Halaman

Waktu menunjukkan

Pencarian

Minggu, 24 Januari 2010

Sulitnya Memarkir Sepeda di Mal

Malang benar nasib pesepeda di Kota Bandung. Di jalanan, mereka harus bertarung dengan sepeda motor, mobil, truk, bahkan bus. Upaya mereka menjaga kesehatan sekaligus mengurangi polusi justru harus dibayar dengan asap kendaraan yang terhirup selama di perjalanan. Begitu sampai tujuan, pesepeda masih dibuat pusing mencari tempat parkir.

Kalau pusat perbelanjaan (mal) menjadi tujuan wisata favorit bagi warga Kota Bandung pada umumnya, tidak demikian bagi pesepeda. Ke mal berarti harus menyiapkan diri ditolak oleh petugas parkir.


Seperti yang dialami oleh Dewi Gilang Kurnia (36), salah seorang pesepeda asal Bandung. Suatu sore akhir pekan lalu, ia bersama teman-teman sesama pencinta sepeda berkunjung ke mal di Jln. Sukajadi Kota Bandung. Setelah melewati kemacetan di depan mal, sampailah iring-iringan sepeda yang terdiri atas tujuh orang itu di pintu masuk pelataran parkir mal itu.

Melihat iring-iringan sepeda hendak masuk ke pelataran parkir, seorang petugas dari arah dalam mendatangi mereka. ”Sepeda tidak boleh masuk,” katanya. Alasannya, pelataran parkir itu hanya untuk mobil.

”Kalau mau di tempat parkir sepeda motor,” ucap petugas itu.

Itu bukan pilihan yang lebih baik. Tempat parkir sepeda motor di sana bentuknya seperti kotak yang ditumpuk-tumpuk. Akses masuknya tidak dibuat melingkar, tetapi berupa tanjakan-tanjakan berbentuk zig-zag. Bukan jalur yang ramah untuk sepeda.

Gagal tawar-menawar dengan petugas, Dewi dan teman-temannya mengalah. Mereka kemudian menuju ke tempat parkir di pelataran salah satu toko yang terletak di seberang mal itu.

”Maaf Teh, tidak bisa buat sepeda. Enggak ada tempatnya,” kata si juru parkir.

Melihat ada tempat yang masih kosong dan cukup untuk sepeda, salah seorang mengatakan, ”Di situ kan bisa. Kita bayar kok, sama seperti sepeda motor.”

”Bukan soal bayarnya Teh, kalau ada motor nanti ditaruh mana,” kata si juru parkir lagi.

”Heran ya tidak dianggap sekali sepeda,” kata yang lain dengan nada jengkel.

Akhirnya iring-iringan menuju ke tempat parkir di sebelahnya. Setelah mengatakan bersedia membayar tarif parkir seperti sepeda motor, juru parkir mengiyakan rombongan tersebut memarkir sepeda mereka.

Mencari tempat parkir bukan urusan mudah bagi pesepeda, apalagi di mal. ”Aku sudah lumayan pernah nyobain semua mal kecuali yang di daerah selatan. Hanya di BEC (Bandung Electronic Centre) yang ada parkir sepedanya. Di Istana Plaza lumayan enak juga, boleh didorong sampai ke dalam,” katanya.

Ada mal yang memperbolehkan pesepeda merantai sepedanya di pagar mal, seperti di Bandung Trade Centre (BTC) Kota Bandung. Bagi pemilik sepeda lipat, beberapa mal ada yang memperbolehkan membawa sepeda yang sudah terlipat masuk ke dalam, tetapi ada juga yang melarang. Yang paling sering, menitipkan sepeda kepada satpam dengan imbalan sukarela.

”Kita sering dikira tidak mau membayar. Padahal kita tidak masalah, asalkan sepeda kita terparkir dengan baik, aman dan terlindungi,” katanya.

**

Ketua Bike to Work (B2W) Bandung Satiya Adi Wasana mengakui, sejauh ini belum banyak mal yang bersahabat dengan sepeda. Bahkan, ada anggota yang kehilangan sepedanya saat diparkir di sebuah mal.

”Kita pernah mengadakan kegiatan yang finisnya di mal. Itu harus berdebat panjang dulu untuk mengizinkan sepeda bisa masuk ke areanya, awalnya tidak boleh karena khawatir lantainya rusak,” katanya.

Soal keberpihakan kepada pesepeda, mal-mal di Kota Bandung tergolong tertinggal dengan yang ada di Jakarta. Mal-mal mewah di sana sudah menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda.

”Sekarang kan komunitas sepeda jumlahnya semakin banyak, seharusnya mal juga mulai berwawasan lingkungan,” katanya berharap. Idealnya, tempat parkir sepeda memberikan ruang yang cukup sehingga sepeda bisa tegak berdiri, mempunyai penjepit untuk mengunci sepeda, terlindungi dari hujan dan panas.

Di luar negeri, sepeda justru mendapat tempat parkir yang paling dekat dengan bangunan mal. Justru mobil yang lebih sulit mencari parkir.

Di Bandung, hanya Bandung Electronic Centre (BEC) yang menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda. Pesepeda bisa meletakkan sepedanya di penjepit yang sudah disediakan. Saat ini sudah ada dua lokasi yang masing-masing cukup untuk delapan sepeda. Dalam waktu dekat akan ditambah satu lokasi lagi.

Tempatnya berdekatan dengan tempat parkir mobil untuk wanita. Letaknya tidak menyulitkan karena berada di lantai yang sama dengan pintu masuk. Tidak perlu khawatir dengan tanjakan. Gratis pula!

”Kami tidak rugi sama sekali. Kebijakan ini memang bukan untuk cari untung. Tinggal memanfaatkan titik-titik yang bisa dipakai. Mereka yang datang ke sini dengan sepeda berarti sudah ikut peduli lingkungan,” kata Zemary, salah seorang staf manajemen BEC.

Rupanya projek sosial itu malah mendatangkan keuntungan. Banyak kegiatan berwawasan lingkungan yang dilaksanakan di sana. Tidak hanya pesepeda, komunitas pegiat lingkungan seperti menemukan ”rumah”. Jadi, kenapa harus takut rugi? (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***

sumber: Pikiran Rakyat, 24 Januari 2010

Sabtu, 16 Januari 2010

Evil Strikes Back?

Aaargh .... kenapa sih itu orang harus muncul lagi? Apa belum puas dengan segala yang sudah dilakukan selama ini? Kenapa nggak biarin kita hidup apa adanya? Kita hidup di dunia masing-masing, tak elok lah kita saling ganggu.

Memang, dulu kita pernah hidup dalam satu lingkaran, cuma sebatas berteman saja, tidak lebih. Tapi dunia kita sudah berbeda sekarang. Aku menikmati duniaku sendiri, dan engkau ada di dunia lain. Aku sudah nggak ambil pusing lagi dengan duniamu. Biarlah kau menikmati duniamu, tapi jangan ganggu kami lagi dengan segala perbuatan anehmu.

Maaf, untuk sementara aku terpaksa membekukan hubungan diplomatik, sampai batas waktu yang belum ditentukan. Mungkin ini yang bisa aku lakukan saat ini, sampai segala sesuatunya normal kembali. Entah kapan itu akan terjadi ....


np: Queen - Love of my Life
#buat yang ngerasa aja

Senin, 11 Januari 2010

Sepedahan ke Kantor: Parkir dan Kamar Mandi

Mungkin ini yang menjadi masalah kalau ingin bersepeda ke kantor. Masalah parkir dan kamar mandi. Terkadang gara-gara kedua masalah ini, orang jadi batal bersepeda ke kantor. Malah jadi ribet katanya. Padahal buat saya, kedua hal itu nggak begitu jadi masalah, setidaknya sampai saat ini.

Masalah pertama pasti soal parkir. Kalo gak pengen diribetin sama parkir, mendingan bawa sepeda lipat, bisa disimpan di kolong meja. Solusi yang tidak sesederhana pengucapannya, karena sekarang sudah ada si kuning. Kalau beli sepeda lipat, mau nggak mau cuma satu aja yang dipakai, sedang yang satunya bakal lebih sering nganggur. Akhirnya diambil keputusan, parkirnya ikut berdesakan di parkir motor, dengan merantai top tube ke sebuah tiang. Masalah pertama beres.

Beralih ke masalah kedua, mandi setelah gowes ke kantor. Memang sih ada beberapa gedung yang tidak menyediakan kamar mandi, tapi tetap aja banyak solusinya. Mulai dari numpang mandi di kamar mandi satpam sampai mandi pakai tisu basah aja, yang penting badan nggak bau. Bisa juga sih mandi dulu sebelum gowes, tapi sampai kantor, badan udah kucel, apalagi di perjalanan pakai main bebek-bebekan segala. Yang ada malah badan tambah kotor. Untunglah, sampai sekarang masih bisa mandi di kantor ... nggak tau deh kalo ada suara miring segala soal acara mandi di kantor .... Kalo emang udah nggak boleh, ya dengan mandi tisu basah deh ....

Semoga aja masih bisa kaya gini seterusnya ... biar sepedahan ke kantor makin seru.

Rabu, 06 Januari 2010

Elektrifikasi Magelang

Mungkin bagi sebagian warga Magelang tidak mengetahui di mana lokasi prasasti bertuliskan "MAART 1924 ELECTRIFICATIE MAGELANG". Tetapi ketika melihat gambar monumen seluruhnya, pasti semua mengenali letak dari monumen ini. Ya, monumen ini terletak di ujung Jl. Jenderal A. Yani dan Jl. Alun-Alun Selatan.

Secara literal, prasasti tersebut seolah-olah mengatakan, listrik pertama kali dialirkan masuk Kota Magelang, (mungkin masa itu masih bernama Gementee Magelang) pada bulan Maret 1924. Saya katakan seolah-olah, karena memang saya tidak menemukan sumber yang akurat, setidaknya sampai saat ini.

Kalau melihat perubahan terhadap monumen ini melalui beberapa foto yang ada di monumen ini, ternyata monumen ini telah mengalami perubahan bentuk. Pada dua foto berwarna yang diambil pada tahun 2009, hanya selang waktu beberapa bulan saja, tampak jam di puncak menara telah dilepas. Dan ketika melihat foto yang lebih tua, terlihat sangat jelas, monumen ini lebih tinggi dan lebih runcing puncaknya.

Sampai sekarang, saya tidak tahu, apakah ada keterangan yang lebih rinci tentang monumen ini. Saya ragu, kalau di lingkungan Pemerintah Kota Magelang, ada yang tahu persis tentang monumen ini. Tahu persis dalam artian tidak dilengkapi dengan bumbu "katanya" yang malah mengaburkan cerita aslinya.

Semoga saja Pemerintah Kota Magelang melalui dinas terkait lebih peduli dengan monumen ini, karena saya yakin, Gementee Magelang dulu membangun monumen ini pasti ada tujuannya. Dengan terpeliharanya monumen ini, semoga saja salah satu saksi bisu perkembangan Magelang tidak dikorbankan dengan berbagai macam alasan.

Selasa, 05 Januari 2010

Aquarius Dago Tutup?

Kaget juga sih pas baca kalau Aquarius Dago ditutup. Emang sih, tahunya udah agak lama, pas baca Pikiran Rakyat tanggal 03 Januari 2010. Di web Pikiran Rakyat tertulis, Aquarius Dago tutup per tanggal 26 Desember 2009. Ada yang kasih kabar pindah ke Sheraton, tapi nggak tahu deh. Kalo bener, bakalan jauh bener deh kalo mau kesana.

Aku sendiri baru beberapa kali kesana. Tiap kali kesana, selalu lebih banyak yang jaga daripada pengunjungnya alias sepi selalu. Pas pertama kali kesana, nemuin beberapa CD yang dicari, langsung deh diborong.

Tetapi yang paling berkesan, pas nemuin CD Dave Koz: At The Movies di tempat ini. Entah udah cari di berbagai toko di Bandung, nggak dapat juga. Eh, malah ketemu di tempat ini, mana stoknya masih ada lebih pula.

Tapi masih ada yang belum kesampaian, pengen beli CD David Foster. Pernah liat ada di sini, tapi pas gak ada duit. Rencananya pas awal tahun ini mau kesana, malah Aquarius tutup duluan.

Semoga aja kabar pindahnya beneran. Meski jadi makin jauh, tapi tetep ada. Kalo tutup beneran, bakal makin susah deh cari CD yang keren ....

photo courtesy:
Aquarius Dago: http://shw.emilya7282.fotopages.com/14533037/Ni-toko-aquarius-CD-tempat-aku-borong-CD-pesanan-App.html
Dave Koz - At The Movies: http://www.pitchperfectreviews.net/wp-content/uploads/2007/02/davekoz.JPG

Minggu, 03 Januari 2010

Tahu dan Tempe

Mengapa Tuhan menciptakan tahu dan tempe? Ternyata Dia ingin memberikan pilihan bagiku, memilih makanan yang aku sukai. Aku lebih memilih tahu daripada tempe. Kalau ada yang bilang, tempe lebih enak dari tahu, itu soal selera. Dan aku tidak pernah tidak mau memaksa dia untuk makan tahu.

Sayangnya, untuk soal tahu dan tempe, saat ini menjadi urusan yang benar-benar ribet. Ketika tahu dan tempe akan diseragamkan menjadi tempe, tanpa mau mengakui keberadaan tahu. Bagi yang suka tahu, dipaksa makan tempe, atau tidak makan sama sekali. Bahkan kalau perlu, tahu disebut sebagai tempe.

Ooh ... alangkah indahnya kalau masih bisa memilih tahu atau tempe. Masa soal selera masih harus diseragamkan. Bagi yang suka tahu, ndak usah maksa yang suka tempe buat makan tahu. Yang suka makan tempe, jangan gangguin yang suka makan tahu.

Gitu aja kok repot ....

Sabtu, 02 Januari 2010

Tuhan Itu Bodoh?

"Kalau Tuhan menginginkan kita sama, mengapa Dia menciptakan kita berbeda?"

Ini pertanyaan yang belum aku temukan jawabnya. Memang, ada yang bilang, ada beberapa pertanyaan yang memang tidak dapat terjawab oleh akal manusia. Tetatpi bagiku ini jadi satu pertanyaan yang harus terjawab.

Ketika ada sekelompok orang bebal - paling tidak bebal menurut ukuranku - mencoba menyeragamkan semua perbedaan yang ada, dengan alasan keseragaman itu dikehendaki oleh tuhan - entah tuhan yang mana - , pertanyaan ini semakin terngiang di telingaku. Ya, mengapa Tuhan mengijinkan ada perbedaan, kalau Dia menginginkan persamaan.

Ketika aku berusaha mengerti apa isi otak orang-orang bebal itu, aku mendapati tuhan orang bebal itu tuhan yang bodoh. Ya, tuhan yang bodoh. Kalau tuhan menghendaki keseragaman, mengapa dia mengijinkan perbedaan ada? Bukankah tuhan itu maha pencipta? Menjadi semacam paradoks, apabila tuhan menciptakan perbedaan tapi menghendaki keseragaman. Kalau memang tuhan menginginkan keseragaman, apa susahnya bagi dia menciptakan semuannya sama persis, identik, toh dia maha pencipta.

Ya, aku telah belajar cukup banyak. Bagiku Tuhan itu Maha Pandai. Aku tahu, Dia menciptakan perbedaan untuk saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Mengapa Tuhan menciptakan siang dan malam? Mengapa laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda? Dan beribu-ribu mengapa yang satu berbeda dengan yang lain. Semua perbedaan yang ada itu untuk saling melengkapi, bukan saling menghilangkan.

Seperti lirik lagu "Sekitar Kita", selama dunia masih berputar, perbedaan tak pernah pudar. Ketika kita meniadakan perbedaan, sama saja kita menghentikan putaran dunia ini. Tuhan telah kita kerdilkan dengan menolak semua perbedaan yang ada. Sekarang tinggal bagaimana sikap kita, apakah mengakui dan menerima perbedaan yang ada, atau menolak dan meniadakan perbedaan? Terserah anda ....

Trio Plaza

Bukannya saya iri apa bagaimana, cuma bertanya-tanya saja, apa ada yang salah dengan kota ini. Mungkin bagi yang lebih tahu bisa memberikan pencerahan.

Saya pengen tahu, sebenarnya apa sih syarat penerbitan HO (hinder ordonantie) alias ijin gangguan bagi pertokoan. Apakah lahan parkir juga menjadi salah satu syarat?

Heran aja sih sama Trio Plaza, yang sejak mulai operasionalnya hingga sekarang, belum memiliki areal parkir. Lahan parkir pengunjung hanyalah parkir on street, alias pinggir jalan. Memang sih, jalan di depannya bukan kelas jalan protokol, tapi tetap saja jalan umum.

Sekarang tinggal menanti saja penjelasan dari pihak yang berwenang, apakah parkir on street semacam itu dianggap tidak mengganggu kepentingan masyarakat yang lebih luas. Semoga celotehan saya ini bisa menjadikan Magelang yang lebih baik.

Jumat, 01 Januari 2010

Sampah

Seperti biasa, setelah ada acara yang melibatkan massa dalam jumlah besar, sampah berserakan di mana-mana. Kalau sudah begitu, saatnya petugas kebersihan memberesi sisa-sisa hajatan akbar.

Entah apa yang salah, kok selalu sampah bertebaran seperti itu. Apakah kita terbiasa membuang sampah sembarangan? Atau memang tempat sampah yang disediakan jumlahnya kurang? Atau keduanya? Entahlah ....

Rabu, 30 Desember 2009

Pacaran dan Telepon

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang bertanya, ada gak sih korelasinya antara pacaran sama kenaikan biaya telpon? Hmm ... pertanyaan yang lumayan menarik untuk dibahas ... hehehe.

Kalau ditarik ke belakang, kira-kira lima sampai enam tahun ke belakang, mungkin pernyataan tersebut ada benarnya. Terlebih lagi, harus menjalani hubungan jarak jauh. Mau nggak mau, harus memerlukan usaha ekstra untuk menjalin hubungan.

Di masa itu, memang tarif GSM belum semurah sekarang. Jaringan CDMA belum seluas seperti saat ini, dan pemilik handsetnya juga tidak sebanyak sekarang. Mau menggunakan layanan pesan instan, kualitas dan biaya koneksi belum begitu memuaskan. Pakai PSTN, makin nggak nahan biayanya. Kalau kata orang, cintaku berat di ongkos.

Peribahasa "jer basuki mawa bea" tetep berlaku juga buat urusan yang satu ini. Gimana bisa terjalin hubungan yang baik bila nggak pernah ada komunikasi, dan untuk berkomunikasi pun ada harga yang harus dibayar.

Kembali ke inti masalahnya, bener gak sih ada pengaruhnya dengan kenaikan biaya telpon, semua tergantung yang jalanin. Yang jelas, ada kenaikan biaya atau tidak, komunikasi harus dijalin dengan baik.

Makasih buat Joel atas curcolnya ... hehehe ... God bless you bro ....

Selasa, 29 Desember 2009

My Way

Ketika masalah hanya dijawab dengan nggak tahu
Ketika setiap usaha damai
tidak ditanggapi dengan baik
Ketika semua janji
tidak dapat ditagih
Ketika setiap pengorbanan
dianggap kebodohan

Dengan sangat terpaksa

perlu diambil tindakan

dengan caraku sendiri

I did it, my way
... .

np: Frank Sinatra - My Way

Tol Trans Jawa

Pas baca Kompas Jawa Tengah 291209 , ada sepotong artikel tentang rencana Jalan Tol Trans Jawa. Menurut artikel itu, trase jalan tol membentang dari Kanci - Pejagan - Pemalang - Batang - Semarang - Solo - Mantingan sepanjang 319 ,60 km.

Masih menurut artikel tersebut, jalan tol tersebut akan merangsang perekonomian sekitar jalan tol berupa peluang investasi seperti SPBU dan rest area dengan restoran dan pusat perbelanjaan. Belum lagi sektor usaha lain seperti rumah sakit, perumahan, hotel, tempat rekreasi, pertokoan dan kawasan industri.

Tampaknya aku kurang sependapat dengan hal ini. Kalau melihat pembangunan tol Cikampek - Purwakarta - Padalarang, yang terjadi malah menyurutkan ekonomi di sepanjang jalur "klasik" Cikampek - Padalarang.

Kalau kita lihat dari sejarahnya, awalnya Purwakarta memang di luar jalur utama poros Jakarta - Bandung. Groote Postweg, atau Jalan Raya Pos yang dibangun melewati Bogor - Sukabumi - Cianjur, bukan Purwakarta. Setelah jalan raya pos tersebut menyusul jalur kereta api dibuka menuju Bandung.

Ketika jalur baru kereta api Jakarta - Bandung melalui Cikampek - Purwakarta, barulah Purwakarta mulai berkembang pesat. Setelah tol Jakarta - Cikampek dibangun, semakin ramailah lalu lintas Jakarta - Purwakarta - Bandung yang berdampak pada perkembangan ekonomi setempat. Kira-kira tahun 2005 mulai beroperasi tol Cikampek - Purwakarta - Padalarang, aktivitas ekonomi sepanjang jalur non tol menyurut. Meski di Purwakarta dibuat akses tol, tampaknya hal ini tidak terlalu membantu.

Kekhawatiran yang sama juga melingkupi dioperasikannya tol Trans Jawa. Apakah dampak semacam ini telah dipikirkan sebelumnya? Apakah tol ini akan membawa dampak positif atau negatif bagi masyarakat sekitar? Jangan sampai pembangunan tol yang mahal malah membawa dampak negatif bagi masyarakat. Semoga saja tol ini dapat bermanfaat bagi semua dan ada sinergi dengan sarana transportasi lainnya.

Senin, 28 Desember 2009

Penyimpangan

Belakangan ini baru deh pada heboh soal infotainment yang kebablasan. Begitu ramainya semua orang pada ikutan komentar. Sampai-sampai ada juga yang memfatwakan haram untuk soal yang satu ini.

Kalau nggak salah, persoalan ini jadi ramai gara-gara tweet yang mengutuk peliput infotainment. Karena yang mengutuk seorang pesohor, nggak heran kalau tanggapannya langsung memicu kontroversi, baik pro maupun kontra. Lain halnya kalau itu tweet dari orang biasa saja semacam saya, pasti saya dianggap lagi kesambet.

Kembali ke masalah infotainment yang kebablasan, mengapa baru sekarang dipermasalahkan? Mengapa tidak dari dulu dikoreksi ketika sudah ada tanda-tanda penyimpangan. Sekarang, ketika penyimpangannya sudah dianggap keterlaluan, baru semua angkat bicara. Dan semua berbuicara seolah-olah ahlinya.

Seandainya kesalahan ini dikoreksi ketika penyimpangan belum separah sekarang, mungkin tidak terlampau sulit. Ibarat mengoreksi heading yang melenceng beberapa derajat dari course, apabila segera disadari dan dikoreksi, tidak akan terlampau jauh deviasinya. Tetapi apabila didiamkan saja, course yang ditempuh akan jauh dari waypoint yang dituju.

Bagaimana perkembangannya ke depan, kita serahkan saja pada "ahlinya"

Senin, 30 November 2009

I Love You

"I Love You," itu kata-kata yang sering diucapkan seseorang kepada yang dikasihinya. Dengan kata lain, aku cinta padamu, aku tresno kowe, Ich liebe Dich, atau seribu satu ungkapan lain yang serupa. Entah kenapa, aku lebih sreg menggunakan kata "kasih" untuk padanan kata "love." Kalau ditanya kenapa, aku juga nggak tahu alasannya.

Ketika aku belajar tentang kasih, aku diingatkan bagaimana sifat-sifat kasih itu.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih tidak berkesudahan


Dan ketika aku belajar, sifat sifat itu harus dipenuhi semua, agar sesuatu itu dapat disebut kasih. Mana mungkin kasih yang sabar tetapi bersuka cita karena ketidakadilan. Atau tidak mungkin sesuatu yang mencari keuntungan diri sendiri itu disebut kasih.

Semakin dalam aku belajar tentang kasih, aku semakin mengerti, apapun yang aku lakukan, apabila tanpa kasih, semuanya tidak ada gunanya. Seperti ada lagu yang liriknya demikian

Andaikan aku lakukan yang luhur mulia
Jika tanpa kasih cinta hampa tak berguna


Yah ... mungkin saat ini aku belum dapat memberikan kasih yang sempurna. Aku masih harus terus belajar, bagaimana memberikan kasih yang sempurna, entah sampai kapan ....

@ KA 77, TSM
np: Franky Sihombing - When I Say That I Love You

Kamis, 19 November 2009

Untitled #2

"Nyesel pernah kenal sama kamu; dan lebih nyesel lagi, tahu kalo kamu itu ada"

Sebaris teks aneh, paling nggak menurutku, tiba tiba datang melalui layanan pesan instan. Nggak tahu kenapa dia sampai mengirim pesan semacam itu. Yang jelas pengirimnya merasa kecewa berat. Entah apa yang membuat kecewa sampai sebegitunya. Kalaupun itu pesan ditujukan buatku, seolah-olah, apa yang pernah kulakukan, dianggap nggak berarti.

Memang, kata orang bijak, kalau engkau pernah berbuat baik kepada seseorang, jangan pernah mengingatnya; tetapi apabila ada seseorang berbuat baik kepadamu, jangan pernah melupakannya. Kalau tidak, maka engkau akan menyesal.

Ketika dihadapkan pada masalah semacam itu, bener juga rupanya. Ketika kita mengingat semua apa yang pernah kita berikan kepada orang lain, dan ternyata orang lain itu tidak mengingatnya, yang kita rasakan hanya penyesalan. Kenapa sih kita masih memikirkan hal-hal yang telah kita berikan.

Kalau emang nyesel dan udah nggak mau kenal saya lagi, saya ndak mau ambil pusing. Itu hak anda kok. Biarkan dia jalan dengan pikirannya sendiri. Toh kita sudah sama-sama dewasa, tahu benar mana yang pantas dilakukan, mana yang nggak. Dan masing-masing kita punya dunia sendiri-sendiri, nggak baiklah kalo saling ganggu.

I'm just a poor boy, I need no symphathy. Because I'm easy come, easy go. Little high, little low. Anyway the wind blows, doesn't really matter to me, to me ....


np: Queen - Bohemian Rhapsody