si Cybershot), Hendry (sip pak, kapan iso hunting bareng), Dalijo (Astro lunga ngendi kok ra ketok?), Boim (sori om, itu dah lintas daop), Maraha (kaosnya keren om, bagi satu dong), Arie, Riris, Puput (makasih udah mau sekamar 2 tahun, sori kalo bikin kacau), Dyah, Tantra, Putri (teganya, aku harus panggil mbah gugel buat baca pesannya), Rizz (aku isih utang si cepek), Dina, Kang Punto.

Masih ada Thasya, Tante Withri (kapan kita ke Bogor lagi), Kak Eva (jadi inget duet sama Bang Rane), June, Bang Darwin, Ian, Ayu, Mas Pura (amin ... semoga cepet punya rangkaian, udah ngebet juga nih), Dayat (bleh, satu permil dari jumlah penerimaan durung dibayar), Mbak Novie, Bang Helvry (kapan kita KKP lagi?), Zian, Bernardus, Bieb (nek titip KA 5, malah sampeyan to sing ngirim...), Rere, Maria (apa kabar bu kethu?), Bang Esra, Sigit (retreatmu kok tanggale aneh temen to?), Dini (kapan kita maen bareng lagi? #kompor mode on), Wahyu (udah, ajak tuh si pangeranmu, kita selesaikan semuanya), Tia, Timo

Wew ... ternyata banyak juga. Kalo masih ada yang keselip, n belom disebutken, maap sebesar-besarnya .... maklum kagak dicatet satu persatu. Sekali lagi, makasih banyak buat yang ngucapin, May God Bless You All, Have A Nice Day .......

yang kagak inget n gak ngucapin, gak papa kok ... tetep may God Bless You All ......
maap juga kalo linknya ngaco ke rumah orang laen ...... kasih tau aja, ntar kita betulin ....

Jumat, 20 Februari 2009

Harta Karun

Pas istirahat siang, iseng-iseng blogwalking di Multiply, kok nemu artikel yang menarik di sini. Isinya tentang sepasang suami istri menemukan properti perkeretaapian di loteng mereka. Wujudnya sih papan pemberitahuan nama dan relasi kereta, yang biasa dipasang di tengah-tengah kereta. Bagi orang biasa, mungkin ini hanya sekumpulan kayu bekas yang bisa dijadikan kayu bakar atau perkakas lainnya. Tapi bagi railfans, benda ini sangat berharga, termasuk collectible items.

Hal ini mengingatkan pada eks Stasiun Mertoyudan. Ketika bekas stasiun itu disewa oleh PDAM, papan nama stasiun itu masih ada, dan terbaca jelas, "MERTOJUDAN +343". Sangat jauh berbeda dengan keadaan papan nama stasiun sekarang. Nama stasiun tersamarkan oleh slogan sebuah iklan produk tembakau.

Beberapa bulan lalu, ketika menguat kabar pelebaran jalan Mertoyudan - Keprekan muncul ke permukaan, kabar yang sangat menyedihkan pun mengikutinya. Papan nama stasiun ini hilang tidak jelas rimbanya. Padahal sesaat setelah kantor PDAM pindah, papan nama ini masih ada.

Hilang lagi satu bukti sejarah perkeretaapian di Magelang. Entah berapa lama lagi bekas stasiun ini akan bertahan, mengingat pelebaran jalan yang telah direncanakan semula, akan memakan emplasemen stasiun ini. Tepi badan jalan yang dilebarkan ini akan berada persis di depan pintu stasiun ini.

Selain stasiun ini, situs lain yang terancam adalah sinyal masuk Mertoyudan dari arah Magelang, yang terletak sekitar 200 meter utara stasiun. Beberapa kilometer ke selatan, Stasiun Blabak akan hilang tak bersisa. Stasiun pulau yang memiliki emplasemen timbangan ini dimakan oleh pelebaran jalan. Termasuk dua buah wesel terlayan setempat yang terletak di selatan stasiun.

Dengan hilangnya situs itu, maka hanya sedikit tersisa jejak perkeretaapian yang ada di sekitar Magelang. Bekas Stasiun Secang, Payaman dan beberapa bangunan hikmat saja. Sisanya, hilang tak berbekas, atau beralih fungsi.

Semoga rencana Ditjen Perkeretaapian untuk menghidupkan kembali jalur mati di berbagai wilayah dapat terealisasi, meski tubuh baan tidak berada di jalur yang ada semula, menggunakan track baru. Maju terus kereta api Indonesia ......

Foto: Kang Bas (keretapi@yahoogroups.com)

Selasa, 17 Februari 2009

Pertamina versus DPR, Potret Anggota Dewan

Pagi-pagi, sebelum kerja, seperti biasa sempatin buat buka beberapa situs berita. Ternyata pagi ini ada berita ribut antara Komisi VII dengan Pertamina. Maklum aja, kalangan profesional di bidangnya harus beradu pendapat dengan para wrong man in the wrong place, jadinya nggak nyambung.

Menurut kabar yang beredar, hal ini dipicu karena adanya surat corporate secretary Pertamina yang merasa kecewa dengan tindakan anggota Komisi VII saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan direksi Pertamina pada Selasa, 10 Februari lalu, yang tidak fokus pada pertanyaan mengenai kinerja, tapi justru menanyakan hal yang menurut manajemen Pertamina sudah ke luar dari substansi masalah. Surat ini dibalas dengan menyamakan Dirut Pertamina dengan Satpam.

Yah ... inilah risiko mengadakan rapat dengar pendapat dengan pihak yang tidak memiliki kompetensi. Di satu pihak menjelaskan gimana cara jualan minyak biar bisa untung besar, yang satu belajar mengenal warna, ya jelas aja nggak nyambung. Kalo orang negeri seberang, wrong man in the wrong place. Orang kagak ngerti bisnis minyak, disuruh ngawasin bisnis minyak. Parahnya, banyak ngawurnya daripada benernya. Wis ngawur, ngeyel sisan.

Inilah potret kebanyakan anggota dewan sekarang, gak ada isinya, yang dengan pedenya masih mau mengadu nasib di hajatan mencontreng massal 090409 nanti. Ngoceh kesana kemari sampai mulut berbusa, dengan dalih membela rakyat, entah rakyat mana yang dibela. Tapi hasilnya, tau deh ... banyak yang mana, yang nggak berguna atau yang berguna.

Bingung juga gimana kasih mereka pelajaran. Lha berurusan karo makhluk sing sok kuasa, lagipula kata orang, angel ngomong karo wong susah. Mungkin satu-satunya cara buat menghukum mereka dengan tidak mencontreng nama mereka di pemilu mendatang. Apakah langkah ini bisa tercapai, kita lihat saja nanti .....

---kayaknya udah pantes jadi anggota dpr, isa nggambleh ora karuan---

Selasa, 10 Februari 2009

Single? Kok Pusing?

Pas lagi bikin tulisan tentang pelesiran kemaren, tiba-tiba ada SMS masuk dari seorang teman. Nggak tahu sih ini masalah separah apa buat dia, tapi buatku nggak berat berat amat.

Singkatnya, si temen ini, Vero, barusan jadi single lagi, setelah sekian lama statusnya in a relationship. Apalagi di tanggal segini, katanya, buat anak muda, being single bisa menjadi "penderitaan" (edan ... sebegitu pentingnya arti 14 Februari???). Single bisa jadi gak dapet coklat, bunga, teddy bear, or sejenisnya. Dimana-mana terlihat young couples lagi jalan duaan, n kita jadi penonton aja.

Hmm ... nggak habis pikir baca curhat si Vero. Kayaknya dunia serasa runtuh kalo menjadi single. Nggak ada lagi yang antar & jemput tiap hari. Tiap weekend cuma bisa bengong di rumah nonton tv yang nggak jelas siarannya. Gak ada yang kasih kejutan di saat saat spesial. Dan yang bikin makin nyesek, kalo datang ke acara kawinan seseorang, datang sendirian. Segitu parahnya hidup dengan status single ... ???

Duh ... dimana Vero yang selama ini aku kenal. Yang doyan hunting foto dengan EOS 450Dnya. Suka traveling ala backpacker naik kereta. Kesana kemari selalu nyepedah dengan MTBnya. Kok yang ada malah Vero yang suka mengurung diri di kamar.

Daripada pusing mikirin status single, masih banyak yang bisa dilakuin kok. Maen ke kota tua Jakarta kaya kemaren, joyride KRDE Baraya Geulis BD - CCL - BD - PDL - BD, nyepeda keliling Bandung, jalan-jalan ke sejumlah museum di Bandung, hunting foto, n seabrek kegiatan lainnya.

Pokoknya jalanin aja hidup ini. Lagian kata orang pinter, nggak semua yang kau inginkan akan kau dapatkan, tetapi bersyukurlah atas apa yang telah engkau peroleh. Santai aja coy, hidup itu indah kok, tergantung dari sisi mana kita melihat.

Tetap semangat!!!

---dedicated to Vero---

Senin, 09 Februari 2009

Pelesiran 070209

Akhirnya jadi juga liburan. Awalnya sih banyak yang mau ikutan, tapi entah kenapa banyak yang pada batal. Termasuk Luke & May, yang katanya mau latihan buat prewedding photo di kota tua, batal di detik-detik terakhir.

Berhubung telanjur bikin janji mau main bareng Dini & Uyo, mau nggak mau, berangkat sendirian. Diputuskan berangkat naik KA 53, Parahyangan jam 0500, dengan pertimbangan lebih pagi sampai di Gambir, akan lebih mudah mengatur rencana berikutnya. Sesampai di Gambir, perjalanan disambung dengan KRL AC Ekonomi Bekasi menuju Jakarta Kota.

Sesampai di kota, Dini & Uyo udah nunggu di lapangan depan Museum Sejarah Jakarta. Ternyata di sana rame anak-anak singkong yang diangon gurunya maen ke sana, study tour maksudnya .... Tujuan pertama, Museum Sejarah Jakarta. Berhubung niatnya cuma mau main n foto-foto aja, nggak gitu perhatiin koleksinya. Nyesel juga sih pada akhirnya, kenapa nggak lihat2 koleksi museum dengan tiket IDR 2K per orang ini. Satu-satunya yang menarik perhatian, ada sepasang calon pengantin sedang mengambil foto prewedding di sana, duduk di meriam si jagur. Rumor yang beredar, itu meriam bisa bikin bunting orang yang mendudukinya, soal bener nggaknya, bisa dicoba ....

Target berikutnya, Museum Bank Indonesia. Untuk masuk ke museum ini nggak dipungut biaya, alias gratis. Hanya saja ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi, seperti nggak boleh menggunakan lampu kilat di beberapa ruangan. Kita cuma ngikutin alurnya aja sih, sambil foto2 aja .... Emang tujuannya nggak cari ilmu, tapi cuma seneng2 aja.

Kelar dari museum BI, kita makan. Rencana berikutnya, museum keramik. Begitu sampai sana, kita nggak jadi masuk, habisnya nggak boleh bawa kamera masuk. Batal di museum keramik, akhirnya kita beralih ke museum wayang.

Ternyata, museum yang dulunya gereja ini masih dalam tahap renovasi. Koleksi yang cukup menarik di museum ini, salah satunya koleksi boneka unyil. Bagian belakang museum ini cukup menarik perhatian. Ternyata petinggi VOC pernah dimakamkan di halaman belakang, sebelum dipindahkan ke Tanah Abang.

Puas di museum wayang, langsung ke Gambir, buat ngejar KA 62. Satu hal yang sangat disesali, mengapa nggak naik KRL aja ke Gambir/Jatinegara. Keputusan naik TransJakarta ke Harmoni, overstappen ke koridor Pulogadung ternyata salah besar. Perjalanan yang sangat jauh dari nyaman. Jauh lebih nyaman uyel-uyelan di KRL ekonomi, daripada pepanas di halte transjakarta.

Sampai di Gambir, langsung cari tiket KA 62. Ternyata masih dapat tiket duduk. Pikir-pikir, kok kayaknya lebih enak di bordes. Seat 17D dilepas begitu saja, pindah ke bordes. Tau deh, akhirnya seat 17D diambil siapa. Akhirnya KA 62 sampai Bandung jam 1942, agak telat dari jadwal yang seharusnya tiba jam 1924.

Meski cuma main-main ke beberapa museum di kawasan kota tua Jakarta, paling nggak udah tau tempat alternatif buat maen, kalo lagi sumpek. Lain kali, main ke sana lagi, tapi bener-bener cari ilmu, bukan kaya kemaren, main plus foto nggak jelas. Nggak rugi deh main bareng kalian. Pokonya kalo mau main lagi, dikabarin lagi, biar makin rame .....

Kamis, 05 Februari 2009

Sisi Lain Kekacauan 03 Februari 2009

Sore, 030209, menjelang bubaran kantor, seperti biasa nonton berita di tv. Salah satu stasiun televisi menayangkan demo pembentukan Propinsi Tapanuli di DPRD Sumut yang berakhir ricuh. Kericuhan ini mengakibatkan Ketua DPRD Sumut, Abdul Azis Angkat meninggal dunia. Bukan hanya itu saja, kekacauan tersebut mengakibatkan sejumlah perwira polisi dicopot dari jabatannya.

Seorang ketua DPRD harus meregang nyawa di tengah kekacauan demonstrasi. Boleh dibilang, beliau meninggal dalam tugasnya, memperjuangkan aspirasi rakyat, entah rakyat mana yang belau perjuangkan. Idealnya memang seperti ini perjuangan seorang politikus, berjuang hingga ajal menjemput. Bukan dalam jangka pendek, 5 tahun, setelah itu selesai.

Di sisi lain, ini suatu peringatan keras buat para calon wakil rakyat yang akan maju dalam pemilu legislatif 2009. Bukannya tidak mungkin, hal ini akan terjadi pada mereka yang terpilih dalam pemilu mendatang. Mereka bisa mati konyol digebuki rakyatnya di tengah demonstrasi, apabila mereka tidak sanggup memenuhi janjinya. Rakyat yang telah dijanjikan ini itu, tidak mustahil habis kesabarannya. Ketika kesabaran habis, logika sudah tumpul, maka emosi yang bicara.

Ironis memang. Ketika keran kebebasan berpendapat dibuka, bukannya beradu pendapat dengan sehat, yang ada malah emosi yang bicara. Contoh terbaru, kerusuhan 030209 di Medan. Bisa dibilang, kita menuntut demokrasi, tapi kita belum siap menerima akibat-akibatnya. Satu pembelaan yang diberikan hanyalah jumlah penduduk kita sangat banyak, dan pikirannya berbeda-beda, mustahil untuk memuaskan semua orang. Intinya tidak sanggup menerima perbedaan yang ada. Yang ada hanyalah mencoba menyeragamkan perbedaan yang ada, tanpa mau mengakui adanya perbedaan.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan sampai saat ini, apakah para caleg yang fotonya terpampang dimana-mana siap untuk memperjuangkan aspirasi rakyat sampai titik darah penghabisan, atau siap mati konyol dikeroyok rakyat yang lelah menanti realisasi janjinya. Kita tunggu saja ....

Salam damai!!!

edan ... bisa nulis kaya gini .....

Kamis, 29 Januari 2009

Satu Aja Susah, Apalagi Seratus .....

Pas melihat panasnya jagad perpolitikan menjelang kegiatan mencontreng massal 9 April 2009, seorang teman mengirim sebuah joke berbau politik. Sebenernya sih joke lama, tapi lumayan buat ketawa, sedikit mengurangi panasnya jagad perpolitikan negeri ini yang makin kacrut. Berikut kutipan emailnya

-----
Ceritanya, di awal tahun 2001, seorang praktisi teknologi, sebut saja namanya Cahyo, menawarkan bantuannya untuk memasang akses internet di istana negara. Om Cahyo mengklaim bahwa akses internet yang ia tawarkan memiliki kecepatan 100 Mbps. Tanpa membuang waktu lama, Om Cahyo memasukkan proposalnya ke setneg.

Setelah melewati berbagai tahapan seleksi dan birokrasi, sampailah proposal itu ke tangan Presiden. Tidak lama kemudian, Om Cahyo dipanggil langsung oleh Presiden, untuk audiensi mengenai penawaran bantuan tersebut. Hal ini dipandang perlu, mengingat Om Cahyo banyak menggunakan istilah-istilah teknis, yang mana Presiden sama sekali nggak ngerti.

Ketika membahas kecepatan akses 100 Mbps, Presiden bertanya kepada praktisi teknologi kita ini, "Pak Cahyo, apa maksudnya 100 Mbps ini?"

Jawab Om Cahyo dengan bangga, "Itu kecepatan akses Pak Presiden, artinya 100 Mega per detik, paling hebat untuk saat ini."

Bukannya senang dengan jawaban Om Cahyo, Presiden tampak kecewa sambil menahan marah. Katanya, "Anda mau membunuh saya apa dengan kecepatan seperti itu??? Satu Mega saja sudah bikin saya pusing, malah Anda mau kasih saya 100, sedetik lagi!!!!"

Disclaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan peristiwa, tokoh ataupun cerita, hanyalah kebetulan semata yang tidak disengaja. Mohon maaf apabila ada pihak yang tidak berkenan, cerita ini hanya untuk keperluan hiburan semata. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang ....
-----

Asli, yang bikin kreatif juga. Bikin ngakak di tengah suasana politik yang nggak jelas, di mana yang satu nuduh yang lain mainan yoyo, dibalas mainan gangsingan. Di waktu lain, menari poco-poco, dilawan sama tarian lain, lupa namanya.

Pokoknya jangan tersinggung, jangan marah, hadapi semua dengan senyuman (ini tagline sekar :P) ....

Rabu, 21 Januari 2009

Kepancal Sepur

Menjelang libur Natal 2008 silam, sambil menunggu keberangkatan KA 78 Ekspres Malam Lodaya, aku bersama Dimas, Mave a.k.a. Dodo dan Fasta ngobrol di peron 4-5 stasiun Bandung.

Tepat jam 1900, KA 38 Eksekutif Turangga diberangkatkan dari sepur 1. Saat KA 38 sudah mulai berjalan, dari arah hall utara, beberapa orang berlari ke arah jalur 1 berusaha mengejar KA 38. Usaha yang sia-sia, bukannya berhenti kembali, tapi KA 38 malah terus berusaha menambah kecepatan. Kita berempat cuma bisa melihat mereka yang sedih campur kecewa karena kepancal sepur. Bisa jadi, acara liburan yang telah mereka rencanakan hancur begitu saja.

Kejadian semacam ini sih pernah juga aku alami, sekembali dari acara Napak Tilas Jakarta Kota-Tanjung Priok bersama Ario. Kita berdua ketinggalan KA 62 Ekspres Parahyangan karena KRL ekonomi Bekasi tertahan lama di Kemayoran. Akhirnya kita balik ke Bandung naik kereta berikutnya, KA 64F.

Memang, di setiap stasiun pemberangkatan telah dipampang jadwal keberangkatan kereta. KA nomor sekian relasi ABC-XYZ berangkat jam sekian. Soal kereta berangkat terlambat karena force majure itu masalah lain. Seharusnya kita bisa mengantisipasi bagaimana caranya agar tidak ketinggalan kereta. Katakanlah dengan datang ke stasiun sekurang-kurangnya 30 menit sebelum kereta diberangkatkan.

Melihat seseorang yang kepancal sepur membuatku terpikirkan dengan sesuatu. Dengan sesuatu yang telah dijadwalkan pun seseorang bisa menganggap remeh, toh masih ada kereta berikutnya. Tapi apa yang akan kita lakukan apabila kereta itu dijadwalkan melayani hanya sekali perjalanan dalam sehari? Mungkin kita menunggu kereta tersebut sampai hari berikutnya. Atau melanjutkan secara estafet, bila memungkinkan, meski konsekuensinya menghabiskan banyak energi dan waktu.

Mirip dengan jadwal keberangkatan kereta api, dalam hidup kita ada satu kereta yang hanya berangkat satu kali saja. Kereta ini mengantarkan kita pada keabadian. Hanya saja, kita tidak pernah tahu, kapan kereta ini akan diberangkatkan. Boleh dibilang keberangkatan kereta ini seperti pencuri di waktu malam, kita tidak akan tahu kapan dia datang. Dan kita telah diperintahkan untuk bersiap-siap, jika kereta ini sewaktu-waktu diberangkatkan di saat yang tidak pernah kita duga. Sekali kita ketinggalan kereta ini, hanya penyesalan tiada akhir yang kita dapatkan, karena tidak akan ada jadwal kereta berikutnya.

Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk perjalanan kereta yang menuju keabadian ini?

Makasih May buat sharingnya ....

Kamis, 15 Januari 2009

Ekstasi Palsu

Selepas jam kantor, seperti biasa ngobrol santai nggak jelas bin santai sambil nonton tv sama si bos. Berhubung jam setengah 6 acara yang paling masuk akal cuma berita, mau nggak mau berita dari berbagai stasiun yang ditonton.

Pas ada berita pengungkapan sindikat pemalsu dan pengedar ekstasi, tiba-tiba aja si bos komentar, "kalau sindikat pemalsu kaya gitu, dijerat pakai pasal apa ya?"

Seorang teman menjawab, "Jelas pake UU Narkotik dan Psikotropika dong pak .... Kan udah jelas-jelas ketahuan mengedarkan barang-barang golongan psikotropika"

Si bos gak mau kalah, "Itu bisa, kalau yang diedarkan memang barang psikotropika. Dia kan nggak mengedarkan ekstasi beneran. Dia kan cuma bikin ekstasi palsu, terus dia jual ke pengguna. Korbannya ya, yang kena tipu itu .... Harusnya sih kena pasal pemalsuan dan penipuan"

Hmm ... si bos kocak juga ini sore. Lumayan buat meredakan ketegangan habis seharian berkutat dengan angka2 yang nggak jelas, macam-macam kekacauan di ruangan, dan masalah yang nggak ada habisnya.

Yang masih jadi ganjalan, korban penipuan sindikat pemalsu ekstasi ini berani lapor polisi nggak, kalo dia pernah ditipu sama ini sindikat. Pengen beli ekstasi, tapi dikasih ekstasi palsu dari tepung .... Atau jangan-jangan sindikat ini terbongkar karena ada laporan dari korban ... bisa jadi

Rabu, 07 Januari 2009

Laporan Langsung Konflik Timur Tengah

Menjelang bubaran kantor, tadi pada nonton reportase langsung konflik Israel di salah satu stasiun televisi nasional. Ternyata itu siaran relay langsung dari Aljazeera. Dan kabarnya, itu tayangan langsung, bukan recorded.

Tiba-tiba teringat film "Live from Baghdad" Liputan CNN dari Baghdad di awal serangan pasukan koalisi ke Irak di era Perang Teluk 1991, melambungkan nama Peter Arnett sebagai wartawan perang. Konon, itu untuk pertama kalinya dilakukan liputan langsung dari belakang garis depan. Gak heran kalo ada yang bilang, Peter Arnett dan CNN membawa suasana medan perang ke rumah.

Hanya ada beberapa yang membedakan dengan liputan CNN. Liputan Aljazeera dilakukan di seputaran Gaza Strip yang dilakukan pada siang hari serta pihak yang bertikai berbeda pula.

Yah ... terlepas dari perang siapa lawan siapa dan rebutan apa, tetep aja yang jadi korban rakyat tak bersalah .....

Senin, 15 Desember 2008

Tempat Belanja dan Makan yang Enak di Bandung

Beberapa hari lalu, seorang teman kirim pesan singkat. Sebenernya sih pertanyaannya biasa aja. Cuma tanya di mana tempat belanja yang murah dan tempat makanan yang enak. Tapi buatku, ini pertanyaan yang kelewat susah dijawab. Atau, malah mungkin gak bisa jawab sama sekali.

Memang sih udah sejak Juni 2006 tinggal di Bandung. Tapi soal belanja baju or apparel lainnya di FO di Bandung, yang kata orang jadi tempat surga belanja, bisa dibilang hampir gak pernah. Pernah sekali ke FO, tapi cuma nganter adiknya si Tyas ke FO di seputaran Maulana Yusuf dan di dekat Trunojoyo.

Gak tau kenapa, bener-bener gak minat soal belanja kaya gitu. Apalagi ditanya barang yang murah di FO sebelah mana. Jawabnya gak tau. Tapi kalo ditanya tempat jual pakaian ada di mana, paling cuma bisa jawab di Martadinata a.k.a Riouw Straat; Juanda alias Dago Straat, sama di Setiabudi - Cihampelas. Selebihnya, soal barang bagus dan murah adanya di mana, gak tau.

Begitu juga soal tempat makan yang murah dan enak. Jawabnya tetap sama, gak tau. Paling-paling kalo tau, cuma ada di beberapa tempat. Itu juga karena diajak maen sama temen-temen PPGKJ. Kalo gak pernah diajak, ya mana tahu. Soal murah apa enak buat orang lain, relatif.

Emang sih, beberapa waktu lalu sempat beli buku "Jendela Bandung; Pengalaman Bersama Kompas" yang mengupas seluk-beluk Parijs van Java, tapi tetep aja nggak membantu buatku. Soalnya bener-bener gak selera buat belanja dan berburu makanan yang unik. Paling-paling cuma buat tahu tempatnya aja, kali aja ada yang tanya. Kalo cuma jadi guide ke sana boleh lah, tapi nggak bisa kasih referensi harus ke mana yang dituju.

Banyak yang bilang aneh, parah, dan 1001 sumpah serapah lainnya, tapi sebodo amat. Emang udah setelan dari sana, gak selera sama yang gituan. Pokoknya yang tanya soal tempat makan sama belanja di Bandung, siap-siap kecewa aja. Habis, jawabnya pasti gak tau. Mendingan tentuin dulu mau kemana, baru bisa diantar. Itu juga kudu liat primbon dulu. Kalo gak ada primbon, dijamin jawaban tidak memuaskan.

Jadi, mau belanja dan makan di mana?

Rabu, 26 November 2008

Melihat dari Sisi Lain

Selasa, 251108, menjelang balik, ada pengumuman pencabutan liburan. Sial!!! Ternyata ini orang yang bikin keputusan lebih kejam dari Kapten Herbert M. Sobel, C.O. Easy Company, 506th P.I.R, 101st Airborne Division. Liburan akhir pekan selama Desember dicabut, tanpa kecuali. Kepikiran juga sih buat A.W.O.L. Tapi setelah dipikir-pikir, jadi desertir risikonya cukup besar. Bakalan repot kalo ketahuan desersi dan berurusan sama "Internal Affair".

Rabu, 261108, masih gondok karena liburan dicabut oleh "Sobel", ada sms masuk dari My Luply Sistah. Cukup memberikan harapan sih .... Tapi tetep aja masih sebel. Travel itinerary yang udah disusun, kacau balau. Tiket yang sudah dibeli in advance terancam hangus. Kalaupun dibatalkan, cancelation feenya lumayan juga. Memundurkan jadwal keberangkatan, belum masuk pilihan.

Setelah pikirian agak tenang, mulai terpikir buat rescheduling liburan. Hmm ... ternyata si "Sobel" ini memberikan sesuatu yang istimewa. Karena libur dicabut, bisa ikutan maen bareng PP. Konsekuensinya, trip 051208 - 081208 dibatalkan. Biar nggak terlalu banyak duit yang ilang, tiket di refund, meski cancelation feenya cukup mencekik leher. Sementara tiket tanggal 081208, direschedule ke tanggal 040109. Satu masalah selesai.

Masalah berikutnya, trip 191208 dimundurkan sehari, karena "perampasan" liburan tanggal 201208. Apa yang bisa dilakukan setelah tanggal keberangkatan dimundurkan sehari, menjadi pertanyaan berikutnya. Setelah tanya sana-sini, ternyata di tanggal 191208 ada perayaan Natal di GKJB. What a coincidence!!! Hanya dengan memundurkan jadwal sehari, semua urusan terselesaikan. Urusan kerjaan kelar, bisa dateng pas natal GKJ, pelesiran jalan terus.

Wew ... ternyata semua masalah bisa diselesaikan dengan sederhana. Kuncinya, hanya mau melihat masalah tersebut dari sisi lain.

Salam ....

Senin, 20 Oktober 2008

Jika Aku Menjadi ....

Sebelum kembali ke BD naik KA 77, iseng-iseng nonton acara di sebuah stasiun TV. Judulnya "Jika Aku Menjadi ...." Kalo yang kemaren sih ceritanya menjadi petani tembakau di Temanggung.

Dasar edan sepur, tiba-tiba kepikiran, gimana kalau tema yang diangkat berhubungan sama sepur, menjadi masinis. Bakal dikasih nggak ya? Mungkin nggak ya ... terlalu besar risikonya. Paling kalo dikasih, ya jadi asisten stoker. Dan jalan di lintas, paling lintas cabang, atau KRD lokal. Minimal bawa langsiran deh. Tapi kalau dikasih, pengalaman tak terlupakan buat kaum edan sepur. Kapan lagi bisa cabriding legal.

Kalo nggak bawa lok, ya jadi baan schouwer alias JPJ. Lumayan sehat, jalan-jalan sepetak sambil bawa satu set kunci. Kalo dari BD ke Ciroyom sih enteng, coba ke arah Cikudapateuh, pasti seru .... Yang penting masih berhubungan dengan sepur.

Mentok, jadi tukang cuci kereta, sekaligus ngisi air buat toilet kereta. Yang ini pake acara panjat kereta segala, sambil main air. Kalo yang beginian lebih mungkin dikasih, daripada yang diatas. Paling kecil risikonya, dibanding jadi asisten stoker atau baan schouwer. Paling parah jatuh dari atap kereta.

Sayangnya, ini acara hanya untuk WANITA!!! Yang edan sepur kaya Rizz atau Wulan, boleh dicoba tuh buat daftar, sapa tau kesampaian buat bawa lok CC, terlebih si cepek (CC 201 100).

-----semboyan 21------